Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Menjemput Hikmah di Kampus Aswaja

Rabu 07 Maret 2018 09:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Hasan Basri Tanjung

Hasan Basri Tanjung

Foto: dok. pribadi
Ada empat kunci utama dalam membangun lembaga pendidikan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung

Pekan lalu, saya menghadiri Seminar Nasional Pendidikan Islam di Institut Ummul Qura Al-Islami (IUQI) Bogor. Beruntung sekali mendapat pencerahan intelektual dan spiritual dari dua ulama, yakni Prof KH Muhammad Tolchah Hasan (mantan menteri agama RI)dan Prof KH Mahmud (Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung).


Kali ini, saya hanya mengurai butiran hikmah dari KH Tolchah Hasan, ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU) nan hangat dan bersahaja. Beranjak dari pengalaman yang panjang, beliau memberikan empat kunci utama dalam membangun lembaga pendidikan Islam.

Pertama, ikhlas. Niat yang tertanam di lubuk hati sejak awal membina umat haruslah karena dan untuk meraih ridha Allah SWT. Hendaknya tiada tujuan duniawi di benak pikiran yang ingin diraih, selain lillahi ta'ala (karena dan untuk Allah). Niat yang tulus ini akan mewarnai langkah dan tindakan pada kemudian hari hingga berwujud pada pencapaian dan penghargaan yang diraih (HR Bukhari).

Bagaikan mata air yang keruh akan mengalirkan sungai yang keruh pula (QS 2:139, 4:125, 146).
Jika terbersit niat yang kurang tulus, segeralah meluruskannya agar lebih kuat dalam mendaki jalan kemuliaan.

Kedua, sabar. Tiada perjuangan yang tidak menghadapi ujian dan tantangan berat. Jika setiap pengorbanan berbuah kejayaan dan tidak pernah menemui kesulitan atau kegagalan, lalu kapan belajar kesabaran? Jika berjalan di daratan akan menemui tanjakan. Jika berlayar di lautan akan menghadapi hempasan ombak bersahutan. Jika terbang di angkasa akan berhadapan dengan tiupan angin kencang.

Bersabarlah dan jangan menyerah, apalagi putus asa. Manshabara dzafira (Siapa yang bersabar akan beruntung). Kesabaran akan membuahkan kekuatan berlipat ganda karena Allah selalu bersamanya (QS 2:45,163, 8:65).

Ketiga, istiqamah. Perjuangan fii sabilillahbelum berhasil walau dilandasi keikhlasan dan dihiasi kesabaran tanpa konsistensi (ketetapan hati yang kuat). Walau perjuangan sulit, tidak boleh berhenti, apalagi menyerah kalah. Sungguh, pertolongan dari langit akan turun pada saatnya, yakni ketika berada di ujung batas pengharapan (QS 41:30-31).

Dalam kesungguhan akan ada kejenuhan. Dengan istiqamah, akan muncul semangat pergerakan (HR at- Turmudzi 2377). Ketika seseorang meminta nasihat tentang Islam, Nabi SAW menjawab, katakanlah, Aku beriman kepada kepada Allah, lalu istiqamahlah (HR Muslim).

Keempat, amanah. Salah satu sifat kenabian adalah amanah (tepercaya). Sikap dan perilaku amanah berwujud profesionalitas dan akuntabilitas publik yang bernilai tinggi. Jika dipercaya, program apa pun akan didukung sepenuhnya. Namun, jika tidak dipercaya, segala kata dan tindakan akan percuma dan tak dihiraukan lagi.

Pandailah menjaga amanah, baik dari Allah SWT maupun manusia (QS 4:58, 8:27, 23:8). Sekali telanjur ke ujian, seumur hidup orang tak percaya, begitu nasihat orang tua kita dahulu. Kepercayaan itu mahal harganya, semahal harga yang harus ditanggung ketika mengkhianatinya.

Keempat kompetensi tersebut memang tidak mudah dilakukan karena akan dihadapkan pada tantangan untuk menguji kesungguhan (QS 2:214, 3:142). Jika kita ikhlas, sabar, istiqamah, dan amanah, hasilnya nanti akan mengagumkan. Namun, jika riya dan sum'ah, maka akan cepat sirna dan hampa kemanfaatan. Allahu a'lam bishawab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES