Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Dakwah Muslim Kamboja di Tengah Keterbatasan

Kamis 18 May 2017 16:00 WIB

Rep: Amri Amrullah/Berbagai Sumber/ Red: Agung Sasongko

Muslim Kamboja sedang silaturahim.

Muslim Kamboja sedang silaturahim.

Foto: thecmdf.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Said Ismail Taib (27 tahun) telah belajar ilmu-ilmu agama Islam sejak masih kecil. Guru pertama pria yang berasal dari etnis Cham itu adalah kedua orang tuanya, ditambah para mullah di tanah kelahirannya. Etnis Cham adalah komunitas etnis sekaligus etnis Islam terbesar di Kamboja.

Alquran yang digunakan di Kamboja hanya yang ditulis dalam bahasa Arab karena Cham tidak memiliki sistem penulisan yang memungkinkan mereka menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa ibu mereka. Karena itu, menurut Antonio Graceffo dalam Cham Muslims: a Look at Cambodia’s Minority (2008), kemampuan membaca tulisan Arab menjadi ukuran kapabilitas seseorang dalam hal keislaman di Kamboja.

“Siapa pun yang dapat membaca teks Arab bisa menjadi mullah,” kata Ismail.

Presiden Islamic National Movement for Democracy of Cambodia, Sary Abdullah, pada 2008, mengatakan, pihaknya berusaha menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Khmer. Namun, karena ketiadaan dana, proses penerjemahan pun tersendatsendat.

Menghidupkan Islam dan mempertahankan eksistensi Muslim di negara berpenduduk 14.805.358 jiwa itu menjadi tidak mudah pascapembantaian oleh Khmer Merah pada 1975. Muslim Kamboja harus memulainya dari awal dengan berbagai keterbatasan.

Meski begitu, banyak kemajuan telah diraih Muslim di negara yang merdeka dari Prancis pada 9 November 1953 itu. Hingga September 2005, berdasarkan data Bjorn Blengsli (antropolog yang melakukan penelitian terhadap Muslim Kamboja selama 2001-2006), jumlah masjid di Kamboja telah mencapai 244 buah.

Pada 2008, sudah ada 32 sekolah agama yang maju (termasuk pusat pelatihan guru Salafi di ibu kota) yang mengajarkan level pemahaman Islam yang lebih tinggi dari sekolah Alquran yang ada di desa. Ramadhan menjadi bulan yang sangat dihormati.

Yang menarik, pada bulan Ramadhan 1432 H lalu, para ulama, cendekiawan, dan tokoh Muslim mendapat undangan buka puasa bersama dari Kedutaaan Besar Amerika Serikat di Kamboja. “Sekitar 200 ulama, cendekiawan, dan tokoh Muslim di Kamboja menghadiri undangan buka puasa bersama dari Kedutaan Besar Amerika itu,” ujar Alfin.

Buka puasa bersama itu digelar di sebuah restoran di Provinsi Kampot. Tokoh Muslim yang hadir dalam acara itu berasal dari berbagai wilayah lainnya, seperti Kampong Chhnang dan Kampong Cham. Di Provinsi Kampot, menurut Alfin, terdiri dari 5.499 kepala keluarga.

Setiap tahun sedikitnya ada 80 orang yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci." Alhamdulillah, orang tua saya tahun ini menunaikan ibadah haji,"tutur Alfin yang juga seorang wartawan Radio Sapcham, sebuah radio Islam yang berpusat di Phnom Pehn, ibu kota Kamboja.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES