Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Kisah Pendekar Masjid di Choenan

Senin 05 Nov 2018 22:28 WIB

Red: Agung Sasongko

Ustaz Khumaini Rosadi.

Ustaz Khumaini Rosadi.

Foto: Dok Ustaz Khumaini Rosadi
Itulah sebutan bagi PMI yang memakmurkan masjid.

REPUBLIKA.CO.ID,   Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I )*

Makan tidak makan kumpul. Itu mungkin istilah yang sedikit bisa dianggap relevan untuk PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang sedang menunggu interview kerja di Korea Selatan. Mereka bisa berkumpul dengan teman-teman. Bercerita tentang suka duka pekerjaan, bertukar pengalaman, dan membina jaringan serta persahabatan.

Mereka biasa bertemu di masjid. Semoga ini menjadi langkah yang baik. InsyaAllah pasti ada hikmahnya. Salah satu hikmahnya tentu para PMI ini akan memakmurkan Masjid at-Taqwa, Choenan.

Mayoritas pekerja yang sedang menunggu interview kerja dari pabrik di Korea Selatan adalah laki-laki. Karena pekerjaan yang dilakukan di korea selatan ini adalah bagian industri manufaktur yang memerlukan tenaga kasar, keras, dan beresiko tinggi.

Pekerjaan manufaktur ini berhubungan dengan mesin dan alat-alat berat. Sehingga kebutuhan akan pekerja perempuan hanya sedikit saja.

Pendekar masjid. Itulah sebutan bagi PMI yang memakmurkan masjid. Karena mereka pejuang yang mengurus dan menjaga masjid Indonesia di Choenan. Mereka adalah Heri Galih, Heryanto, Mukidi, Agus, Arif Rahmat, Kamil, Habibi, Kusno, marko, eko, dan masih ada lagi yang selalu bergantian datang dan pergi.

Ketika ada PMI yang libur bekerja atau cuti, biasanya mereka akan kembali ke masjid. Sekedar untuk bertemu teman-teman atau mengikuti kegiatan rutin di masjid.

Bagi PMI yang memakmurkan masjid, Alhamdulillah, shalat lima waktu tetap terjaga secara berjamaah dan di awal waktu. Seperti Kamis kemarin, beragam kegiatan dikuti. Dimulai dari shalat shubuh berjamaah dilanjutkan dzikir thariqah bersama-sama diakhiri dengan mendengarkan kultum shubuh dan tanya jawab sampai pukul 07.00 waktu lokal. Tanya jawab sekitar shalat, dzikir, dan sebagainya.

Setiap bada Zuhur dan Ashar juga tidak ditinggalkan zikir berjamaah. Dengan berzikir tersebut, terlihat suasana akur dan kompak. Dari suara-suaranya mengisyaratkan ketenangan, seakan tidak ada masalah.

Karena larut dalam untaian dzikir. Inilah yang diperlukan. Hati mereka seakan tersirami dengan dzikir ini. inilah salah satu cara membentengi iman dan hati mereka agar tidak terpengaruh lifestyle yang negatif.  Karena mereka jauh dari keluarga, rindu akan kebersamaan.

Bada maghrib, kegiatannya adalah tahlilan. Karena malam ini, malam jum’at. Sebagai obat kangen kepada Indonesia, tradisi tahlilan pun tetap dipertahankan meskipun berada di tengah minoritas. Dimulai dengan membaca surat yasin, surat-surat pilihan, dan diakhiri dengan tahlilan. Setelah  tahlilan, mendirikan sholat isya berjamaah. Acara intinya adalah makan-makan. Sekalian makan malam. Masakan  ala Indonesia, halal dan tentunya yang mengenyangkan.

Diikuti oleh 11 orang PMI, acara tahlilan ini begitu khusyuk dan menyejukkan. Dengan kalimat “laa ilaaha illallah” yang dibaca bersama-sama serentak menambah asyik melakukan tahlilan di malam jumat ini.

Dengan tahlilan ini juga ditujukan untuk saling mendoakan agar para PMI yang masih belum mendapatkan pekerjaan yang cocok, agar segera dikabulkan doanya untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok.

"Minimal diberikan pekerjaan yang bisa bergantian siang dan malam, sehingga bisa tetap melakukan shalat jumat di saat hari jumat," Ungkap Habibi – PMI asal Cirebon yang sudah 3 tahun bekerja di Korea, dan sekarang sedang menunggu interview kerja.

Semoga keikhlasan para pendekar masjid ini diridhai Allah SWT. Dengan keberkahan silaturrahmi dan yasin tahlil yang selalu dilakukan. semoga dapat memudahkan mereka mendapatkan pekerjaan yang cocok sesuai dengan bakat dan minatnya, tidak menghambat ibadahnya, dan dapat kembali mengurus dan memakmurkan masjid di saat sela-sela istirahat dan liburnya. amin

* Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) JATMAN (Jam’iyyah Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah), Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (CORDOFA),

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA