Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Turhan Hatice Sultan Pembangun Benteng Pertahanan Ottoman

Senin 15 Jan 2018 18:30 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Era Dinasti Ottoman.

Era Dinasti Ottoman.

Foto: Aksitarih.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --   Turhan Hatice Sultan merupakan salah satu selir kesayangan Sultan Ibrahim dari Kerajaan Ottoman. Dia menjadi ibu suri ketika suaminya meninggal dunia dan anaknya Mehmed IV naik menjadi sultan pada 1648-1687.
 
Turhan memiliki gelar Devletiu Ismetiu Turhan Hadice Valide Sultan Aliyyetus-san Hazretleri. Dia bernama asli Nadya dan berasal dari daerah Ruthenian yang saat ini menjadi Ukraina.

 Saat wilayahnya ditaklukan Tatar, Turhan yang saat itu berusia 12 tahun dikirim ke Istana Tokapi untuk bekerja kepada ibu Sultan Ibrahim, Sultana Kosem. Kosem pun akhirnya menikahkan Ibrahim dengan Turhan dan menjadi selir. Pada 2 Januari 1642 dia melahirkan seorang putra yang nantinya naik takhta dengan gelar Sultan Mehmed IV.

Selama bertahun-tahun kepemimpinan Sultan Ibrahim, banyak petinggi kerajaan yang tidak senang dengan perilaku Ibrahim. Pada 8 Agustus 1648 Ibrahim digulingkan dan dia ditemukan sudah tak bernyawa. Setelah Ibrahim wafat, anak dari Ibrahim dan Turhan, Mehmed IV, dinobatkan sebagai sultan di Kekaisaran Ottoman.

 Dengan demikian, Turhan secara otomatis menjadi ibu suri atau valide sultan. Namun, banyak orang yang memandang remeh Turhan karena latar belakangnya sebagai budak. Ia juga dinilai belum banyak pengalaman memimpin.

Akhirnya, posisi ibu suri kembali diambil ibu mertuanya sekaligus nenek Mehmed IV, Sultana Kosem. Sultana Kosem sebelumnya memegang posisi valide sultan selama dua periode kepemimpinan dua anaknya. Saat akan memegang jabatan ketiga kalinya, Turhan mencoba untuk mempertahankan posisinya.

Ia ingin menduduki posisi sebagai ibu suri. Turhan pun mencari dukungan. Gerakan Turhan untuk merebut posisi valide sultan didukung kepala rumah tangga kerajaan dan wazir agung. Sedangkan, Kosem didukung Unit Yenicheri.

 Sultana Kosem dinilai sangat mumpuni dalam memimpin pemerintahan. Tetapi, masyarakat dan pejabat kerajaan di Ottoman membenci pengaruh Yenicheri pada pemerintah.

Pengaruh tersebut, di antaranya, merencanakan Kosem untuk melengserkan Mehmed IV dan menggantikannya dengan cucu muda lainnya. Pada akhirnya, konflik tersebut mencapai puncaknya dengan terbunuhnya Kosem setelah tiga tahun menjadi ibu suri. Setelah Kosem wafat, Turhan kembali menjadi valide sultan.

Diakui, memang bidang politik kurang dikuasai Turhan, sehingga bidang tersebut diserahkan pada wazir agung. Saat kepemimpinan Turhan, terjadi kemunduran di Kerajaan Ottoman yang disebabkan dua faktor.

Pertama, perang dengan Venesia untuk memperebutkan Pulau Kreta dan krisis keuangan, sehingga biaya perang meningkat tajam. Wazir ketika itu pun sangat lemah, sehingga tidak mampu memperbaiki situasi. Sehingga, pada 1656 Koprulu Mehmed Pasha diangkat menjadi wazir agung.

 
Kewenangan wazir baru ini lebih luas dari sebelumnya. Termasuk, bidang politik yang sebelumnya menjadi kewenangan valide sultan saja. Kekuasaan politik yang telah dile paskan Turhan berdampak pada kekuatan yang terbatas bagi dirinya. Dia pun mengalihkannya pada bidang lain, seperti pembangunan.

 
Proyek pembangunan pertamanya di- mulai pada 1658. Agar terhindar dari ancaman Venesia, Turhan membangun dua benteng di pintu masuk Dardanella. Satu benteng di Eropa dan sisi lainnya di Asia. Hingga saat ini, peninggalan benteng tersebut masih dapat dilihat keberadaannya.

Pembangunan benteng ini menjadikan Turhan sebagai tokoh wanita yang disejajarkan dengan Mehmed Sang Penakluk dan sultan lain yang membangun benteng- benteng untuk mempertahankan kerajaan.

Prestasi terbesar Turhan bukanlah dua benteng tersebut, melainkan pembangunan masjid di ibu kota Kekaisaran Konstan- tinopel, Eminonu, yaitu Masjid Ye ni. Awalnya, masjid ini dibangun pendahulunya, Safi ye Sultan.

 Safiye memilih Kota Eminino sebagai lokasi masjid. Daerah ini dihuni mayoritas non-Muslim. Dengan membangun masjid, Safi ye berharap, dapat mengislamkan daerah tersebut. Namun, pembangunan tersebut tidak berjalan mulus. Pada 1579 peletakan batu pertama dilakukan, tapi anaknya Mehmed III wafat, sehingga dia tak lagi menjadi valide dan pembangunan masjid pun dihentikan.

Konstruksi berhenti selama 57 tahun ditambah terjadi kebakaran pada 1660. Turhan pun berinisiatif untuk melanjutkan kembali pembangunan masjid ini. Pada 1665, masjid selesai dibangun. Turhan pun tak hanya membangun masjid, di kompleks tersebut, sekolah, air mancur umum, pasar, dan makam pun dibangun.

Masjid Yeni merupakan masjid yang pertama kali dibangun seorang wanita. Dahulu, masjid ini pun hanya dikhususkan para sultan. Turhan merupakan wanita terakhir yang memegang kekuasaan yang sangat besar sebagai valide bagi sultan yang belum cukup umur. Meskipun dia memegang kekuasaan, pribadinya tidak banyak dikenal khalayak umum.

Turhan yang lahir pada 1628 akhirnya wafat pada usia 45 tahun. Dia dimakamkan di area pemakaman Masjid Yeni di samping anak dan keturunannya. Pembangunan ben teng Ottoman menjadikan Turhan sebagai tokoh wanita yang disejajarkan dengan Mehmed Sang Penakluk.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA