Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Sultan Abdul Hamid II Gagalkan Misi Zionis

Jumat 11 May 2018 16:20 WIB

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko

Sultan Abdul Hamid II

Sultan Abdul Hamid II

Foto: Wikipedia
Tokoh Zionis Israel, Theodore Herzl, berusaha membujuk Sultan Abdul Hamid II.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika Palestina dikuasai oleh Dinasti Turki Utsmani (1876-1909 M), kaum Yahudi terus berusaha untuk mengambil wilayah Palestina dari kekuasaan ini. Tokoh Zionis Israel, Theodore Herzl, berusaha membujuk Sultan Abdul Hamid II untuk mengembalikan Palestina ke tangan Israel. Permintaan itu ditolak mentah-mentah Sultan Abdul Hamid II.

Gagal mendapat konsesi dari Pemerintahan Turki Utsmani (Ottoman), bangsa Yahudi menggalang dukungan international untuk menyukseskan misi Zionis: membentuk negara Yahudi di Palestina. Dukungan utama datang dari Inggris hingga akhirnya keluarnya Deklarasi Balfour (diambil dari nama Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour), pada 2 November 1917 kepada Presiden Federasi Zionis Inggris, Lord Rothchild.

(Baca: Sejarah Palestina di Masa Kekuasaan Islam)

Pemisahan wilayah Palestina oleh PBB 14 Mei 1948, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi pembagian wilayah Israel dan Palestina. Menurut Paul Findley, resolusi ini dikeluarkan atas tekanan Pemerintahan Trutman (Amerika Serikat) terhadap sejumlah negara anggota PBB. Pemungutan suara di MU PBB menghasilkan 33 suara setuju pembagian wilayah tersebut, sementara 13 suara menolak dan satu suara abstain.

Deklarasi itu menyebabkan wilayah Palestina terbagi tiga. Pertama, negara Yahudi mencakup 57 persen dari total wilayah Palestina dan meliputi hampir seluruh wilayah yang subur, dengan perimbangan penduduk 498.000 Yahudi dan 497.000 Arab.

Kedua, Negara Arab Palestina mencakup 42 persen dari total wilayah Palestina dan hampir seluruh wilayahnya tandus dan berbukit-bukit. Perimbangannya, 10.000 Yahudi dan 725.000 Arab.

Ketiga,  zona internasional (Jerusalem) dengan perimbangan penduduk 100.000 Yahudi dan 105.000 Arab. Pada 1922, sekitar 26 tahun sebelum resolusi PBB, ketika Mandat Inggris dari Liga Bangsa-Bangsa, penduduk Arab Palestina berjumlah 668.000 orang dan menguasai 98 persen wilayah Palestina. Sedangkan penduduk Yahudi yang berjumlah 84.000 orang hanya menguasai dua persen tanah Palestina. Wa Allahu A’lam.

(Baca Lagi: UBN: Dunia tak Berhenti Perjuangkan Palestina)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES