Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Persepsi Positif

Sabtu 06 Januari 2018 07:57 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Keluarga Bahagia

Ilustrasi Keluarga Bahagia

Foto: Foto : MgRol_93

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Bahagia

Prasangka melahirkan energi negatif dan persepsi positif melahirkan kebaikan. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Jauhilah prasangka karena prasangka itu sebohong-bohong pembicaraan.

Janganlah kalian menjadi orang yang sensitif, jangan mengorek-ngorek kesalahan orang lain (memata-matai orang lain), janganlah saling bersaing, jangan saling mendengki, dan jangan pula saling mengkhianati. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR Imam Muslim).

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka minta maaflah kepadanya sekarang ini. Kalau ia mempunyai amal baik, sebagian dari amal baiknya itu akan diambil sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidak mempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya (HR Bukhari).

Ada beberapa pelajaran dari hadis di atas. Pertama, seleksi kebenaran. Sejatinya seseorang tidak mudah memutuskan tentang sebuah berita. Berita atau informasi harus dicek terlebih dahulu tentang kebenarannya. Lebih baik lagi dia sendiri yang mendengar bukan dari pembicaraan orang lain. Andai seseorang tadi banyak dibicarakan pada sebagian orang maka lebih baik langsung mempelajari individu dari seseorang itu.

Kedua, menjalin silaturahim. Silaturahim dapat mengurangi energi negatif. Bahkan, menghindari seseorang salah sangka. Berbeda dengan halnya jika silaturahim tidak terbangun. Untuk membangun image positif tadi sangat penting menjalin silaturahim baik pada keluarga, tetangga, maupun orang lain.

Ketiga, menumbuhkan perilaku berdiskusi dan bertatap muka. Diam-diam bukan jalan solusi. Kalau ada masalah maka lebih baik langsung bertemu kemudian dibicarakan secara bersama. Akhirnya menemukan titik temu akan persoalan sehingga tidak perlu orang lain hadir yang dapat memperkeruh suasana.

Keempat, menyadarkan diri. Siapa pun selama ini yang sering berpersepsi negatif kepada orang lain, bangunlah persepsi positif. Hukumannya sangat berat. Bagaimana jadinya kalau orang yang selama ini dianggap tidak benar, tetapi dia termasuk orang yang saleh.

Nama orang itu boleh saja buruk di masyarakat, bahkan dikucilkan dari masyarakat. Namun, dia memanen berupa pahala dari orang yang berprasangka negatif kepadanya. Sedangkan, orang yang berpra sangka negatif tadi semakin banyak dosadosanya

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES