Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Trio Pendekar Hebei

Jumat 12 January 2018 21:15 WIB

Rep: c11/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Kungfu

Ilustrasi Kungfu

REPUBLIKA.CO.ID,

Ma Xianda

Ma lahir dari sebuah keluarga Muslim di Provinsi Hebei pada 1932 yang mempunyai tradisi bela diri selama enam gene rasi. Dia belajar bela diri dari dua master kung fu yang kebetulan ayahnya sendiri, Ma Fengtu, dan pamannya, Ma Yintu. Ma Fengtu dulunya seorang jenderal di bawah panglima perang lokal ( warlord) Feng Yuxiang. Ma Xianda mempelajari berbagai jurus wushu tradisional, seperti Tongbei Pigua, Kaimen Baji, Ba Shan Fen, dan Cuo Jiao, juga belajar gaya tinju, gulat, dan anggar. Dia adalah sedikit dari master kung fu Cina yang mempelajari bela diri Barat.

Pada 1952, Ma menggondol gelar juara bela diri gaya bebas Cina pada kejuaraan Lei Tai pada 1949 setelah mengalahkan Deng Hongzhao yang menguasai aliran Tongbi dan Cuo Jiao, sang master aliran Li Xuewen. Dia juga memenangkan gelar juara pada kejuaraan tarung senjata pendek dan wushu dalam usia baru 19 tahun. Tahun berikutnya, dia kembali menggondol juara pada turnamen tarung senjata pendek tanpa terkalahkan dalam setiap pertandingan. Selama kariernya sebagai guru kung fu, lebih dari 20 muridnya memperoleh gelar Wu Yin atau pendekar bela diri, atlet yang memperoleh posisi satu sampai tiga dalam kompetisi bela diri Cina. Salah satu muridnya adalah Jet Li. n

Tung-Sheng Ch’ang (1908–1986)

Legenda ini lahir di Baoding, Hebei, pada 1908. Dia memperoleh kemampuan bela diri dari gurunya, Fong Yen, yang mengajari jurus Bao-Ting, gulat tangan cepat. Keluarga Ch’ang yang cukup berada dari hasil berjualan ayam bakar membuatnya mendapat kesempatan belajar secara privat kepada beberapa guru bela diri, seperti Zhang Fenyen, saudagar lokal yang menguasai gulat tradisional Shuai Chiao gaya Baoding yang diajarkan ahli bela diri Ping Jinyi.

Ch’ang kemudian mengembara ke berbagai wilayah Cina untuk mempelajari berbagai jurus kungfu dan Shuai Ciao. Dengan keberhasilannya mengalahkan berbagai master kung fu dalam latihan maupun pertarungan, Ch’ang kemudian mempertajam kemampuannya dan mengembangkan teknik dahsyat yang dijuluki Hua Hu Die, Kupu-Kupu Baja. Sejak saat itu, dia tak terkalahkan.

Chang menjuarai Turnamen Nasional Kuo Shu ( All China Full Contact Tournament) ke-15 pada 1933, mengalahkan ratusan pendekar pada kelas berat. Dia terus menjadi juara bela diri Cina sampai akhirnya masuk dinas tentara Cina pada Faksi Kuomintang. Sambil berpatroli keliling wilayah kaum nasionalis, Ch’ang terus mencari pendekar gulat lain untuk mencoba kemampuannya. Dia menjadi anggota termuda dari Institut Nasional Koushou di Nanjing. Di tempat itu, dia mempelajari berbagai aliran kungfu, seperti Shaolin, Tan Tui, Pa Kua, dan Tai Chi. Dia menciptakan berbagai kreasi dari jurus Tai Chi dan Xingyi, yaitu Chang Tai Chi.

Selama perang Cina-Jepang dan Perang Dunia II, Ch’ang melatih pasukan nasionalis Cina dalam mempelajari Shuai Chiao. Ch’ang bahkan se ring mengunjungi kamp tawanan untuk menjajal kemampuan bela diri para tentara Jepang yang menguasai judo, jujitsu, dan karate. n

Wang Zi-Ping (1881-1973)

Lahir di Kota Changzou, Provinsi Hebei, pada 1881 selama masa terakhir kekaisaran Cina. Dia tumbuh di te ngah keluarga Muslim taat yang juga mewarisi disiplin keras seni tradisi bela diri. Wang mulai mempelajari wushu pada usia enam tahun dan menjadi ahli dalam berbagai jurus, baik ta ngan kosong maupun senjata, seperti Qinna, Shuai Jiao, Qigong, tarung bebas, dan teknik meringankan tubuh. Ayah dan kakeknya merupakan ahli bela diri terkemuka. Awalnya, ayah Wang justru tak ingin putranya itu mempelajari wushu karena dia dianggap belum cukup kuat untuk be lajar kungfu. Sang ayah menganggap belajar menulis dan bisnis lebih cocok.

Selain ahli bela diri, Wang juga mengembangkan kemampuan dalam mengobati trauma atau luka dalam. Dia menggabungkan pengetahuan mengenai Qinna dalam membetulkan sendi dan tulang yang meleset. Wang me ngembangkan sistem pengobatan untuk luka akibat olah raga bela diri di utara Cina. Dia juga memimpin se kolah shaolin di Institut Guoshu Pusat dan menjadi wakil presiden Asosiasi Wushu Cina. Pada masa tuanya, Wang ba nyak diminta jasanya sebagai penasihat di berbagai ru mah sakit besar di Cina. n kungfu.org/mixedmartialarts/kungfumagazine

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Spanyol Taklukkan Iran 1-0

Kamis , 21 June 2018, 03:21 WIB