Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Logika Iman

Sabtu 07 Apr 2012 05:00 WIB

Red: Heri Ruslan

Sejumlah pengunjung memperhatikan mumi Raja Firaun ke-18 (Tuthankhamom) dari Mesir yang dipamerkan di Solo.

Sejumlah pengunjung memperhatikan mumi Raja Firaun ke-18 (Tuthankhamom) dari Mesir yang dipamerkan di Solo.

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi

Dalam kajian epistemologi Islam disimpulkan bahwa logika manusia sangat efektif untuk bisa menerima, mencerna, sekaligus menjelaskan kebenaran. Sebaliknya, akal secara otomatis akan kehilangan kekuatan nalar rasionalnya manakala dipaksa untuk mempertahankan kebatilan.

Hal ini tidak lain karena akal adalah instrumen strategis pada setiap manusia untuk bisa memahami maksud dan kehendak Allah SWT. Melalui akal, manusia bisa mempelajari firman-Nya, meneladani rasul-Nya sekaligus mengamalkan setiap perintah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, seiring dengan dinamika kehidupan, logika sering kali kandas ketika harus berhadapan dengan konsekuensi berat tatkala harus memeluk kebenaran.

Di sinilah logika manusia dipertaruhkan. Logika iman dan nafsu bertempur dalam hati yang gejalanya bisa dilihat dari kebingungan, kegusaran, kegelisahan, bahkan mungkin perilaku tidak rasional dari seseorang. Ketika seseorang lebih memilih logika nafsu maka ia akan semakin terjerembab pada pilihan-pilihan yang menjauhkan dirinya dari sifat-sifat kemanusiaannya.

Seperti yang telah dilakukan Firaun yang justru menajamkan logika nafsunya. Karena, sifat paranoid akan kebenaran mimpinya bahwa kelak akan ada seorang lelaki yang akan meruntuhkan kerajaan dan menggantikan tahtanya, tanpa banyak berpikir, Firaun langsung mengambil keputusan bahwa semua bayi laki-laki yang lahir di seantero Mesir harus dibunuh.

Begitu pula dengan Namrudz. Ia tega mengeluarkan perintah untuk menghukum Nabi Ibrahim AS dengan hukuman yang sangat sadis dan tak manusiawi. Ironisnya, Namrudz melakukan itu hanya karena dia kalah debat dengan Nabi Ibrahim AS soal Tuhan. Bagi Namrudz, Tuhan itu adalah berhala yang menjadi sembahannya. Sementara bagi Nabi Ibrahim AS, Tuhan itu adalah Allah SWT.

Tetapi, kebenaran adalah kebenaran. Sekalipun logika nafsu berkuasa dan menjadi penentu dalam kehidupan sosial masyarakat. Kebenaran tetap tak bisa dilenyapkan. Justru mereka yang menolak logika iman akan terjerembab dalam kenistaan, sebagaimana Firaun dan Namrudz. Oleh karena itu, ikutilah apa yang telah dibawa oleh Rasulullah kepada kita semua.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah  dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS [4]: 170).

Logika iman ialah daya nalar rasional yang disandarkan sepenuhnya kepada Alquran dan sunah. Jadi, pandangannya tentang baik dan buruk sepenuhnya merujuk pada apa yang baik atau buruk menurut Allah SWT. Akal dan hatinya diliputi keyakinan kuat bahwa Allah SWT benar-benar Maha Mengetahui.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS [2]: 216).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA