Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Fatwa Qardhawi: Apakah Nabi SAW Makhluk Allah yang Pertama?

Rabu 18 Jan 2012 19:07 WIB

Red: Chairul Akhmad

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, Telah diketahui bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa makhluk pertama adalah itu atau ini dan seterusnya, tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para ulama sunnah.

Oleh karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan sebagian lainnya. Sebuah hadits mengatakan, "Bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena." Hadis lainnya mengatakan, "Yang pertama kali diciptakan Allah adalah akal."

Telah tersiar di antara orang awam dari kisah-kisah maulid yang sering dibaca bahwa Allah menggenggam cahaya-Nya, lalu berfirman, "Jadilah engkau Muhammad!" Maka, beliau adalah makhluk yang pertama kali diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi dan seterusnya.

Dari itu tersiar kalimat, "shalawat dan salam bagimu wahai makhluk Allah yang pertama", hingga kalimat itu dikaitkan dengan adzan yang disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.

Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh akal, tidak akan mengangkat agama, dan tidak pula bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.

Nabi Muhammad SAW sebagai makhluk Allah yang pertama tidak terbukti. Seandainya terbukti, tidaklah berpengaruh pada keutamaan dan kedudukan beliau di  sisi Allah. Tatkala Allah SWT memuji beliau dalam Kitab-Nya, maka Allah memujinya dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman, "Dan   sesungguhnya kamu benar-benar orang yang berbudi pekerti agung." (QS. Al-Qalam: 4).

Hal yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir, nabi kita Muhammad SAW  adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy yang dilahirkan lantaran kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahab, di Makkah, pada tahun Gajah. Beliau dilahirkan sebagaimana halnya manusia biasa, dan dibesarkan sebagaimana manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi dan Rasul sebelumnya diutus, dan bukan Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul.

Beliau hidup dalam waktu terbatas, kemudian Allah memanggilnya kembali kepada-Nya. "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (QS. Az-Zumar: 30).

Alquran telah menegaskan kemanusiaan Muhammad SAW di berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa..." (QS. Al-Kahfi: 110).

"Katakanlah, 'Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?" (QS. Al-Isra': 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tidak memiliki keistimewaan, kecuali dengan wahyu dan risalah.

Nabi saw menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya terhadap Allah, dan memperingatkan agar tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kita, yaitu penganut agama-agama terdahulu dalam hal memuja dan menyanjung.

"Janganlah kamu sekalian menyanjungku sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari).

Nabi yang agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya dan tidak diciptakan dari cahaya maupun emas, tetapi diciptakan dari air yang memancar dan keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang rusuk wanita sebagai bahan penciptaan Muhammad SAW.

Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah cahaya Allah dan pelita yang amat terang. Alquran menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi SAW, "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Untuk menjadi penyeru pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi." (QS. Al-Ahzab: 45-46).

Allah SWT berfirman yang ditujukan kepada Ahlul Kitab, "...Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maidah: 15).

"Cahaya" dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW, sebagaimana Alquran yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya. Allah SWT berfirman, "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta cahaya-Nya (Alquran) yang telah  Kami turunkan."  (QS. At-Taghaabun: 8).

Doa Nabi SAW, "Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam hatiku, berilah aku cahaya dalam pendengaranku, dan berilah aku cahaya dalam penglihatanku. Berilah aku cahaya dalam rambutku, berilah aku cahaya di sebelah kanan dan kiriku di depan dan di belakangku." (HR Muttafaq Alaih).

Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya dan Rasul pembawa hidayah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikuti petunjuk cahaya dan sunnahnya. Amin.



sumber : Fatawa Qardhawi
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA