Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Masjid Qiblatain, Saksi Sejarah Perpindahan Arah Kiblat

Kamis 20 Oct 2016 13:35 WIB

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko

Masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain.

Foto: Republika/Tommy Tamtomo/ca

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Sebagian besar umat Islam, tentu mengenal nama Masjid Qiblatayn, yaitu satu-satunya masjid di dunia yang memiliki dua arah kiblat. Kiblat pertama mengarah ke masjid al-Aqsha (baitul Maqdis), di Yerusalem (Palestina) dan kedua mengarah ke Baitullah (Ka'bah), Masjid al-Haram di Makkah.

Perubahan ini berdasarkan perintah Allah SWT sebagaimana tercantum dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 144.

''Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (taurat dan Injil) memang mengbetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.''

Secara tegas, ayat ini menerangkan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memalingkan wajah (kiblat)-nya ke arah masjidil Haram. Awalnya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW menghadap ke Al-Quds (Al-Aqsha) ketika melaksanakan shalat semasa di Madinah.

Melaksanakan shalat dengan menghadap ke Al-Quds itu berlangsung selama lebih kurang 16-17 bulan, sebelum datang perintah untuk memalingkan arah kiblat ke Ka'bah, Masjidil Haram. Namun, Rasulullah SAW menginginkan kiblatnya umat Islam, sama seperti kiblatnya Nabi Adam Alaihissalam (AS) dan Ibrahim AS.

Rasulullah berharap, Allah mengabulkan permohonannya. Karena itu, Rasul senantiasa menengadahkan wajahnya ke langit dengan harapan turun wahyu yang memerintahkan mengalihkan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsha ke Masjidil Haram. Hingga akhirnya turunlah wahyu, sebagaimana tersebut diatas.

Menurut Imtiaz Ahmad, dalam bukunya Lesson for Every Sensible Person, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tempat-tempat Bersejarah di Madinah Al-Munawwarah, yang menjadi kiblat seluruh Nabi untuk melaksanakan shalat adalah Ka'bah yang dibangun sejak masa Nabi Adam AS.

''Sesungguhnya, rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.'' (QS Ali Imran [3]: 96).

Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, juga menjadikan Ka'bah (Baitullah) sebagai kiblat. ''Sedangkan Al-Quds ditetapkan sebagai kiblat hanya untuk sebagian para Nabi dari bangsa Israel. Dan para Nabi itu ketika shalat di dalam Al-Quds, biasa menghadap pada arah sedemikian rupa sehingga kedua-duanya, Al-Quds dan Baitullah di Makkah, saling berhadapan,'' ujar Imtiaz.

Perubahan arah kiblat ini terjadi pada bulan Rajab tahun 12 Hijriyah (H). Ketika itu Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat zuhur dengan menghadap ke arah Masjid al-Aqsha. Dalam riwayat lain saat shalat Ashar.

Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah baru melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian, dengan turunnya ayat itu, maka beliau segera menghentikan shalat sebentar, kemudian Rasulullah berputar 180 derajat menghadap arah baru, sehingga jamaah yang ikut shalat itu terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakang Nabi.

Dan akibat perubahan arah kiblat ini, kaum Yahudi dan Nasrani memperolok-olok umat Islam. Namun, dalam hati kecilnya, mereka khawatir perubahan kiblat itu justru menunjukkan adanya perbedaan diantara Islam dan Yahudi, khususnya.

Sebab, sebelumnya kaum Muslim sedikit banyak bisa diterima Yahudi. Dengan perubahan arah kiblat ini, menandakan kaum Muslim adalah suatu bangsa atau kelompok lain yang terpisah dengan mereka. Karenanya, bangsa Yahudi meningkatkan perlawanan terhadap umat Islam dan menghormati musuh Islam.

Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Baqarah [2]: 143, sebenarnya perpindahan arah kiblat itu memang dimaksudkan untuk memisahkan antara orang munafik dari kaum Muslim dengan orang-orang yang tulus dan ikhlas.

''Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi pentunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.''

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA