Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Keindahan Masjid Raya al-Mashun

Rabu 23 May 2018 16:27 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

  Umat Muslim memegang obor ketika mengikuti pawai dari Masjid Raya Al Mashun menuju Masjid Agung, Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/10) malam.  (Antara/Irsan Mulyadi)

Umat Muslim memegang obor ketika mengikuti pawai dari Masjid Raya Al Mashun menuju Masjid Agung, Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/10) malam. (Antara/Irsan Mulyadi)

Tempat sujud ini menampilkan kesan megah dan akulturasi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hasanul Rizqa

Medan menjadi pusat Kesultanan Deli sejak 1890-an. Kerajaan Islam itu dikenang sampai saat ini sebagai kekuatan sosial-politik yang ikut mengembangkan kebudayaan masyarakat setempat. Di antara legasinya adalah Masjid Raya al-Mashun atau yang kini dikenal sebagai Masjid Raya Medan.

Rumah ibadah ini dibangun pada 1906.Tiga tahun kemudian, masjid tersebut secara resmi dibuka oleh pihak Kesultanan Deli.Pemimpinnya saat itu, Sultan Makmun al- Rasyid, membangun Masjid Raya al-Mashun sebagai proyek berikutnya setelah dia mendirikan Istana Maimun. Jarak di antara kedua bangunan tersebut hanya sekitar 200 meter. Kedekatan itu menandakan Masjid Raya al-Mashun masih sekompleks dengan kawasan istana Kesultanan Deli.

photo

Masjid Raya Al-Mashun, Medan, Sumatra Utara.

Arsitek yang merancang Masjid Raya al- Mashun adalah seorang Belanda yang ber nama van Erp. Dia pula yang mendesain Istana Maimun. Namun, van Erp terpaksa bertolak ke Jawa lantaran namanya termasuk ke dalam tim yang bertugas merestorasi Candi Borobudur. Posisinya diganti kan oleh JA Tingdeman, yang juga berkebangsaan Belanda.

Bila dilihat secara keseluruhan, tempat sujud ini menampilkan kesan megah dan akulturasi. Bangunan utamanya terletak di tengah hamparan seluas kurang lebih satu hektare. Adapun nuansa ragam budaya tampak dari kemiripannya dengan gaya ar sitektur Islam di India, Arab, dan Andalusia (Spanyol). Denah masjid ini berbentuk bujur sangkar, dengan bagian gerbang besar yang dinaungi kubah-kubah hitam di keempat sudutnya. Di tengah-tengah empat kubah itu, ada kubah utama yang juga berwarna hitam.

Masjid Raya al-Mashun didominasi warna putih, di samping hijau pada sekitar bagian pintu-pintu dan hitam pada kubahnya. Pilar-pilar yang terdapat pada setiap sisi bangunan utama mengambil corak khas Kordoba, Spanyol, terutama dengan lengkung bagian atas yang berbentuk setengah lingkaran dan diameter pilar yang tidak besar. Pengunjung yang hendak memasuki ruang shalat mesti melalui tangga hubung lantaran tempat tersebut letaknya lebih tinggi daripada beranda. Ruangan itu berbentuk segi delapan tidak sama sisi.

Untuk membangun Masjid Raya al- Mashun, banyak dekorasi yang diimpor dari mancanegara, semisal marmer Italia, kaca patri asal Cina, dan lampu gantung dari Pran cis. Setiap ornamen dihiasi dengan ukiran-ukiran indah yang bermotif floral atau geometris. Demikian pula pada dinding bagian interior masjid ini. Pilar-pilar yang menyangga kubah utama terdapat di ruang utama tempat para jamaah shalat.

photo

Pekerja membersihkan tugu prasasti Masjid Raya Al Mashun untuk dicat kembali, di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (13/5). Perawatan Masjid Raya Al Mashun tersebut selain untuk memperindah masjid juga untuk menyambut bulan Ramadan.

Penampilan tiang-tiang penyangga itu begitu kokoh, tetapi elegan lantaran terbuat dari bahan marmer berkualitas tinggi. Di atasnya ada lengkung kubah yang bernuansa khas kebudayaan Spanyol Islam. Gaya arsitektur Spanyol juga tampak dari birai- birai jendela yang menjadi jalan masuknya cahaya matahari dari luar, serta mihrab tempat imam memimpin shalat berjamaah.Pengaruh Gotik Eropa pun tidak ketinggalan menghiasi bagian atas jendela-jendela.

Keindahan Masjid Raya al-Mashun tidak hanya tecermin pada fisik bangunannya, tetapi juga tentang bagaimana proyek pendiriannya berlangsung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, rumah ibadah ini dibangun dengan sokongan sultan Deli. Namun, ada pula pihak-pihak lain yang turut membantu terwujudnya ikon kerajaan ini. Di antaranya adalah Tjong A Fie, seorang berdarah Tionghoa yang dikenal luas sebagai saudagar sukses di Deli. Satu sumber menyebutkan, pebisnis perkebunan tersebut menyumbang sekitar sepertiga dari total biaya yang diperlukan untuk membangun Masjid Raya al-Mashun. Fakta ini menandakan ada hubungan yang saling mendukung antara pihak kesultanan Deli dan para pengusaha yang mengadakan bisnis di negeri tersebut, tanpa memandang perbedaan keyakinan dan suku bangsa.

Masjid Raya al-Mashun tercatat mengalami perbaikan beberapa kali sejak dibangun pada permulaan abad ke-20. Di tahun 1927, restorasi atas Masjid Raya al-Mashun dilakukan dengan wujud kerja sama antara pihak kesultanan Deli dan perusahaan Deli Maatscapij. Selanjutnya, restorasi dilaksanakan pada zaman Republik Indonesia, yakni tahun 1966, atas dukungan pemerintah kota Medan.

photo

Pekerja melakukan proses perbaikan salah satu atap Masjid Raya Al Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa(29/3).

Situs bersejarah ini sekarang telah melewati masa satu abad lamanya. Pemerintah daerah setempat menjadikannya salah satu destinasi wisata unggulan bagi para pelancong yang datang ke Kota Medan.

Keindahan Masjid Raya al-Mashun dan juga Istana Maimun menandakan tingginya peradaban Kesultanan Deli, sebagai suatu kedaulatan Melayu yang sempat berjaya pada zaman lampau. Memang, kerajaan ini pada hingga abad ke-20 masyhur sebagai negeri maritim yang berpengaruh besar di kawasan pesisir timur Sumatra. Deli juga berperan strategis dalam konteks perdagangan di jalur maritim internasional Selat Malaka.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES