Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Yahudi Ortodoks dan Muslimah Berhijab, Perlakuannya Berbeda?

Kamis 06 Dec 2018 18:19 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nashih Nashrullah

Komunitas Islam yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Jilbab (ilustrasi)

Komunitas Islam yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Jilbab (ilustrasi)

Foto: Republika
Jilbab telah dikonotasikan negatif ketika dikenakan Muslimah.

REPUBLIKA.CO.ID,  VIRGINIA — Peneliti dan aktivis mahasiswa dari Universitas Virginia Commonwealth mengeksplorasi signifikansi hijab yang biasa dikenakan perempuan Muslim. 

Eksplorasi itu termasuk meneliti hubungan hijab dengan identitas pribadi dan dunia Barat. Eksplorasi itu terlaksana dalam seminar Demystifying the Muslim Dress Code (Memahami baju Muslim).

Dilansir di laman pers kampus, The Commonwealth Times pada Rabu (5/12), peneliti menjelaskan jilbab hadir di Timur Tengah lebih lama dari Islam. Namun, ketika agama terbentuk, jilbab menjadi bagian penting dari identitas Muslim.

“Praktik ini (memakai jilbab) memiliki makna yang berbeda setelah diintegrasikan ke dalam Islam,” kata peneliti mahasiswa Kyle Smith. 

Smith mengatakan pengenaan jilbab menjadi simbol pengabdian dan keyakinan seseorang pada agama.

Mitra penelitian Smith, Mary Virginia Riordan mengatakan ketika melihat seorang biarawati, Yahudi Ortodoks, atau wanita dari kepercayaan lain mengenakan jilbab, masyarakat menghormati nilai-nilai agamanya. 

Namun, reaksi berbeda ditunjukkan terhadap perempuan Muslim yang mengenakan jilbab.

“(Hijab) memiliki konotasi yang berbeda dengan budaya ini karena terorisme,” kata Riordan.

Dia menjelaskan stigma negatif dari terorisme telah menciptakan ketakutan, serta gagasan perempuan sedang ditindas bahwa seolah-olah mereka dipaksa untuk memakai jilbab. 

Jilbab muncul dalam mode mainstream (arus utama), disorot dalam merek termasuk H & M (pada 2016), dan Nike yang merilis hijab atletik pada tahun berikutnya. 

Peneliti pelajar Zhelia Arif menyebutkan Dolce & Gabbana 2016 pernah mengkampanyekan jilbab dengan memodelkan wanita non-Muslim mengenakannya. 

Kampenye itu menjadi penegasan bahwa tidak ada masalah bagi perempuan non-Muslim mengenakan jilbab untuk mode.

Peneliti sarjana Jeremy Marsh mempresentasikan penelitian dengan mengutip salah satu ayat di Alquran bahwa perempuan dan laki-laki diperintahkan menjaga aurat.

“Kesopanan bukanlah beban yang ditempatkan semata-mata di pundak Muslimah. Pria juga harus memikul berat badan mereka dan memperhatikan cara berpakaian dan bagaimana mereka memperlakukan diri sendiri di sekitar orang lain,” ujar Marsh.

Marsh mengatakan jilbab adalah bagian menjaga kesopanan diri dari kesalehan batin setiap Muslim. Pertemuan itu dipimpin oleh rapper dan aktivis Muslim, Mona Haydar.

Tahun lalu, Haydar merilis sebuah video musik Hijabi yang menampilkan dirinya dan wanita lain yang mengenakan jilbab. Video itu ditonton lebih dari lima juta orang di YouTube.

Setelah merilis video, dia menerima pesan yang mengancam perannya sebagai wanita dari berbagai latar belakang. Namun, kritik tidak menghentikan Haydar mengenakan jilbab sebagai bagian dari identitas pribadinya.

"Kalian semua cantik. Kalian semua penting, dan cerita anda penting. Saya harap anda menceritakan kisah-kisah dari lubuk hati. Jangan sunting diri anda untuk dunia ini, karena dunia membutuhkan anda, persis seperti itu Tuhan membawa anda ke dalamnya,” kata Haydar.  

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Dec 2018, 23:21 WIB