Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Tentang Susu Instan

Selasa 16 Des 2008 08:21 WIB

Red:

Bila tambahan pada susu berasal dari bahan yang tidak halal, maka secara otomatis susu itu juga menjadi haram. Periksa label sebelum membelinya.

Masyarakat kini sudah jarang mengonsumsi susu dalam bentuk segar (fresh milk). Kebanyakan susu yang diminum adalah susu olahan, seperti susu hasil pasteurisasi, susu bubuk, atau susu kental manis. Dalam bentuk olahan tersebut susu sudah mengalami proses perjalanan yang cukup panjang. Proses pengolahan inilah yang memungkinkan masuknya unsur haram atau yang meragukan ke dalam produk tersebut.

Susu olahan yang beredar di pasaran saat ini kebanyakan adalah susu formula. Artinya susu tersebut sudah mengalami pencampuran dengan bahan-bahan lain sesuai dengan formula yang diinginkan. Maka dikenal adanya susu dengan kalsium tinggi untuk orang tua, susu dengan vitamin tertentu untuk pertumbuhan anak-anak, susu dengan lemak rendah untuk diet, dan seterusnya.

Susu instan ini ditawarkan dengan keunggulan dan kegunaan masing-masing, lengkap dengan rasa dan aroma yang berbeda-beda. Ada yang rasa cokelat, rasa stroberi, vanila, dan sebagainya. Masyarakat sering dibuat bingung oleh banyaknya pilihan yang ditawarkan para produsen susu tersebut. Apalagi dengan iklan dan iming-iming yang katanya bisa membuat anak jadi cerdas, pintar, dan berprestasi.

Promosi susu untuk manula (manusia usia lanjut) beda lagi. Minuman ini digambarkan dapat mencegah tulang keropos, anti penuaan dini, dan menjaga badan tetap segar. Sementara beberapa vitamin tertentu dalam produk tersebut juga digambarkan dapat memacu pertumbuhan anak serta meningkatkan pertumbuhan tulang dan gigi.

Sikap konsumen

Dalam menanggapi gencarnya iklan dan promosi produk susu tersebut, konsumen sebaiknya bersikap proporsional. Bahwa susu memang mengandung zat-zat gizi yang berguna bagi manusia, hal itu sudah menjadi kemakluman bersama.

Satu hal yang perlu diluruskan adalah bahwa segala sesuatu bekerja secara alamiah, tidak instan. Kalau anak Anda minum susu secara teratur, maka badan anak tersebut akan sehat dan kuat. Itupun jika dibarengi dengan makanan lainnya yang seimbang antar karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin dari berbagai sumber. Tetapi jika hanya minum susu saja, maka mustahil hal itu bisa terwujud.

Demikian juga ketika anak Anda sehat dan kuat, maka peluang untuk menjadi anak yang cerdas dan pintar akan terbuka lebar. Tetapi jika tidak dibarenhgi dengan belajar yang rajin dan sungguh-sungguh, mustahil anak akan menjadi pintar. Sementara ini ada pandangan yang kurang tepat, ketika seorang anak kecil sudah diberi susu cukup bahkan berlebih, maka tugas orang tua sudah dianggap selesai. Sehingga mereka mau membeli produk tersebut meskipun harganya luar biasa mahal.

Titik kritis

Di samping menanggapi secara proporsional, susu juga perlu dilihat dari kacamata halal dan haram. Memang pada dasarnya susu sapi atau kambing adalah halal. Hampir tidak ada susu babi yang dipasarkan dan dikonsumsi manusia. Namun selama proses produksi, susu ternyata mengalami berbagai tahapan yang memungkinkan masuknya unsur-unsur ke dalam produk tersebut.

Salah satu proses yang cukup kritis adalah pemisahan antara whey dan keju. Keju merupakan produk olahan susu yang bernilai ekonomi tinggi. Proses pemisahan keju ini melibatkan rennet yang bisa berasal dari lambung anak sapi, babi, atau produk mikrobial. Setelah keju dipisahkan, masih ada produk lain, yaitu whey. Whey ini masih mengandung laktosa tinggi, sehingga sering digunakan dalam produk-produk susu olahan atau susu formula. Meskipun hanya sebagai bahan penolong, namun penggunaan rennet yang tidak halal akan menyebabkan produk yang dihasilkannya tidak halal.

Selain itu untuk produk susu tertentu dengan kegunaan khusus sering ditambahkan bahan-bahan aditif. Misalnya untuk susu bubuk instan, agar mudah larut ke dalam air maka ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier). Bahan pengemulsi ini juga bisa berasal dari bahan yang tidak halal, seperti monogliserida (dari lemak) ataupun lesitin (kadang-kadang juga ditambahkan enzim tertentu).

Pada susu formula yang diperuntukkan bagi anak-anak biasanya ditambahkan berbagai vitamin, seperti vitamin A, vitamin B1, B3, B6, B12, vitamin D dan vitamin E. Vitamin-vitamin tersebut biasanya kurang stabil selama proses pengolahan, sehingga perlu dilapisi atau dicoating. Bahan pelapis inilah yang bisa berasal dari gelatin, karagenan, gum atau pati termodifikasi. Gelatin bisa berasal dari tulang sapi atau babi.

Masih mengenai vitamin, sumber bahan tersebut juga perlu dicermati, apakah berasal dari bahan hewani ataukah produk mikrobial. Saat ini vitamin yang diperdagangkan secara internasional memang kebanyakan dari produk mikrobial. Oleh karena itu perlu dikaji, apakah media yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba tersebut berasal dari bahan yang halal atau haram.

Pada susu formula juga sering ditambahkan berbagai macam mineral tambahan, seperti kalsium, besi dan mineral esensial lainnya. Sumber mineral ini ada yang berasal dari batu-batuan, ada juga yang diekstrak dari bahan-bahan organik, seperti susu, tanaman dan produk hewani. Misalnya kalsium yang diekstrak dari tulang binatang, baik yang halal maupun haram.

Dari berbagai kemungkinan masuknya unsur haram ke dalam susu olahan tersebut, maka sebaiknya konsumen Muslim lebih berhati-hati. Apalagi dengan maraknya produk-produk impor yang belum semuanya mendapatkan sertifikat halal. Keunggulan dan kelebihan yang ditawarkan produsen melalui iklan yang gencar perlu dibarengi dengan kehati-hatian dalam memilih yang tepat dan benar-benar halal.

 

LP POM MUI Menjawab

Produk Jeli

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Saat ini marak produk-produk jeli dengan warna, bentuk dan rasa yang menggoda. Anak-anak paling suka dengan produk yang kenyal tersebut. Apakah jeli itu aman bagi kita, ataukah ada bahan-bahan yang meragukan di dalamnya? Mohon penjelasannya.

Wassalam, Ami-pro@telkom.net.id

Jawaban:

Jeli adalah makanan berbentuk gel dengan tekstur kenyal. Pembentukan gel ini terjadi karena adanya bahan yang mampu menahan air dalam suatu matriks, sehingga terjebak dalam struktur yang lembek dan kenyal. Bahan yang bisa melakukan fungsi tersebut cukup banyak, antara lain berbagai jenis pati, karagenan (rumput laut), agar dan juga gelatin. Masing-masing memiliki sifat gel dam karakter yang berbeda-beda. Misalnya, gel yang terbentuk dari agar memiliki sifat rapuh, mudah patah, dan lebih keras.

Pati menghasilkan gel yang lebih kenyal, kuat dan elastis, namun cenderung liat dan sulit digigit. Sementara gelatin memiliki tekstur yang lebih lembut, elastis, dan mudah digigit. Mana yang lebih baik? Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu produk jelly yang beredar di pasar biasanya adalah gabungan dari berbagai bahan untuk mendapatkan mutu terbaik dengan harga semurah-murahnya. Nah, mungkin saja gelatin juga masuk ke dalamnya, meskipun tidak selalu demikian.

Selain itu, supaya lebih enak dan menarik jeli juga ditambahkan berbagai bahan perasa (flavor). Ada rasa jeruk, mangga, stroberi, anggur, dan sebagainya. Bahan-bahan perasa itu juga perlu dikaji, apakah halal atau tidak.

Minyak Goreng Assalamu'alaikum Wr Wb,

Minyak goreng yang ada saat ini banyak menawarkan keunggulannya masing-masing. Ada yang mengatakan dua kali penyaringan, ada asam lemak omega tiga, omega sembilan dan ada juga yang bebas kolesteror. Sebagai konsumen saya sering merasa bingung dengan gencarnya iklan ini. Mana minyak yang lebih baik buat saya? Apakah ada juga kemungkinan haramnya?

Wassalam,

Kurni-liaw@yahoo.com

Pada dasarnya hampir semua minyak goreng yang beredar saat ini berasal dari minyak tumbuhan, seperti minyak sawit, kelapa, kedelai, jagung, bunga matahari, biji kapas, dan sebagainya. Secara umum minyak nabati memang tidak mengandung kolesterol. Perbedaan sumber minyak tersebut hanya pada komposisi asam lemaknya, ada yang lebih banyak asam oleat, stearat atau palmitatnya.

Sebaiknya Anda tidak perlu terlalu pusing memikirkan iming-iming iklan dan klaim dari pihak perusahaan, karena pada dasarnya secara umum mereka itu sama saja, hanya sedikit perbedaan asam lemak yang tidak terlalu signifikan. Yang lebih penting lagi adalah apa yang Anda goreng dengan minyak itu. Meskipun minyaknya sehat, tetapi kalau yang digoreng adalah makanan berkolesterol tinggi, maka hal itu tidak ada artinya.

Dari segi sumber bahan, minyak nabati memang tidak terlalu masalah. Namun selama proses pengolahan minyak tersebut ditambahkan antioksidan (antitengik) agar lebih awet dan tidak cepat tengik. Bahan antioksidan inilah yang perlu dikaji. Ada beberapa jenis antioksidan yang sering dipakai industri minyak, antara lain TBHQ, BHT, atau tokoferol. Tokoferol ini kurang stabil, sehingga harus ditambahkan bahan pelapis (coating) yang bisa saja berasal dari sumber yang diragukan kehalalannya. Selain itu proses penjernihan dan penghilangan bau juga menggunakan karbon aktif yang harus dikaji sumbernya.

Penulis : tim lppom mui

REPUBLIKA - Jumat, 26 Agustus 2005      

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA