Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Keunikan Rancang Bangun Masjid Sumur Gumuling

Jumat 19 Aug 2016 02:57 WIB

Rep: Heri Purwata/ Red: Agung Sasongko

Masjid Sumur Gumuling

Masjid Sumur Gumuling

Foto: Wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sebuah tempat yang sayang dilewatkan bila berkunjung ke Pesanggrahan Tamansari, Yogyakarta: Masjid Sumur Gumuling. Sebuah bangunan masjid dengan arsitektur yang tak umum dijumpai di belahan manapun di Indonesia.

Sumur Gumuling yang berada di kompleks Pesanggrahan Tamansari milik Keraton Yogyakarta merupakan masjid pada era Sri Sultan Hamengku Buwono I dan II. Kompleks Tamansari dibangun atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I Tahun Jawa Ehe 1684 atau 1758 M.

Meskipun berfungsi sebagai masjid, Sumur Gumuling bentuknya tidak seperti kebanyakan masjid. Sumur Gumuling sesuai dengan namanya seperti sumur berbentuk bulat atau lingkaran dan dalam. Bangunan luar Sumur Gumuling memiliki diameter (tembok luarnya) kurang lebih enam meter, sedangkan lingkaran yang ada di dalam (menyerupai sumur dan terbuka tanpa atap di atasnya) berdiameter empat meter. Secara garis besar, bangunan ini mirip cincin.

Uniknya tempat yang digunakan untuk ibadah atau aktivitas lain adalah lantai yang melingkar di lantai pertama dan kedua. Lebar ruang itu kurang lebih empat meter. Lantai satu berada di bawah tanah diperuntukkan bagi jamaah wanita.

Meskipun di bawah tanah, ruangan ini cukup terang karena banyak cahaya yang masuk berasal dari lingkaran dalam bangunan yang berbentuk sumur dan tanpa atap. Lantai satu ini memiliki satu ceruk dinding sebagai mihrab, tempat pengimaman, dan delapan pintu lengkung yang menyerupai ruang pengimaman di sebelah barat. Ukuran ruang ini kurang lebih berlebar satu meter, bertinggi 1,65 meter, dengan panjang 3,5 meter.

Delapan pintu ventilasi yang ada di lantai satu ini juga berfungsi untuk menuju ke lantai dua. Pintu ini menghubungkan tangga yang ada di tengah “sumur”. Ada lima tangga yang bisa digunakan untuk menuju ke lantai dua. Menurut cerita, kelima tangga ini melambangkan rukun Islam.

Sedangkan di lantai dua, terdapat empat pintu ventilasi yang menghadap ke “sumur”. Cahaya matahari bisa masuk ke lantai dua dan satu. Selain pintu ventilasi, lantai dua juga dilengkapi dengan tempat mengambil air wudhu dan toilet. Lantai dua memiliki 10 jendela dengan ukuran kurang lebih bertinggi 1,5 m dengan lebar 1 m dan bisa digunakan untuk melihat keluar masjid. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA