Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Ahmadun YH: Penyair Dimuliakan dalam Islam

Ahad 10 Jun 2018 13:11 WIB

Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko

diskusi Sastra dan Islam di Rumah Seni Asnur, Ahad, (3/6) lalu

diskusi Sastra dan Islam di Rumah Seni Asnur, Ahad, (3/6) lalu

Foto: istimewa
Pada zaman jahiliyah puisi memiliki dua fungsi yakni pamor dan alat kekuasaan.

REPUBLIKA.CO.ID,  DEPOK -- Penyair merupakan satu-satunya “profesi” yang diabadikan sebagai judul sebuah surat dalam Alquran, yakni QS Asy-syu’ara (Para Penyair). Hal ini, menurut Ahmadun Yosi Herfanda, menandakan bahwa para penyair mendapat tempat khusus dan dianggap penting atau dimuliakan dalam Islam. “Pemuliaan itu ada pada  QS Asy-syuara ayat 227,” katanya.

Akan tetapi, tambah Ahmadun pada diskusi Sastra dan Islam di Rumah Seni Asnur, Ahad, (3/6) lalu, pada QS Asy-syu’ara ayat 224-227 tersebut Allah juga mengeritik keras para penyair jahiliyah yang mengikuti bisikan setan, mengembara dalam imajinasi yang sesat, dan diikuti oleh orang-orang yang sesat. Jadi, dalam Islam, penyair “dikutuk” sekaligus “dimuliakan”, karena ayat tersebut diakhiri dengan pembelaan terhadap para penyair yang beriman (para penyair muslim).

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali,” lanjut Ahmadun mengutip QS Asy-syu’ara ayat 227.

Nabi Muhammad, tambah pemimpim redaksi Portal Sastra Litera (www.litera.co.id), juga memuliakan para penyair muslim yang tampil sebagai “tandingan” penyair jahiliyah. Para penyair muslim, seperti Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawabah, Kabah bin Zuhair, Kabah bin Malik, dan Al Khansa binti Amru, bahkan menjadi sahabat Rasulullah dan sesekali diminta membuat puisi oleh Rasulullah untuk menandingi puisi jahiliyah. “Penyair perempuan, Al Khansa binti Amru, juga dekat dengan Rasulullah, sehingga disebut sebagai penyair Rasulullah. Begitu juga Hasan bin Tsabit,” katanya.

Diskusi yang dipandu Yahya Andi Saputra ini menampilkan tiga pembicara, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Sofyan RH Zaid, dan Sunu Wasono. Itu melengkapi acara Mimbar Puisi Ramadhan, yang diisi parade baca puisi dan peluncuran buku antologi puisi Malam Seribu Bulan. Para penyair yang tampil membaca puisi, antara lain  Budhi Setyawan, Chairil Gibran Ramadhan, Harris Cinamon, Mustafa Ismail, Willy Ana, Sam Muchtar Chaniago, Mohamad HM, Mohd Rosli Bakir, dan Ade Novi. Gebyar sastra Ramadhan di Rumah Seni Asnur berlangsung hingga 12 Juni.

Dua fungsi

Pada zaman jahiliyah, menurut Sofyan RH Zaid, puisi memiliki dua fungsi yakni sebagai alat untuk menaikkan pamor tokoh masyarakat dengan cara banyak menyebut namanya agar terkenal. Kedua, sebagai alat untuk menjilat.

“Rasulullah menyukai puisi atau syair yang mengandung hikmah dan semangat perjuangan. Tapi Rasulullah tidak menyukai puisi atau syair yang mengandung fitnah dan hujatan, serta puisi yang dijadikan alat untuk menilat,” katanya.

Menurut Sunu Wasono, puisi Islami ataupun puisi religius banyak ditulis di Indonesia sejak zaman Hamzah Fansuri hingga sekarang. Banyak di antaranya yang mengandung hikmah dan semangat perjuangan. “Bukan hanya puisi atau syair, tapi juga banyak hikayat yang mengobarkan semangat perjuangan,” katanya. “Seperti di Aceh dulu, terlebih dahulu dibacakan syair dan hikayat sebelum berangkat ke medan perang.”

Sejak dulu, tambah Ahmadun, sastra bernafaskan Islam tumbuh subur di Nusantara. Nilai-nilai Islam menjadi nafas perkembangan sastra Melayu Nusantara. Karya-karya sastra bernafaskan Islamlah yang kita temukan ketika kita merunut akar sastra Melayu.

“Karena itu, seyogyanya sastra bernafaskan Islam yang kita kembangkan di Nusantara, bukan sastra sekuler yang tumbuh atas pengaruh nilai-nilai budaya Barat,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES