Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tobatnya Sang Sufi

Ahad 25 February 2018 05:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Perjalanan sufi (ilustrasi)

Perjalanan sufi (ilustrasi)

Foto: Blogspot.com
Banyak kisah para sufi terkemuka yang memiliki masa lalu kelam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada banyak kisah para sufi terkemuka yang memiliki masa lalu kelam, penuh dengan noda kenistaan. Berkat hidayah Allah SWT, mereka pun kembali ke jalan yang lurus. Di antara kisah yang ternukilkan dari generasi ke generasi, ada cerita tentang pertobatan pentolan sufi, Bisyr bin al-Harits al-Hafi.

Kebesaran nama tokoh yang lahir di Merv 150 H/ 767 M itu tak terbantahkan lagi. Ia sangat dikagumi berbagai kalangan, baik ulama atau umara. Ahmad bin Hanbal sangat kagum dengan kepiawaiannya di bidang hadis. Khalifah al-Ma’mun menghormati kepakarannya dalam ilmu agama. 

Akan tetapi, tak ada yang pernah menduga bahwa sosok yang juga dikenal dengan Abu Nashr itu, pernah melewati masa-masa kelam sepanjang hidupnya. Ia dikenal sebagai berandal dan preman. Hari-harinya diisi dengan berfoya-foya, bermabuk-mabukan, dan kerap berbuat onar, serta mendengarkan musik ditemani para budak-budak wanita. 

Hingga suatu ketika, pada malam hari, saat ia berjalan sendirian terhuyung-huyung akibat pengaruh minuman keras, tiba-tiba ia melihat secarik kertas, lalu mengambilnya. Ternyata di atas selembar kertas itu, tertuliskan lafal basmalah. Ia kemudian membeli minyak mawar seharga dua dirham dengan sisa uang yang ia miliki. Ia percikan parfumnya itu ke kertas tersebut lantas membawa dan menyimpannya di rumah. 

Sesampainya di rumah, Bisyr tertidur. Di tengah-tengah tidur lelapnya, ia bermimpi mendengar suara yang sangat jelas, tanpa tahu secara pasti siapa sumber suara itu dan berkata, “Engkau telah mengharumkan nama-Ku maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah menyucikan dirimu. Demi kebesaran nama-Ku, niscaya kuharumkan namamu, baik di dunia atau di akhirat.”

Bisyr tidak percaya, ia menghiraukan mimpinya. Ia bergumam, tidak mungkin Bisyr yang berandal akan mendapatkan penghormatan sedemikian rupa. Ia pun bangun, berwudhu, selanjutnya shalat. Ia tertidur lagi. Mimpi itu berulang hingga tiga kali. Peristiwa ini selalu terngiang, tetapi ia tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Bergelimang dengan dosa. 

Satu saat, Bisyr dan koleganya tengah berpesta pora di rumahnya, penuh suara musik, gelak tawa, ditemani anggur dan budak-budak perempuan. Seorang tokoh ulama yang terkenal saleh mengetuk pintu rumah Bisyr yang disambut oleh pembantunya. “Siapa pemilik rumah ini? Ia seorang hamba sahaya atau orang merdeka?” tanya orang saleh itu. 

Si pembantu menjawab bahwa pemilik rumah bukan hamba melainkan orang merdeka. 

“Pantas kalau begitu, jika ia seorang hamba, niscaya akan berperilaku dengan etika penghambaan dan meninggalkan berfoya-foya,” ujar alim tersebut sembari beranjak dari kediaman “Sang Berandal”. Dari ruang tengah, Bisyr mendengar percakapan mereka berdua. Ia pun bergegas menghampiri pembantunya dan menanyakan, siapa gerangan orang asing yang bertandang ke rumahnya tersebut. Pembantu tak tahu-menahu.

Bisyr pun mengejar dan mengikuti jejak alim misterius tersebut. Begitu bertemu, ia menanyakan apakah benar sosok yang ia kejar tersebut adalah alim yang berkunjung ke rumahnya, beberapa saat lalu. Ternyata benar. Bisyr meminta sang alim mengulangi  kata-kata bijaknya. Tersentuh dengan petuah sang alim, Bisyr lantas menyentuhkan kedua pipinya di atas tanah sembari berujar, “Bukan, bukan, saya adalah seorang hamba,” ujarnya dengan kondisi kaki bertelanjang, tanpa alas apa pun. 

Ia kembali ke rumahnya dan berpamitan kepada koleganya. “Sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini.” 

Sejak itulah, Bisyr berubah dan menjadi pribadi yang saleh dan bertakwa. Ia tak pernah melalaikan kewajiban beribadah kepada-Nya. Saking khusyuk shalat, ia bahkan kerap beribadah tanpa alas kaki, ia pun dijuluki “si manusia berkaki telanjang.” Sewaktu ditanya, mengapa ia melakukannya, Bisyr menjawab, “Aku tidak akan menjumpai Tuhanku, kecuali berkaki telanjang, dan aku akan melakukannya hingga ajal menjemputku,” katanya. 

Bisyr meninggalkan dunia kelam dan mendalami ilmu agama. Ia menekuni hadis di Baghdad dan menggeluti olah spiritual, tasawuf. Pembersihan diri dan penyucian hati telah menempatkannya dalam posisi yang terhormat di sisi-Nya. Bisyr pun terkenal mempunyai sejumlah karamah.

Pernah suatu ketika seorang preman mengancam perempuan dengan pisau yang terhunus di leher. Tak ada yang berani mendekat. Tiba-tiba Bisyr mendekap si preman dari belakang, lalu tersungkurlah preman tersebut dengan keringat yang mencurus deras. Ia tak berdaya. 

Warga mengerumuni sang preman dan menanyakan, apa yang membuatnya terkapar. “Siapa sosok orang saleh tadi? Ia membisikkan di telingaku bahwa Tuhan selalu mengawasi. Seketika, sendi-sendiku gemetar, aku tersungkur.” Warga menjelaskan bahwa sosok yang ia maksud adalah Bisyr. 

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jepang Menang 2-1 Atas Kolombia

Selasa , 19 June 2018, 22:41 WIB