Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Sabtu, 17 Zulqaidah 1440 / 20 Juli 2019

Mithi, Sebuah Wajah Toleransi Muslim-Hindu di Pakistan

Rabu 10 Okt 2018 12:32 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/Mimi Kartika/ Red: Ani Nursalikah

Kuil Hindu di Kota Mithi, Pakistan.

Kuil Hindu di Kota Mithi, Pakistan.

Foto: Daily Times
Terkadang suara loceng berbaur dengan azan yang terdengar jelas.

REPUBLIKA.CO.ID, MITHI -- Sapi-sapi berkeliaran dengan bebas di kota Mithi, Pakistan serupa dengan negara tetangga, India. Sapi dianggap hewan suci di kalangan umat Hindu.

Masyarakat Mithi menunjukkan toleransi beragama dengan komunitas minoritas Muslim. Padahal, mereka berada di tengah Pakistan Muslim konservatif.

“Di sini, Muslim menghormati kepercayaan umat Hindu. Mereka tidak membunuh sapi, atau (jika membunuh) hanya di tempat-tempat terpencil, tetapi tidak di lingkungan Hindu,” kata warga setempat Sham Das (72 tahun).

Tidak seperti di seluruh Pakistan, hewan ternak di Mithi hidup sangat baik. Mereka bisa makan sesuka hati, mengais di tempat sampah, dan bisa bebas tidur di jalanan. Kadang, tuk-tuk dan sepeda motor harus berhati-hati karena nyamannya hewan tersebut di jalanan. Bahkan di tempat lain, pengguna jalan harus sabar menunggu hewan-hewan itu bangun.

Mithi adalah kota yang sebagian besar penduduknya beragama Hindu dengan populasi 60 ribu jiwa. Suatu anomali di negara yang 95 persen penduduknya beragama Islam.

Ketika masyarakat Hindu beribadah di kuil Shri Krishna, mereka membunyikan lonceng. Terkadang suara loceng berbaur dengan azan yang terdengar jelas.

Sekelompok pemuda Hindu juga bebas berbaur dan berbincang di luar ruangan tanpa panjagaan yang ketat. Kondisi ini kontras dengan lingkungan Hindu di kota besar Karachi, sekitar 320 kilometer dari kota ini. Mudah menemukan penjaga dengan senjata lengkap di Karachi.

Seorang pendeta Hindu di Karachi, Vijay Kumar Gir mengatakan dari 360 kuil di kota, hanya belasan yang masih berfungsi. "Sisanya telah ditutup, dan tanah mereka dirambah,” ujar dia.

Kondisi itu adalah wujud situasi suram yang mewakili stigmatisasi wajah Hindu di Pakistan, di mana mereka sering dianggap pro-India karena agamanya. Hal itu diutarakan perwakilan Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) Marvi Sirmed.

HRCP menggambarkan umat Hindu Pakistan merasa tidak nyaman di negara mereka. Dalam laporan tahunannya, migrasi umat Hindu ke India dapat berubah menjadi eksodus jika diskriminasi terhadap mereka berlanjut.

Menurut HRCP, yang mengutip para pemimpin agama, masalah terbesar yang dihadapi masyarakat adalah konversi paksa ke Islam pada perempuan dewasa dan gadis. HRCP menuding perempuan Hindu menghadapi penculikan sebelum menikah dengan pria Muslim.

Namun, tidak satupun dari laporan itu yang mempengaruhi kehidupan di Mithi. Umat Muslim dan Hindu di Mithi hidup bersama secara harmonis. Mereka bahkan saling mengirim hadiah dan permen saat perayaan hari raya keagamaan masing-masing.

“Karena saya sudah cukup dewasa untuk bernalar. Saya menyaksikan persaudaraan, cinta dan harmoni antara umat Hindu dan Muslim,” kata pengusaha Sunil Kumar (35).

Hubungan harmonis umat Muslim dan Hindu sudah berlangsung selama beberapa generasi. Hubungan itu diduga bermula karena kondisi geografis Mithi yang muncul dari bukit pasir di gurun Tharparkar yang berbatasan dengan negara bagian Rajasthan, India.

Peneliti lokal mengklaim sekelompok umat Hindu yang cinta damai mendirikan kota ini pada awal abad ke-16 karena perang dan penjarahan. Tanahnya tidak subur dan sulit mengakses air sehingga kota itu hanya menjadi pilihan untuk beberapa orang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA