Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

Empat Tantangan Pelajar Muslim di Sekolah Negeri AS

Jumat 09 Nov 2018 10:53 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Nashih Nashrullah

Kelompok Muslim Amerika Serikat mengampanyekan anti Islamofobia

Salah satu reklame yang berisi kesadaran tentang Islam di Amerika Serikat (AS).

Foto: tribune.com.pk
Para pelajar harus menghadapi berbagai kendala dan dilema sebagai Muslim.

Dunia Remaja dan Tantangan Identitas Sebagai Muslim

Identitas terdaftar sebagai perjuangan nomor satu bagi remaja Muslim. Siswa harus berurusan dengan stereotip negatif dan ‘fobia’ terhadap Muslim yang didorong laporan media mengenai kekejaman di negara-negara dengan jumlah populasi Muslim yang besar dan opini media dari berita konservatif.

Beberapa pelajar Muslim remaja mengungkapkan saat berbagi laporan diskusi politik di kelas yang penuh dengan informasi yang salah dan permusuhan, membuat mereka tidak nyaman, takut, dan marah. Mengingat tragedi baru-baru ini di North Carolina yang melibatkan tiga pemuda Muslim, beberapa siswa merasa rentan.

Namun, masalah ini menjadi prioritas kedua para siswa atas tekanan teman sebayanya. Anak laki-laki Muslim melaporkan, mereka terlihat lemah atau berpotensi gay jika mereka tidak memiliki pacar atau secara terbuka mengejar suatu hubungan. 

Baik anak laki-laki maupun perempuan menyatakan, mereka secara otomatis disebut sebagai ‘nerd’ (orang yang tidak menarik). Hal ini membuat mereka terisolasi secara sosial karena mereka tidak berkencan, minum (minuman beralkohol), merokok, mengamuk, atau bereksperimen dengan narkoba.

Beberapa siswa SD mengatakan, mereka tidak suka wajahnya berbeda dari anak-anak lain, klaim yang dibuat oleh semua siswa etnis minoritas.

Beberapa siswa Muslim menceritakan, mereka mengorbankan identitas budaya atau agama mereka hanya untuk menyesuaikan diri dan mendapatkan pengakuan. 

Beberapa anak perempuan justru marah jika mereka (pelajar perempuan Muslim) tidak memakai jilbab, teman sekolah mereka sering melihat mereka kurang ‘Muslim’ daripada anak perempuan yang melakukannya. 

Sementara beberapa siswa mengungkapkan rasa malu ketika ada siswa Muslim lainnya yang bersekolah di tempat yang sama, tetapi tidak teratur atau mengganggu di kelas dan memiliki perilaku yang tidak Islami. 

Seperti yang dikatakan seorang siswa SMA, “Jika Anda berada di sekolah negeri, apapun yang Anda lakukan benar-benar mewakili semua Muslim! Jadi Anda tidak bisa berkeliling untuk bertindak gila (membuat onar).”

Siswa SMA itu juga memaparkan, “Menjadi seorang siswa Muslim perlu memiliki pengendalian diri agar siswa lain menghormati Anda karena Anda memiliki standar.” 

Namun, yang paling penting adalah banyak siswa yang lebih tua akhirnya mengakui, sekolah menawarkan Dakwah dan belajar melalui trial and error, tentang bagaimana menjaga identitas Anda sendiri dalam lingkungan yang beragam. Seperti yang dikatakan seorang siswa, “Sekolah negeri benar-benar mempersiapkan Anda untuk menghadapi dunia.” 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES