Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Lokomotif Rohaniah

Senin 28 Mei 2018 13:44 WIB

Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ramadhan berhasil digerakkan umat menjadi media kolektif (bersama).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH Fauzul Iman

Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, kehadirannya tidak dapat disangsikan telah mendapat sambutan yang begitu semarak oleh kaum Muslimin, baik dalam level dunia maupun nasional.

Khusus di negeri kita, hampir semua komunitas Muslim menyambutnya dengan tingkat mobilitas kegiatan keagamaan yang amat berbeda dengan bulan-bulan biasa. Utamanya menyangkut antusiasme aktivitas keagamaan yang dilakukan, tampak ke permukaan menonjol.

Tidak saja dalam kegiatan-kegiatan yang skalanya terbatas pada space sosial tertentu, tetapi juga kerap pada kegiatan keagamaan yang melampaui batas lintas kultur.

photo

Infografis Mengenal Ramadhan pada Anak

Dalam space tertentu sebut saja, misalnya, yang paling normatif adalah shalat jamaah Tarawih bersama, kontemplasi ibadah melalui Tahajud, ikitikaf, kultum, buka bersama, bazar amal, dan diskusi-diskusi keagamaan. Sementara yang sifatnya paling konkret adalah gerakan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah.

Pada batas yang paling formal, antusiasme keagamaan di atas amat baik setidaknya umat Islam secara simbolis telah meletakkan keagungan Ramadhan sebagai syiar. Artinya, umat Islam mampu mendeklarasikan Ramadhan di tengah-tengah umat dengan aneka kegiatan dan dengan pesertanya dalam jumlah masif.

Tegasnya, Ramadhan berhasil digerakkan umat menjadi media kolektif (bersama) dalam memperoleh inspirasi (pelajaran) agama, menggagas dan memecahkan persoalan pendidikan, dan pembiasaan-pembiasaan disiplin. Termasuk dalam hal penggalangan solidaritas sosial Islamiyah.

Firman Allah SWT, Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu sesungguhnya timbul dari ketakwaan hati." (QS 22: 32). Dalam diskursus sosiologi agama, Ramadhan dapat menjadi penggerak emansipatoris di tengah-tengah monumentalitas umat.

Emansipatoris, menurut James Hastings dalam bukunya, Encyclopedia of Religion and Ethic, artinya suatu pembebasan dari hidup pembekuan intelektual, kemiskinan, pemihakan individu, kekuasaan, dan golongan. Dengan kata lain, emansipatoris adalah gerakan bersama membebas kan kezaliman (penindasan), sifat individualisme, dan aroganisme dalam upaya mewujudkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Kita cermati bagaimana Ramadhan menjadi lokomotif kegiatan rohaniah. Dengan Tarawih bersama, secara psikologis umat didorong dapat melakukan temu sosial dan silaturahim dalam batas dan lingkup kohesivitas masyarakat.

Dengan kultum, umat sekali waktu diketuk dan disentuh batinnya dengan pesanpesan agama mengenai disiplin hidup, tentang persatuan, perdamaian, pencerahan, dan perubahan hidup.

Dengan menghimpun zakat, infak, dan sedekah, umat didorong bersatu padu menggalakkan kepekaan sosial dalam membantu duafa. Inilah pentingnya kita lestarikan Ramadhan dalam nuansa emansipatoris.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES