Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Lembut dan Santun

Kamis 08 February 2018 15:18 WIB

Red: Agung Sasongko

Berbuat ikhlas agar umat Islam tidak menjadi umat penyembah berhala. (ilustrasi)

Berbuat ikhlas agar umat Islam tidak menjadi umat penyembah berhala. (ilustrasi)

Foto: www.moslemsubang.wordpress.com
Lembut dan santun adalah dua sifat Allah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karman

Kelembutan hati serta kesantunan kata dan perbuatan seperti sinar laser yang menembus kulit. Kelembutan dan kesantunan dapat meluruhkan hati yang keras tanpa menyakiti dan mencerahkan pikiran yang bebal tanpa menghakimi.

Keduanya juga memperbaiki sikap dan perbuatan tanpa memaksakan, sebagaimana sinar laser meluruhkan batu ginjal atau batu empedu tanpa merusak kulit sehat yang dilaluinya. Kekuatan keduanya akan menembus relung jiwa yang paling dalam (lub) sehingga dapat mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.

Lembut dan santun adalah dua sifaf baik Allah (al- Asma al-Husna) yang juga disematkan kepada manusia. Allah itu Mahalembut (al-Lathief) dan Mahasantun (al-Haliim). Alquran menyebut juga Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai sosok manusia santun (QS at-Taubah [9]: 114; ash-Shaffaat [37]: 101). Nabi Muhammad SAW pun termasuk manusia yang diberi Allah SWT sifat lembut (Layyin dan Adzillah) (QS Ali Imran [3]: 159; al-Maidah [5]: 54).

Penyematan sifat lembut dan santun Allah SWT kepada manusia mengandung beberapa makna. Pertama, sifat lembut dan santun Allah termasuk sifat yang dapat dicontoh manusia. Jika Allah Mahalembut dan Mahasantun, manusia mesti memiliki sifat lembut dan santun. Seperti yang sering diungkapkan sebagian sufi, "Berakhlaklah kamu sekalian sebagaimana akhlak Allah (takhallaquu bi akhlaaqillah)."

Kedua, sifat lembut dan santun merupakan pemberian atau rahmat Allah SWT sehingga selain bisa diusahakan juga harus diminta kepada Allah SWT.

Ketiga, sifat lembut dan santun menjadikan orang lapang dada sehingga akan mudah memaafkan dan memohonkan ampun bagi orang yang berbuat salah padanya serta senantiasa siap untuk bermusyawarah sebagaimana ditegaskan Allah SWT.

"Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." ( QS Ali Imran [3]: 159).

Keempat, sifat lembut dan santun memiliki kekuatan Ilahiah (ketuhanan) sehingga dapat mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin, mengubah permusuhan menjadi persaudaraan, dan menyatukan hati yang bercerai-berai menjadi bersatu.

Semua itu digambarkan oleh ayat-ayat berikut: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapatkan petunjuk." (QS Ali Imran [3]: 103). Wallahu a'lam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA