Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Perjalanan Ilmiah

Jumat 26 Januari 2018 13:24 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Mengembara mencari ilmu dan hikmah merupakan tradisi orang saleh.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung

Sabtu pekan lalu, Komunitas Pencinta Ilmu (KOPI) yang dipimpin Ustaz Dr Adian Husaini melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiah) ke Malaysia. Kegiatan utama mengikuti Saturday Night Lecture bersama Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud di Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation Universitas Teknologi Malaysia (CASIS UTM). Kami juga sempat ke International Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) yang pernah jaya semasa Prof Dr Naquib Al-Attas.

Mengembara mencari ilmu dan hikmah merupakan tradisi orang saleh. Nabi Musa AS, misalnya, disuruh Allah SWT mencari seorang alim karena mengaku orang paling berilmu (HR Bukhari 4.358). Beliau menempuh perjalanan jauh, menyeberangi lautan dan melintasi bebatuan agar bertemu Nabi Khidir AS (QS 60: 82).

Demikian pula Imam Asy-Syafi'i (w 204 H) yang lahir di Gaza, Palestina. Beliau berkunjung ke Makkah, lalu ke Madinah dan Baghdad, dan merantau di Mesir hingga wafat. Dengan ilmu yang didasari iman dan dihiasi adab akan mengangkat martabat seseorang di dunia dan akhirat (QS 58:11).

Dalam al-Hikam karya Imam Syafi'i, tertera sebuah syair nan indah. "Tidak ada tempat untuk diam bagi orang yang berakal dan beradab. Tinggalkanlah kampung halaman dan pergilah merantau. Mengembaralah, niscaya engkau akan mendapat sahabat pengganti yang kau tinggalkan. Bekerja keraslah karena kelezatan hidup ada dalam usaha..." Perjalanan ilmiah dapat menyadarkan kita akan kekurangan. Bak kata pepatah, "Lama hidup banyak dirasa.

Jauh berjalan banyak dilihat. Pandai bergaul banyak sahabat." Setidaknya ada empat hikmah yang diperoleh: Pertama, menghargai ilmu. Menarik perhatian kami saat menghadiri kajian Islam di CASIS. Ruangan seperti bioskop itu dipenuhi lebih dari 300 orang pencinta ilmu dari berbagai negara dan kalangan. Selama dua jam lebih tidak seorang pun peserta yang meninggalkan ruangan. Bahkan, tak terdengar bunyi dering HP atau suara gaduh. Semua antusias mendengar paparan Prof Wan Daud yang bersahaja.

Kedua, ilmu dan adab. Persoalan manusia saat ini adalah hilangnya adab. Jika berilmu tak beradab akan hancur dan menghancurkan. Jika beradab tak berilmu akan mudah menerima kebenaran dan memperbaiki kesalahan. Mampu menempatkan atau memperlakukan sesuatu sesuai tempat dan tujuan. Seperti adab kepada guru, yakni ikhlas menerima pengajaran dan bangga menyebutnya di depan orang.

Ketiga, ikhlas dalam amal. Guru dan murid harus ikhlas yang dibingkai pandangan dunia tauhid. Keikhlasan melahirkan kesungguhan, kesabaran dan kejayaan. Sekiranya murid tinggal sedikit pun, seorang guru harus tetap ikhlas mendidiknya. Sebab, bukan jumlah yang penting, melainkan kualitasnya (QS 2:249). Seekor singa yang mengaum akan membuat ribuan binatang gemetar, walau ia hanya duduk di sarangnya.

Keempat, guru bukan tukang. Guru yang hebat akan melahirkan murid yang hebat. Oleh karena itu, seorang guru atau dosen harus terus meningkatkan keilmuan. Belajar tiada henti sepanjang hayat. Guru yang berhenti belajar sepatutnya berhenti mengajar. Guru kilang yang bekerja sesuai standar opersional. Guru juga bukan tukang yang hanya mengulang-ulang pekerjaan sebab objeknya benda yang tak punya rasa.

Perjalanan ilmiah ke berbagai penjuru dunia untuk mendapat pelajaran adalah kemuliaan. Setiap jalan mencari ilmu adalah jalan menuju surga (HR Abu Daud 3.157). Semoga setiap perjalanan yang kita lakukan dapat meningkatkan keilmuan dan keadaban, amin. Allahu a'lam bishawab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES