Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Amal Aqabah, Seperti Apa?

Selasa 04 Dec 2018 06:06 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Jangan menunda-nunda dalam mengerjakan kebaikan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Banyak ustaz kita menyitir QS al-Baqarah (2): 148, “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” Ayat ini populer dan nyaring di telinga kita. Tapi, sepertinya belum akrab dengan alam nyatanya.

Nah, momentum pergantian tahun haruslah mendorong kita berusaha untuk lebih mendekati ayat tersebut dalam keseharian kita berikutnya. Waktu berlalu adalah waktu menuju kebaikan, waktu yang diadu cepat dengan amal kebaikan.

Yang namanya perlombaan itu berarti siapa lebih cepat. Jadi, siapa lebih cepat dalam mengerjakan kebaikan maka dia lebih baik dari manusia lainnya dan karenanya pasti disukai Pemilik kebaikan, yaitu Allah SWT.

Sebaliknya, yang menunda-nunda dan lambat dalam mengerjakan kebaikan, berarti tidak lebih baik dari yang lain dan pasti kurang disukai oleh-Nya. Amal yang melambat dan tertunda dengan waktu lama dalam konteks percepatan kebaikan, jelas keadaan yang tidak bijak.

Kita saja menganggap menunggu merupakan pekerjaan yang sangat membosankan. Maka tentu tidak berlebihan jika kita sebut keadaan beramal baik yang ditunda seharusnya menjadikan Allah pun bosan dan jemu dengan kita.

Tapi Allah adalah Zat yang dominan dengan rahmat-Nya bahkan kepada para pendosa dan mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya sekali pun, selalu berbalas rahmat ketimbang murka; sabaqat rahmati ‘ala ghadhabii.

Renungan lanjutan dari ayat di atas, yakni ternyata kita perlu bergerak naik. Tidak hanya berjalan, tapi belajar untuk berjalan dengan mendaki. Lawan dari mendaki adalah menurun. Kalau mendaki kita menuju puncak maka menurun berarti menuju lembah atau jurang.

Bendera kemenangan selalau dikibarkan di puncak bukan di lembah apalagi di jurang.  Karena itu, kita tidak hanya berlomba dalam amal, tapi belajar untuk adu sprint menuju puncak dengan cara mendaki.

Pasti kita akan membutuhkan energi tambahan dan kekuatan ekstra di samping kesabaran dan belajar semakin mengenali keadaan. Karena, menuju puncak pastinya medannya akan semakin berat dan ruang udara pun hampir menipis.

Tapi lihat setelah kita berada di puncak, rasa lelah itu seperti sirna begitu saja dan bukankah segera dia pancangkan bendera kemenangan? Begitulah gambaran beramal dengan percepatan dan dengan proses pendakian. Kita sedang beramal dengan amal aqabah.

Amal pendakian sukar lagi sulit. Allah menegaskan, “Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi, dia menempuh jalan yang mendaki dan sukar (aqabah).

Tahukah kamu, apa itu amal mendaki dan sukar itu? Ya, itu adalah amal melepaskan ketertindasan. Tergerak berbagi makan pada hari terjadi kelaparan. (Utamanya) untuk anak-anak yatim yang berkerabat. Atau, orang miskin yang sangat fakir. Kemudian bersegera menjadikan dirinya sebagai orang yang semakin beriman dengan saling mengingatkan kepada kesabaran dan berpesan untuk berkasih sayang. Itulah golongan kanan (yang mengibarkan kemenangan).” (QS al-Balad [90]: 10-18).

Begitulah amal aqabah. Amal yang tersegera, insya Allah kita wujudkan pada tahun yang segera kita jelang. Wallahu a’lam.   

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES