Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi Hidup Damai di Palestina

Kamis 16 August 2018 04:55 WIB

Red: Ani Nursalikah

Seorang warga Palestina melontarkan batu menggunakan ketapel pada peringatan 70 tahun hari Nakba (hari di mana warga Palestina diusir secara besar-besaran oleh Israel) di Ramallah, Tepi Barat Palestina.

Seorang warga Palestina melontarkan batu menggunakan ketapel pada peringatan 70 tahun hari Nakba (hari di mana warga Palestina diusir secara besar-besaran oleh Israel) di Ramallah, Tepi Barat Palestina.

Foto: Mohamad Torokman/Reuters
Warga Kristen dan Yahudi juga kesulitan karena penjajahan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penasihat Presiden Palestina untuk Masalah Keagamaan Mahmoud Al Habbash mengatakan pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi selama ini hidup serasi di Palestina. "Pada dasarnya, kehidupan kami dengan Yahudi damai. Kami hidup rukun dan selalu menjaga kehidupan serasi bersama," kata Al Habbash dalam jumpa pers di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu (15/8).

Penasihat Presiden Palestina Mahmoud Abbas itu menggambarkan warga di Tepi Barat, wilayah de facto Palestina, sangat majemuk. Sejak dulu mereka hidup berdampingan dengan damai sebelum ada campur tangan Israel.

"Di wilayah Palestina banyak warga Yahudi, tapi mereka hidup bahagia dan mengaku sebagai orang Palestina, bangga pada Palestina, dan membantu warga Palestina bukan Yahudi, yang kesulitan," kata dia.

Al Habbash menjernihkan pandangan Palestina hanya milik umat Islam. Kenyataannya, pemeluk Kristen dan Yahudi juga menjadi penduduk Palestina dan mengalami kesulitan yang sama karena kesewenang-wenangan Israel.

"Lebih dari lima juta Muslim kesulitan mencapai Al Aqsha untuk shalat, umat Kristiani pun kesulitan berziarah ke tempat suci mereka karena blokade Israel," kata dia.

Al Habbash menyampaikan umat Islam, Kristen dan Yahudi sejak lama mendiami tanah Palestina dan hidup berdampingan dengan damai, sama-sama mengalami penderitaan akibat penjajahan Israel. Perdamaian itu rusak saat Israel mencaplok wilayah Palestina pada 1947, lalu mulai memindahkan warga Yahudi ke sana secara besar-besaran dan menggusur paksa rakyat Palestina pada 1948. Peristiwa itu dikutuk rakyat Palestina dan disebut "nakba" atau "awal malapetaka".

Al Habbash menyesalkan politik pemisahan oleh Israel, yang juga dipaksakan di wilayah Palestina dan bahkan membangun tembok tinggi di Gaza untuk menghalangi hubungan setara antarpenduduk. "Palestina tidak memusuhi Yahudi, tapi memusuhi pemerintah Israel, yang ingin menghancurkan Palestina dan segala ketenteraman di Palestina," kata dia.

Al Habbash berkunjung ke Jakarta sebagai salah satu pembicara dalam Forum Perdamaian Dunia ke-7 pada 14-16 Agustus 2018. Kehadirannya, yang bertepatan dengan Asian Games, juga memberinya kesempatan menonton pertandingan sepak bola babak penyisihan Grup A di Bekasi pada Rabu malam.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES