Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Guru Suprarasional

Kamis 05 Jul 2018 02:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Guru suprarasional akan selalu mengingat Allah SWT dalam menjalankan amanahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asep Sapaat

Setiap guru memiliki masalah hidup dan kehidupan. Karena masalah itu, guru menjadi berkeluh kesah. Firman Allah SWT: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah." (QS al-Ma'arij: 19–20).

Bersikap keluh kesah saja tak akan menyelesaikan masalah hidup. Guru harus berpikir dan berikhtiar untuk mengatasi persoalan hidupnya. Raden Ridwan Hasan Saputra (2017) dalam bukunya yang berjudul Cara Berpikir Suprarasional menjelaskan kiat penting untuk bisa menyelesaikan masalah hidup, bahkan untuk mendapatkan rezeki dari jalan yang tak terduga. Guru suprarasional memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan karyawan Allah yang gemar berbuat kebajikan.

Guru yang menjadikan dirinya sebagai karyawan Allah tak akan gentar menghadapi masalah hidup. Firman Allah SWT: "Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS al-Maidah: 120). Allah menjadi tempat bergantung para guru suprarasional atas segala masalah yang menimpa hidupnya.

Karena kesadaran ini, guru suprarasional memahami antara tujuan hidup dan cara meraih tujuan hidup. Beribadah kepada Allah SWT adalah tujuan hidup. Sedangkan menjalani peran sebagai guru sebagai cara untuk meraih tujuan hidup sekaligus ungkapan rasa syukur dari seorang hamba kepada Sang Khalik. Tegasnya, guru suprarasional bekerja untuk Allah SWT, bukan untuk makhluk.

Dalam konsep cara berpikir suprarasional dikenal istilah tabungan jiwa. Tabungan jiwa merupakan tempat menampung energi positif, pahala, dan karma baik sebagai hasil dari perbuatan baik yang dilakukan (Saputra, 2018). Tabungan jiwa bersifat gaib. Tabungan jiwa bisa bertambah karena amal saleh yang dilakukan.

Sebaliknya, tabungan jiwa pun bisa berkurang karena perbuatan dosa yang dilakukan. Jika guru memiliki tabungan jiwa yang banyak, kebutuhan yang bersifat fisik (pangan, sandang, papan, dan hal lain yang bersifat materi) dan kebutuhan yang bersifat nonfisik (memiliki keluarga yang harmonis, keturunan yang saleh, anak yang pandai, pekerjaan yang berkah, dsb) bisa dipenuhi.

Guru suprarasional akan selalu mengingat Allah SWT dalam menjalankan setiap amanahnya. Karena senantiasa mengingat Allah SWT, hidupnya selalu bersemangat untuk beramal saleh dan berusaha menghindari kemaksiatan. Guru suprarasional bekerja dari satu kebaikan ke kebaikan lainnya. Waktu hidupnya diberkahi Allah SWT.

Karena guru suprarasional menjaga hak-hak Allah maka Allah menjaga dan membantu menyelesaikan segala urusan hidupnya. Sebaliknya, guru yang abai terhadap hak-hak Allah dan hanya mengejar urusan dunia, kemelut hidup akan terus menggelayutinya.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan empat macam penyakit kepadanya, yaitu: pertama, kebingungan yang tiada putusputusnya; kedua, kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya; ketiga, kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi; keempat, khayalan yang tidak berujung wujudnya (HR Muslim). Wallahu a'lam bissawab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES