Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Indikator Eksistensi Islam di Amsterdam

Selasa 17 Jan 2017 05:15 WIB

Rep: Marniarti/ Red: Agung Sasongko

Amsterdam

Amsterdam

Foto: Republika/Daniel Wewengkang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua sekolah dasar Islam Belanda memiliki akses kurikulum Islam resmi untuk murid berusia antara empat hingga dua belas tahun. Amsterdam menjadi rumah bagi mayoritas Muslim yang berada di Negeri Kincir Angin, Belanda. Di kota ini, ada sekira 13 persen Muslim dari total populasi warganya.

Pada 2004, jumlah penduduk Amsterdam kurang lebih 750 ribu jiwa. Sekitar 63 ribu penduduk adalah keturunan Maroko dan 38 ribu keturunan Turki. Maroko dan Turki merupakan dua komunitas Muslim terbesar di Amsterdam. Selain itu, ada sekitar 5.000 orang Mesir dan 5.000 warga Pakistan.

Ada beberapa distrik yang menjadi kantong domisili Muslim di Amsterdam. Di antaranya De Baarsjes, Geuzeveld/ Slotermeer, Oud-West, Oost-Watergraafsmeer, Slotervaart, Bos en Lommer, dan Osdrop.

Kegiatan dakwah secara umum berjalan dengan baik di ibu kota Belanda tersebut. Salah satu indikator kuat adalah menjamurnya organisasi Islam di sana. Mulai dari yang berlatar belakang kemasjidan, kepemudaan, perempuan, dan kebudayaan.

Pada tahun 2000 saja misalnya, tercatat sebanyak 20 organisasi keagamaan Turki di kota terbesar Belanda itu. Dari jumlah tersebut, tujuh milik Federasi Islam Budaya Turki (TICF), yang terhubung ke Departemen Agama (Diyanet).

Tiga milik Federasi Islamic Centre untuk Belanda (Stichting Islamitisch Centrum Nederland), sepuluh di antaranya berafiliasi dengan gerakan Milli Gorus, dan tiga mewakili Turki Alevi.

Tidak hanya Turki, pada 2001, ada 30 organisasi Muslim Maroko di Amsterdam. Beberapa organisasi ini milik Organisasi Muslim  Maroko di Belanda (UMMON). Saat ini, juga terdapat  Dewan Kota Maroko dan kesatuan Masjid Maroko di Amsterdam dan Sekitarnya (UMMAO).

Indikator lain eksistensi Islam di kota yang ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO pada 2010 ini adalah keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Pada 2002, tercatat ada minimal delapan sekolah dasar Islam dan satu sekolah menengah Islam di Amsterdam. Menurut Inspektorat Sekolah, tujuh dari delapan sekolah dasar Islam mengajarkan integrasi dan kohesi sosial dalam masyarakat Belanda kepada siswanya.

Pada awal tahun ajaran 2007, semua sekolah dasar Islam Belanda memiliki akses kurikulum Islam resmi untuk murid berusia antara empat hingga dua belas tahun.

Kurikulum ini pertama kali dipresentasikan di Sekolah Soeffah di Amsterdam. Metode dalam belajar mengajar dikembangkan oleh Yayasan Metode Pengajaran (SLO) dan Dewan Organisasi Sekolah Islam (ISBO).

ISBO merupakan sebuah organisasi yang membawahi 42 sekolah Islam di Belanda. Pada tahun akademik 2007, 42 sekolah ISBO serta empat sekolah Islam lainnya di Belanda mulai menerapkan materi studi baru.

Secara nasional, Amsterdam juga telah aktif mengadakan pelajaran agama untuk penduduk. The Vriji Universiteit Amsterdam, atau Amsterdam Free University telah membuka fakultas teologi, untuk mengakomodasi sekolah untuk para imam.

Pada 2005, pemimpin agama  mulai ditawarkan memiliki latar belakang pendidikan lebih formal dan terakreditasi. Khususnya di bidang teologi.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA