Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Mengenang Abuya Jamaluddin Waly

Sabtu 30 Juli 2016 07:48 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Ustaz Muhammad Arifin Ilham .

Ustaz Muhammad Arifin Ilham .

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Kabar wafatnya Abuya Djamaluddin Waly disambut kesedihan segenap masyarakat Aceh. Abuya bukan hanya dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatik, tapi juga sebagai sastrawan dan politisi.

Ayah mertua penulis ini menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Pekan Aceh Barat Daya, sepekan lalu (21/7).

Abuya bernama lengkap Teuku Jamaluddin Waly adalah sosok yang disegani kharisma dan keilmuannya. Beliau putra dari Abuya Syekh Muhammad Muda Waly Al-Khalidy, ulama besar Asia Tenggara sekaligus pendiri Pesantren Darussalam Labuhan Haji, salah satu ponpes tertua di Aceh.

Selain memimpin pesantren warisan orangtuanya dan menjabat Ketua Majelis Zikir Al-Waliyah Aceh, Abuya juga merupakan pembimbing umum (Mursyidul ‘Am) Tarekat Naqsyabandiyah se-Aceh. Selain sebagai ulama, Abuya Jamaluddin Waly adalah politikus andal yang lama berkiprah di parleman.

Pernah juga menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Istimewa Aceh (1968-1987) dan anggota DPR/MPR RI (1987-1999). Selain itu, ulama yang berpembawaan kalem ini juga dikenal sebagai sastrawan, yang sering menulis nasihatnya melalui syair.

Berikut contoh sebuah syair beliau: Ulama alumni Darussalam; Dalam hitungan banyak sekali; Hanya sebagian kami sebutkan Untuk catatan aneuk rohani; Murid pertama Syekh Marhaban; Mengaji di Darussalam pertama kali; Gob nyan pernah mendapat jabatan; Menteri Pertanian di negeri ini; Sebagian besar Ulama di Aceh ini; Punya hubungan dengan Muda Waly; Langsung tak langsung datang mengaji; Tetap ada hubungan rohani; Hubungan rohani tetap abadi; Tidak bisa putus wahai ya akhi; Bapak rohani dengan anak rohani; Akan dipertemukan di akhirat nanti.

Sahabatku, hidup di dunia ini adalah kesempatan satu-satunya dan terakhir kalinya. Sungguh setiap detik yang berlalu, tidak akan pernah mampu kita ulangi lagi. Padahal kita akan hidup di akhirat selama-lamanya. Sementara waktu untuk mengumpulkan bekal di sana terlalu sebentar. Lantas bisakah main-main?

Ingat, menyesal di akhirat tidak ada gunanya. Kalau ingin menyesal, sekarang mumpung masih hidup. Jangan tunda taubat. Kematian mengincar kita dan kadang datang secara tiba tiba! Karena itu, takutlah pada Allah, jangan nekat maksiat. Karena terlalu besar risikonya kelak. Tidak ada yang tidak ada kafaratnya. Semua pasti ada balasannya.

Mulailah hidup keseharian kita dengan bangun shalat malam, berazamlah hidup dalam Sunnah Rasulullah, dan rendahkanlah hati kepada saudara-saudara kita. Dan jadikanlah dunia ini ladang amal, ladang ibadah, ladang dakwah, ladang muhasabah diri, ladang fastabiqul khairaat, berlomba lomba dalam perbaikan dan kebaikan.

Sehingga suatu saat kematian datang baghtatan (sekonyong konyong) kita siap menyambutkan karena kita stand by selalu dalam taat. SubhanAllah walhamdulillah, almarhum tercinta Abuya telah mencontohkan kepada kita wafat terindah.

Wafat di malam jumat, setelah beliau tunaikan shalat Isya. Masih dalam berwudhu, menghadap kiblat, beliau sempat berwasiat waris dibagi sesuai Syariat Islam. Minta dikuburkan di kuburan pesantren. Dan yang memandikan dan menjadi imam shalat jenazah adalah anak tertua laki-lakinya.

Sempat pula meminta para santri senior untuk membaca Alquran. Jelang hembusan terakhir lisan beliau sempat berzikir dan bershalawat serta menyebut lafaz Allah. Dalam keadaan tersenyum beliau menghadap Allah, dan sungguh muka beliau tampak sekali lebih muda dari usianya; bersih dan menyenangkan.

InsyaAllah husnul khotimah. Selamat jalan Abuya. Allahumma ya Allah tanamkan di hati kami kelezatan iman, hiasilah hidup kami dengan kesenangan ibadah dan kemuliaan akhlak. Selamatkan kami dari semua fitnah kehidupan dunia akhirat, dan wafatkan kami husnul khatimah, Aamiin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA