Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Nilai Sebuah Waktu

Senin 04 Feb 2019 11:14 WIB

Red: Agung Sasongko

ilustrasi merenungi waktu dan dosa

ilustrasi merenungi waktu dan dosa

Foto: jart-gallery.blogspot.com
Tanda optimal memanfaatkan waktu adalah bagaimana setiap waktu dapat bernilai ibadah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sahroni Bin Anwar Ali

JAKARTA -- Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.'' (QS al-Insyirah: 7). Potongan ayat dari surah al-Insyirah di atas mengajarkan kepada kita, kunci efektivitas waktu adalah manakala kita telah menyelesaikan satu pekerjaan, segera bersiap mengerjakan pekerjaan lain yang menunggu untuk kita selesaikan.

Allah SWT menegaskan agar manusia menggunakan kesempatan hidup untuk sebanyak-banyaknya beramal saleh karena waktu yang telah kita gunakan tidak akan pernah kembali. Sejarah Islam menyuguhkan banyak kisah hikmah tentang hal tersebut.

Keunggulan pasti lebih dekat dengan orang yang paling optimal memanfaatkan waktunya. Bagi orang beriman, tanda optimal memanfaatkan waktu adalah bagaimana setiap waktu dapat bernilai ibadah.

Baik itu di masjid, kantor atau tempat kerja, di tengah keluarga, maupun di tengah masyarakat. Bagi siapa saja yang terlena dengan waktu yang dimilikinya, baginya kelak penyesalan tiada tara. Sebagaimana penyesalan Fir'aun saat nyawa sudah di tenggorokan.

Itu akibat kedurhakaan Fir'aun terhadap Sang Pencipta. Saat diberi kesempatan bertobat, ia abai karena kecintaannya terhadap dunia. Agar kita mampu memaksimalkan waktu dengan efektif, kita harus berlaku adil dalam pengunaannya.

Kapan waktu untuk ibadah, kapan waktu untuk bekerja, kapan waktu untuk olahraga, dan kapan waktu untuk beristirahat. Semua harus diatur dengan proporsional. Sibuk bekerja, misalnya, tetapi tanpa dibarengi istirahat cukup, bahkan tanpa dibarengi ibadah mahdhah yang baik, semua itu hanya akan menjadi bumerang yang berdampak negatif terhadap diri kita.

Syaikh Ibnu Qoyyim berkata, Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian, karena kehilangan waktu membuatmu jauh dari Allah dan hari akhir, sementara kematian membuatmu jauh dari kehidupan dunia dan penghuninya saja.

Menurut Imam Hasan al-Banna, yang ditulis Syaikh dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya Demi Masa, waktu adalah kehidupan sebab tiada kehidupan manusia melainkan masa yang ia selesaikan dari saat kelahiran sampai kematian. Seorang mukmin seharusnya mampu menjadikan pergantian siang dan malam sebagai pelajaran yang baik bagi dirinya.

Hendaknya seorang Muslim mampu mengatur waktu yang dimilikinya dengan berbagai aktivitas bernilai ibadah, seperti melakukan kewajiban-kewajibannya dan berbagai macam amalan baik lainnya, baik amalan yang bersifat duniawi maupun yang berkaitan dengan amalan ukhrawi.

Allah SWT berfirman, Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (QS an-Nur: 44).

Seorang mukmin hendaknya mengerti atas pentingnya waktu. Amal perbuatan apa yang lebih utama yang harus dikerjakan. Apakah amal perbuatan hati, lisan, ataupun anggota badan? Karena itu senantiasa memperhatikan amalan perbuatan yang hendak dikerjakan sehingga amal itu tepat sasaran dan diterima Allah SWT. Amin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA