Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Antara Jihad Nafsu dan Berperang

Jumat 07 Jun 2013 13:59 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Perang Banjar

Perang Banjar

Foto: kasultananbanjar.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb

Saya mendengar seorang ustaz berkata bahwa jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsu berdasarkan hadis. “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.”

Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang besar itu?” Nabi menjawab, “Jihad hati.” Apakah hadis ini sahih? Dan bagaimana dengan ayat-ayat yag menjelaskan tentang jihad qital (perang)?

Muhammad Khatib – Sumatra Barat

Waalaikumussalam wr wb

Jihad melawan hawa nafsu hakikatnya adalah dasar dari jihad melawan orang kafir dan orang munafik karena seseorang tidak akan mampu berperang melawan mereka sampai dia berhasil menundukkan hawa nafsunya.

Jadi, jihad melawan hawa nafsu bukan untuk menghentikan jihad qital (berperang) melawan kaum kafir dan munafik yang membunuh dan mengusir orang Islam dari kampung halamannya serta memerangi agama Allah.

Ada suatu riwayat yang banyak beredar di tengah masyarakat sehingga menganggapnya sebagai hadis dari Nabi SAW. Banyak pihak yang menggunakan riwayat hadis ini untuk merendahkan dan menganggap enteng urusan jihad di jalan Allah SWT.

Hadis ini disebutkan oleh al-Mula Ali al-Qari dalam kitabnya Al-Asrar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah (Rahasia-Rahasia yang Terangkat dalam Hadis-Hadis Palsu), juga dalam kitab Tadzkirat al-Maudhu’at (Peringatan akan Hadis-Hadis Palsu) karangan Muhammad bin Thahir al-Fitani.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Jabir telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Orang-orang yang baru berperang?’ Maka Rasulullah SAW berkata, “Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Beliau menjawab, “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Al-Zuhd, dan mengatakan sanadnya dhaif (lemah). Ibnu Taimiyah mengatakan, hadis ini tidak ada dasarnya, tidak ada seorang ahli perkataan dan perbuatan Nabi pun yang meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah di antara amalan yang paling mulia.

Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitab Tasdid al-Qaus fi Takhrij Musnad al-Firdaus mengatakan, hadis ini terkenal, banyak beredar, dan ia sebenarnya adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah. Bahkan, Imam Suyuthi menegaskan hadis ini tidak marfu’ (sampai kepada Rasulullah).

Maka, dari sisi sanad, hadis ini tidak sahih dan tidak pula hasan. Hadis ini tidak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis yang menjadi sandaran umat Islam.

Tidak ada dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, tidak dalam kitab hadis yang enam, tidak dalam Muwattha` Imam Malik, dan bahkan tidak ada dalam Musnad Imam Ahmad meskipun ia mencakup banyak sekali hadis.

Adapun dari aspek maknanya, kalau yang dimaksudkan adalah merendahkan urusan jihad di jalan Allah dan menganggap enteng kedudukannya dalam Islam sebagaimana yang dimaksudkan oleh mereka yang menyebarkannya, makna ini tidak bisa diterima dan harus ditolak.

Sebab, Alquran dan sunah Nabi penuh dengan nas-nas yang menegaskan keutamaan dan tingginya kedudukan jihad dalam Islam yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurat [49]: 15).

Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa jihad merupakan puncak tertinggi Islam.  “Puncak tertinggi Islam adalah berjihad di jalan Allah SWT.” (HR Ahmad).

Adapun, jika yang dimaksud adalah perhatian terhadap jihad melawan hawa nafsu, melatih diri, dan berjuang melawan segala godaan dan kemauan hawa nafsu maka makna ini dapat diterima.

Sebab, kita memang diperintahkan untuk bisa menundukkan hawa nafsu sehingga ia tunduk kepada perintah dan kehendak Allah SWT (QS al-Nazi’aat [79]: 40-41).

Jihad yang berasal dari bahasa Arab secara bahasa berarti mengeluarkan segenap kemampuan. Sedangkan, secara istilah, Imam al-Kasani dalam kitabnya Badai’ al-Shanai menyebutkan bahwa jihad berarti mengerahkan segala kemampuan untuk berjuang di jalan Allah SWT, baik dengan jiwa, harta, lisan, atau cara lainnya.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan. jihad dalam Islam berarti mengeluarkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai oleh Allah SWT.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa jihad itu bermacam-macam. Pertama, jihad melawan hawa nafsu, yaitu dengan berusaha mempelajari hidayah Allah SWT, mengamalkannya, berdakwah kepadanya, dan bersabar dalam dakwah tersebut.

Kedua, jihad melawan godaan setan dengan berusaha menolak segala bentuk syubhat (samar-samar) yang merusak keimanan, dan berusaha menolak segala bentuk godaan nafsu dan syahwat.

Ketiga, jihad melawan orang kafir dan kaum munafik dengan hati, lisan, harta, dan jiwa. Keempat, jihad melawan orang-orang zalim dan fasik dengan tangan jika tidak mampu dengan lisan dan hati.

Berdasarkan itu, konsep jihad dalam Islam tidak terlepas dari jihad dalam bentuk perang, tetapi jihad bukan hanya terbatas kepada makna perang karena jihad itu mencakupi jihad melawan hawa nafsu.

Jihad melawan godaan dan rayuan setan, jihad dalam berdakwah menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, jihad dengan menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim, dan jihad dengan berperang melawan musuh-musuh Allah SWT.

Para ulama menjelaskan bahwa berjihad melawan orang-orang kafir dan fasik termasuk yang paling berat bagi hawa nafsu karena dalam jihad ini nyawa, harta, dan kehormatan dikorbankan dan pengorbanan itu sangatlah berat bagi hawa nafsu.

Maka, jika seseorang tidak berjihad melawan hawa nafsunya dan membiasakannya untuk melakukan ketaatan maka kemungkinan besar ia tidak akan mau melakukan jihad melawan orang-orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Wallahu a’lam bish shawab.

ustaz Bachtiar Nasir

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA