Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Menelusuri Islam di Negeri Singa

Rabu 20 Juni 2018 09:07 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Singapura

Muslim Singapura

Foto: AP
Islam datang ke Singapura melalui perdagangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai Negara Kota, Singapura memiliki penduduk heterogen. Salah satunya adalah komunitas Muslim Singapura. Terdapat kolaborasi yang terlihat dari kuliner dan sejarah yang tersaji dari komunitas Muslim.

Dilansir The National, cara yang paling efektif untuk merasakannya adalah dengan mengunjungi Kampong Glam, sebuah wilayah yang didominasi Muslim. Kampong Glam berjarak sekitar 15 menit berkendara dari hotel butik M Social Singapore atau 40 menit dari bandara Changi. Tempatnya sunyi di sekitar Robertson Quay.

Begitu menjejakkan kaki di sana, aroma rempah-rempah akan cukup kuat menggoda hidung. Tempat ini mungkin akan mengingatkan pada kafe dengan teh hitam di Abu Dhabi. Seorang pemandu wisata, Abdul Rahim mengatakan, tempat ini dulu dikenal sebagai taman bumbu.

"Tujuh ratus tahun lalu, rempah-rempah disebut emas oleh teman-teman Arab kami," kata dia.

photo

Singapura

Di tempat ini, rempah-rempah memainkan peran penting dalam masakan Singapura, juga dalam mempelajari kultur Islam Singapura. Sama seperti di negara-negara tetangga, Islam datang ke Singapura melalui perdagangan. Tempat nya yang strategis dari sisi barat dan ti mur menjadikannya wilayah perekonomian. Pedagang Arab zaman dulu menggunakan Singapura sebagai penghubung untuk pengiriman rempah lokal ke Eropa.

Mereka kadang tidak hanya mampir, tetapi juga memutuskan tinggal. Abdul Rahim mengatakan, pedagang Arab banyak yang akhirnya menikah dengan orang Melayu lokal dan membangun bisnis bersama. Kampong Glam adalah kota tua yang jadi saksi. Di sana, banyak tempat makan dan bangunan-bangunan dengan desain khas.

Ada rumah mode abaya, warung kopi, tempat jual kosmetik halal, madu, juga tempat makanan tanpa minuman beralkohol. Toko-toko dijaga oleh perawakan Arab yang sudah menjalankan bisnis secara turun temurun. Selain sebagai tempat singgah perdagangan, Singapura juga tempat yang strategis untuk tempat singgah calon jamaah haji pada 1960- 1970-an.

photo

Kunjungan Muhibah Kedatuan Luwu Sulawesi Selatan ke Istana Kampong Glam Singapura. (Republika/Andi Nur Aminah)

Saat itu, Kampong Glam beradaptasi juga menjadi tempat menjual segala kebutuhan berhaji. Mulai ihram, Alquran, tasbih, dan segala panduan haji. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Sejak saat itu, tempat tersebut dinamai Haji Lane.

"Ayah saya berkata jalan ini sering jadi lautan putih," kata seorang penduduk lokal, Kareem, yang memiliki sebuah toko kain. Meskipun sekarang bukan lagi tempat transit jamaah, roh Islam di sana masih tertinggal. "Aneh saja, saya merasa damai di sini, mungkin ini pengingat pada nenek moyang yang biasa bekerja di sini," kata dia.

Jalan-jalan lain juga bernama kearaban. Mulai Jalan Arab yang menjadi tem pat toko-toko milik orang Timur Tengah atau mediterania. Juga, jalan Kandahar, Busra, Muscat, dan Baghdad yang dinamai karena populasinya yang merupakan hasil percampuran.

Di sana, ada satu masjid yang sangat ikonik, Masjid Sultan. Pertama kali dibangun pada 1824 di bawah kepemimpinan Sultan Malaysia, Hussein Shah. Kini bangunan itu berdiri dengan desain dari seorang arsitek Irlandia pada 1932. Area beribadahnya sangat luas dan terang karena didesain agar cahaya mata hari bisa masuk secara alami.

photo

Masjid Sultan Singapura

Jika berjalan mengelilingi perimeter luarnya, akan terlihat kubah berwarna bawang. Dari kejauhan, apa yang dililitkan di sekitar dasarnya tampak seperti batu permata pudar. Abdul Rahim mengata kan itu bukan batu permata melainkan botol kaca.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES