Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Mushala Salamah, Saksi Semangat Muslimah Solo Syiarkan Islam

Senin 04 Juni 2018 11:23 WIB

Red: Agung Sasongko

Mushola Salamah mulanya hanya digunakan untuk muslimah di Solo. Di mushola ini, muslimah Solo banyak melakulan kegiatan seperti pengajian hingga penggalangan dana.

Mushola Salamah mulanya hanya digunakan untuk muslimah di Solo. Di mushola ini, muslimah Solo banyak melakulan kegiatan seperti pengajian hingga penggalangan dana.

Foto: Republika/Andrian
Mulanya mushala Salamah tak di fungsikan untuk shalat berjamaah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Andrian Saputra

 

SOLO -- Mushala Salamah. Mushala ini tak hanya cantik karena arsitekturnya. Mushala ini juga menjadi semangat Muslimah di Solo dalam upaya mensyiarkan Islam. Mushala ini berada diantara deretan bangunan modern yang berdiri di sepanjang Jalan Untung Suropati, Solo.

Dinding halaman masjid menyerupai dinding pembatas rumah-rumah di Timut Tengah. Kubahnya tak berbentuk bundar seperti mushala atau masjid pada umumnya, melainkan berbentuk segitiga seperti kastil. Hanya ada satu gerbang masuk menuju ke dalam lingkungan mushalaitu.

Di atas gerbang masuk itu terdapat papan nama bertuliskan Mushala Salamah. Suasana pekarangan mushala Salamah begitu asri. Rumput-rumput hijau yangterawat serta beragam tanaman bunga mempercantik lingkungan mushala. Beberapa pohon berukuran sedang yang berada di halaman mushala itu pun menambah rindang.

photo

Mushola Salamah mulanya hanya digunakan untuk muslimah di Solo. Di mushola ini, muslimah Solo banyak melakulan kegiatan seperti pengajian hingga penggalangan dana.

Di dalam mushala pun tak kalah menarik. Jendela mushala dibuat dengan ukiran berarsitektur Timur Tengah, namun pada dinding mushala kental dengan ukiran Jawa. Menariknya lagi mushala ini memanjang ke samping sehingga di dalammushala hanya terdiri lima shaf saja.

Untuk tempat imam ada di ruang kanan, sementara ruang kiri yang masih terhubung, selain digunakan untuk sholat terutama jika jamaah penuh, juga digunakan untuk mimbar pengajian.

Tak hanya ruang shalat, ada bangunan terpisahyang masih berada di lingkungan mushala Salamah. Bangunan itu merupakankamar-kamar kecil sebagai tempat istirahat Takmir dan menyimpan perlengkapan mushala.

Untuk mengetahui sejarah mushala Salamah, Republika.co.id pun berbincang dengan Adi Saputro,yang sudah enam tahun terakhir menjadi Takmir mushala Salamah. Mushala inidibangun tahun 1955. Dulunya lokasi itu ada sebuah rumah milik warga Solo yang masih berketurunan Arab. Rumah tersebut kemudaian mengalami kebakaran.

Tak berapa lama, tanahnya diwakafkan. Mulanya mushala Salamah tak di fungsikan untuk shalat berjamaah. Melainkan sebagai tempat bagi Muslimah se-Kota Solo menggelar berbagai macam semisal pengajian hingga kegiatan-kegiatan sosial.Mushala juga dijadikan tempat musyawarah para Muslimah untuk mengembangkandakwah Islam di Solo. 

photo

Mushola Salamah mulanya hanya digunakan untuk muslimah di Solo. Di mushola ini, muslimah Solo banyak melakulan kegiatan seperti pengajian hingga penggalangan dana.

Seiring bergantinya waktu, para muslimah di Solo menggunakan tempat pengajian itu untukmelaksanakan sholat lima waktu berjamaah. Tetapi khusus bagi jamaah perempuan saja.

"Masjid ini identik dengan perempuan karena memang dulunya dibangun untuk kegiatanperempuan, nama Salamah diambil dari kata Selamat agar perempuan selamat duniadan akhirat," tutur Adi.

Makin banyak muslimah yang aktif mengikuti kajian keislaman dan berbaur dalam setiapkegiatan yang diselenggarakan membuat pengurus mushala Salamah jugamempergunakannya untuk sholat Tarawih dan Ied. Meski demikian, para muslimahtak lepas dari komunikasi dengan para ulama khususnya koordinasi berbagaikegiatan dengan Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

"Dulukan kalau perempuan pergi-pergi itu tabu, akhirnya diadakan untuk taklim dan ibadahperempuan, imamnya juga perempuan. Mungkin dulu sangat memegang teguh tak bolehtercampur agar tak terjadi fitnah," tambah Adi.

Sekitar 1990an,mushala itu dipergunakan juga untuk jamaah pria. Hanya saja, mushala itu taklagi diperguanakan untuk shalat Ied. Untuk pelaksanaan shalat Ied masyarakatsekitar kebanyak mengikuti shalat Ied berjamaah di Masjid Agung Keraton Solo yang tak terlalu jauh.

Meski demikian, kegiatan-kegiatan seperti pengajian dankegiatan sosial yang digagas para muslimah terus berlangsung hingga saat ini. Bahkankegaitan dakwah para Muslimah jamaah mushala Salamah makin aktif.

Setiap Selasa,Rabu, Kamis dan Sabtu mushala itu rutin menyelenggarakan pengajian khususperempuan. Selain itu juga digunakan sebagai tempat untuk penyuluhan berbagai program seperti kesehatan perempuan hingga edukasi pengembangan ekonomi keluarga.

Para muslimah juga rutin menyelenggarakan kegiatan sosial sepertipenggalangan dana untuk korban bencana alam, pengumpulan zakat infaq dansedekah. Menariknya lagi, sejak mushala itu berdairi hingga saat ini pengurusmushala adalah perempuan. Hanya beberapa posisi saja yang dipercayakan kepadapria.

Uniknya gaya arsitektur mushala Salamah menjadi daya pikat tersendiri bagi pelancongyang datang ke kota Solo. Bahkan menurut Adi banyak wisatawan asing yang seringberswafoto di pekarangan mushala dan mengajak berbincang tentang sejarah mushala tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES