Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Kisah Pilu Menyusul Runtuhnya Kekuasaan Ottoman di Palestina

Senin 13 April 2015 07:41 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Nasih Nasrullah

Pengungsi Palestina menyusul Perang Arab-Israel 1948

Pengungsi Palestina menyusul Perang Arab-Israel 1948

Foto: city-journal.org

REPUBLIKA.CO.ID, Menjelang abad ke-20, warga Yahudi dari berbagai negara (terutama Eropa) mulai melakukan migrasi secara besar-besaran ke Palestina—yang ketika itu masih dikuasai oleh Kesultanan Turki Ottoman. Kegiatan tersebut selanjutnya mendapat dukungan penuh dari Kerajaan Inggris lewat penandatanganan Deklarasi Balfour pada 1917.

Ketika Perang Dunia I berlangsung antara 1914–1918, Kesultanan Turki Ottoman mengalami kekalahan besar. Sejumlah wilayah kerajaan itu jatuh ke tangan musuh, termasuk Palestina yang sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang kaum Zionis untuk mendirikan negara Yahudi pun semakin terbuka lebar sejak itu.

Program migrasi massal Zionis membuat populasi Yahudi di Palestina meningkat sangat pesat sejak Perang Dunia I. Menurut data sensus Ottaman, penduduk Palestina pada 1883 terdiri dari 408 ribu orang Arab Muslim, 44 ribu orang Arab Nasrani, dan 15 ribu orang Yahudi.

“Namun pada 1946, komposisi tersebut berubah drastis menjadi 1 juta orang Arab Muslim, 145 ribu orang Arab Nasrani, dan 608 ribu orang Yahudi,” ungkap Komite Khusus PBB di Palestina (UNSCOP) dalam laporannya kepada Majelis Umum PBB pada 1947 silam.

Semakin masifnya jumlah permukiman Yahudi di Palestina menjadi ancaman tersendiri bagi orang-orang Arab. Tidak hanya kalangan Muslim, tetapi juga Nasrani. Ada semacam kekhawatiran, keberadaan masyarakat Yahudi tersebut bakal menggerus identitas bangsa Arab di negeri itu. Hal itu ditunjukkan dengan semakin dominannya penggunaan bahasa Ibrani di Palestina.

Selama Palestina berada di bawah mandat Inggris, ketegangan antara bangsa Arab dan kaum pendatang Yahudi terus mengalami eskalasi. Gerakan nasionalisme yang mulai tumbuh berkembang di kalangan bangsa Arab sejak lepas dari pengaruh Ottoman (Pan-Arab), akhirnya mendorong mereka melakukan perlawanan terhadap gerakan Zionis. Kerusuhan Palestina 1920 dan Kerusuhan Jaffa 1921 hanya beberapa bentuk perlawanan yang dilakukan orang-orang Arab pada masa itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES