Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Berpuasa di Negeri Paman Sam

Ahad 10 Juni 2018 14:31 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Amerika

Muslim Amerika

Foto: AP Photo
Puasa merupakan rukun islam yang paling banyak diamalkan selain syahadat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Deni Wahyudi Kurniawan, Ketua PERMIAS Athens, Ohio

 

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. (muttafaq `alaihi)

Bagi kami yang sedang merantau di negaran jauh di Amerika Serikat, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan adalah pengalaman yang begitu berharga dan menantang. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman melaksanakan ibadah di Negara minoritas Muslim dengan kondisi geografis dan zona waktu yang berbeda jauh dengan tanah air.

Puasa di Negara paman Sam terasa menantang. Karena Ramadhan tahun ini bertepatan bulan Mei-Juni disaat Muslim mulai berganti dari musim semi menuju musim panas, sebagai konseksuensinya shaum harus kami jalani lebih panjang dari biasanya dan suasana yang lebih hangat. Lebih panas tepatnya.

Umat Islam di Amerika rata-rata melak sanakan sahur pada pukul 3.30 hingga shubuh datang pada sekitar pukul 4.30. Waktu Maghrib baru tiba pada sekira ukul 8.50 dan dilanjutkan dengan shalat isya atau tarawih pada jam10 malam. Kami melaksanakan ibadah puasa 18 hingga 19 jam dalam sehari.

photo

Muslim Amerika

Memang masih durasi itu masih lebih pendek dari yang dilaksanakan oleh saudara Muslim di Eropa yang bisa mencapai 20 jam, namun tentunya durasi shaum disini lebih lama dari yang biasa dilak sanakan di tanah air dan di daerah Asia dan Australia yang `hanya' 14-16 jam.

Komunitas Muslim di Amerika

Komunitas Muslim tidak tidak mengalami kesulitan menjalankan ibadah di amerika serikat termasuk menjalankan ibadah puasa. Karena meskipun umat Islam kurang dari 10 persen dari total populasi AS. Namun Islam merupakan salah satu agama yang mengalami kemajuan paling pesat.

Hingga tahun 2016, diperkirakan ada lebih dari 3.3 juta Muslim yang hidup di sini. Mayoritas dari mereka adalah imigran dari Arab Saudi dan Asia Selatan, serta keturunan dari para pendatang tersebut.Dan data menuju menunjukkan lebih dari 80 persen diantaranya sudah menjadi penduduk Amerika atau memiliki green card.

Tempat beribadah dan pusat kegiatan Islam di sini pun berkembang dengan pesat. Hingga tahun 2010 saja ada sekitar 2016 masjid atau Islamic center di Amerika Serikat. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat dari 1209 pada tahun 2000.

Di berbagai masjid dan Islamic center itulah kami berkumpul dan berinteraksi di bulan Ramadhan ini. Berbagai acara dilaksanakan, mulai dari ifthar jamai, tahsin Alquran, kuliah singkat keagamaan hingga tarawih dan berbagai peringatan seperti nuzulul quran.

photo

Masjid Islamic Center di Washington DC.

Terkait dengan puasa ada data menarik dari Penelitian Pew Research tahun 2017 yang menunjukkan lebih dari 80 persen Muslim di AS menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Menurut data itu, puasa merupakan rukun islam yang paling banyak diamalkan selain syahadat.

Sementara untuk ritual lain seperti shalat, hanya 40 persen yang menjalankannya. Survey tersebut juga menunjukkan bahwa orang yang berpuasa cenderung juga mempraktikkan ekspresi keberagamaan seperti memakai hijab dan ekspresi keagamaan lainnya.

Toleransi dan solidaritas

Bagi mereka yang diluar komunitas Muslim, ibadah puasa dianggap sebagai ritual yang cukup berat. Dalam berbagai kesempatan saya selalu mendapatkan pertanyaan bagaimana anda bisa tahan tidak makan dan minum seharian? Mereka lebih kaget lagi saat saat tahu bahwa umat Islam sudah dibiasakan untuk berpuasa sejak dari kecil.

Karena beratnya, banyak sekolah dan perusahaan memberikan kompensasi bagi umat Islam menjalankan puasa ramadhan. Ini juga terkait dengan semacam konvensi, karena meskipun Amerika adalah Negara sekuler yang memisahkan agama dengan urusan Negara, namun pada prakteknya banyak komunitas memberikan penghormatan bagi siapapun untuk menjalankan ritual keberagamaannya.

Banyak perusahaan yang memperbolehkan pekerjanya untuk pulang lebih cepat karena mereka tidak mengambil jatah rehat saat jam makan siang. Begitu pula, banyak sekolah dan kampus banyak yang membolehkan murid pulang lebih cepat bahkan untuk absen di kelas jika alasannya kegiatan keagamaan.

Sehingga meskipun di media sepertinya islamophobia menguat di Negara paman Sam, namun pengalaman kami disini kehidupan beragama sebetulnya masih tetap aman dan nyaman. Apalagi di kota-kota besar yang memliki tingkat keragaman yang begitu tinggi dan komunitas Muslim lebih besar, suasana saling menghormati di tengah komunitas terbangun dengan baik dan harmonis.

photo

Ramadhan di Amerika/Ilustrasi

Kehangatan Ramadhan

Meskipun suasana Ramadhan tidak semeriah di Tanah Air dengan berbagai event khusus atau tayangan televisi, Ramadhan di komunitas Muslim tetap berjalan meriah, khidmat dan penuh makna. Di pusat-pusat kegiatan Islam di berbagai pelosok AS, kegiatan keagamaan khusus di bulan Ramadhan tetap marak dilaksanakan.

Saat bulan Ramadhan, masjid dan Islamic center cenderung lebih penuh. Begitu pu la interaksi dan sosialisasi dengan sesa ma komunitas Muslim juga semakin kuat dan hangat. Sebagai minoritas, komunitas Muslim biasanya lebih kompak, tidak me mandang suku, bangsa, agama, apalagi maz hab fikih dan aliran, tapi lebih menge depan kan etos bahwa semua Muslim itu bersaudara.

Perbedaan teknis ritual ibadah sama sekali tidak menjadi isu, apalagi soal jumlah rakaat tarawih atau soal teknis tatacara ibadah lainnya. Bahkan perbedaan aliran seperti Sunni dan Syiah sekalipun tidak menjadi isu besar yang diperdebatkan.

Di masjid kami, siapapun dan apapun alirannya mau syafiif, hanafi, hambali, maupun yang sunni ataipun syiah tetap berpuasa dan berbuka bersama dengan rukun dan penuh kekeluargaan.

Berkah puasa mempersatukan dan menghangatkan suasana dan interaksi sesama Muslim di Amerika. Ramadhan telah membawa kebahagiaan yang lebih dan kehangatan silaturahmi yang lebih mendekatkan.

Buka puasa bersama

Salah satu kegiatan favorit saat bulan pua sanya tentunya adalah acara buka puasa ber sama. Di lingkungan kami di Athens, Ohio, Islamic center menyelenggarakan kegiat an buka puasa secara rutin pada hari Rabu, Jumat, Sabtu dan Minggu. Biasanya buka bersama dilaksanakan dengan didahului takjil berupa air mineral, beberapa butir kurma, juice buah, kue atau buah-buahan segar.

Setelah itu disusul dengan sup hangat seperti sup lenfil daari kacang adas, sup kaldu ayam atau krim soup. Setelah membatalkan puasa kami akan melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu.

Kemudian, barulah makanan utama disajikan. Suasana semakin seru karena makanan yang dihidangkan bervariasi dari mulai masakan timur tengah, asia selatan (india dan Bangladesh) dan Asia Tenggara.

photo

Nasi kebuli.

Menu yang biasanya ditawarkan adalah makanan khas dari masing-masing daerah seperti nasi kebuli dengan kebab, nasi kuning, nasi dan ayam biryani dan berbagai macam makanan khas lainnya. Kami juga belajar bagaimana kebiasaan makan dari berbagai daerah. Setelah makanan kami bersosialisasi hingga menunggu adzan isya, shalat dan melakukan tarawih bersama.

Begitulah pengalaman dan pengamatan puasa pertama di Amerika Serikat. Banyak sekali pelajaran yang bisa didapat saat menjalankan puasa di Amerika Serikat. Berpuasa di Negara dengan penduduk muslim minoritas memang tidak semeriah shaum di tanah air.

Namun pelajaran soal toleransi dan keragaman praktek keragaman di tengah bangsa yang multicultural adalah pelajaran lain yang saya dapatkan disini. Seperti hadits dari muttafaq alayh di awal tulisan ini, Ramadhan dimanapun selalu membawa berkah dan kebahagiaan, disini dan nanti.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES