Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Bolehkah Muslimah Hadas Membaca Alquran?

Rabu 24 Jan 2018 18:18 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Menurut mayoritas ahli fikih hukumnya tidak boleh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Bagi seseorang yang sedang berhadas, baik hadas kecil maupun besar, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Amalan tersebut boleh dilakukan setelah mereka bersuci.

Di antara amal an itu ialah membaca Alquran. Bolehkah seorang yang berhadas mem baca Alquran? Bagaimana hukum nya bila hanya membaca sejumlah ayat ataupun surah-surah tertentu saat hadas? Bolehkah hal itu dilakukan?

Dr Abd al-Karim az-Zaidan dalam kitabnya yang berjudul al-Mufashal fi Ahkam al-Mar’at mengatakan, pada dasarnya amalan yang dilarang saat berhadas kecil tidak boleh dilakukan pula oleh mereka yang berhadas besar. Ketentuan ini sama, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Orang yang berhadas tak boleh menunaikan shalat dan memegang mushaf Alquran.

Sebelum menguraikan panjang lebar hukum membaca Alquran kese luruhan atau hanya sebagaian, az- Zaidan terlebih dahulu memaparkan hukum memegang mushaf. Menurut mayoritas ahli fikih hukumnya tidak boleh.

Sedangkan, dalam pandangan Maz hab Dhahiri, tak ada larangan bagi me reka yang berhadas untuk memegang mushaf. Sedangkan, di kalangan Maz hab Syafii, memegang mushaf saat berhadas hanya diperbolehkan bagi anak laki-laki yang telah mumayiz.

Mereka boleh menyentuh atau mem bawanya. Mengapa dispensasi diberikan kepada mereka? Menurut kelompok ini ialah memberikan ke ringan an agar mereka tak keberatan dengan sering berwudhu.

Lantas, bagaimana dengan hukum membaca Alquran? Mayoritas ulama sepakat, mereka yang tengah junub tidak diperbolehkan membaca Alquran. Sedangkan, menurut Ibnu Hazm dan sebagian penganut Mazhab Dhahiri, kondisi junub tak memengaruhi diperbolehkannya membaca Alquran. Me nurutnya, aktivitas membaca Alquran termasuk perbuatan yang baik dan dianjurkan. Pelakunya pun akan diganjar pahala. Karena itu, siapa pun yang beranggapan orang junub dilarang membaca Alquran maka hendaknya ia memberikan argumentasi kuat. Dalam pandangannya, hadis-hadis yang menyatakan tentang larangan menyentuh atau membaca Alquran saat junub diragukan validitasnya dan kurang kuat.

Pendapat ini sama persis dengan pandangan yang disampaikan oleh Said bin al-Musayyib. Tokoh Tabiin tersebut memperbolehkan mereka yang junub membaca Alquran. Sedangkan, pendapat mayoritas ulama merujuk antara lain pada hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Hadis itu menyatakan bahwa kondisi junub menjadi penghalang bagi mereka yang ingin membaca Alquran.

Ayat atau surah pendek

Jika soal membaca Alquran keseluruhan mayoritas ulama bersepakat un tuk melarangnya, namun tidak demi kian dengan halnya membaca sebagian ayat atau surah Alquran tanpa meme gang mushaf. Misalnya, membaca surah al-Fatihah, al-Ikhlas, an-Naas, atau ayat kursi untuk kepentingan rukiah.

Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama. Di kalangan Mazhab Hanafi, orang yang junub tidak boleh membaca Alquran, baik satu ayat surah maupun berapa pun yang dibaca. Pendapat ini dipopulerkan oleh Imam al-Kasani. Ia merujuk hadis riwayat Ali di atas. Selain itu, menurutnya, pelarangan ini dinilai dapat menjaga kehormatan dan kesucian Alquran.

Tak jauh berbeda dengan Mazhab Hanafi, di kalangan Mazhab Syafi’I, seseorang yang berhadas tidak boleh membaca apa pun dari Alquran. Dengan membacanya maka mengurangi kesucian Alquran. Sebuah hadis juga menyatakan bahwa orang yang junub atau haid tak boleh membaca apa pun dari Alquran. Pun demikian dengan Mazhab Hanbali. Menurut mereka, membaca Alquran tidak diperbolehkan selama berhadas. Kecuali, bila yang bersangkutan telah bersuci.

Berbeda dengan kedua mazhab di atas, boleh hukumnya bagi orang hadas atau junub untuk membaca beberapa ayat atau surah saja dari Alquran. Yang dimaksud oleh mazhab ini, misalnya, ayat atau surah yang sering difungsikan untuk benteng diri sehari-hari. Di antaranya, ayat Kursi, surah al-Ikhlas, an-Naas dan al-Alaq. Serupa dengan kelompok ini, Mazhab Zaidiyah juga berpandangan demikian. Orang junub dan berhadas boleh membaca Alquran bila tujuannya ialah untuk doa, pujian, atau meminta perlindungan. Bukan untuk kepentingan tilawah.

Membaca Alquran kala junub

Tidak boleh:

Mayoritas ulama

Boleh:

Mazhab Dhahiri, Ibn Hazm

Sebagian ayat atau surah

Boleh:

Maliki, Dhahiri, Zaidiyah

Tidak boleh:

Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA