Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Kisah Umar bin Khattab dan Sungai Nil yang Kembali Mengalir

Sabtu 09 June 2018 13:58 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ani Nursalikah

Sungai Nil yang membelah kota Kairo, Mesir.

Sungai Nil yang membelah kota Kairo, Mesir.

Foto: Republika/Rusdi Nurdiansyah
Dulu penduduk Mesir biasa menumbalkan seorang gadis sebagai persembahan Sungai Nil.

REPUBLIKA.CO.ID, MESIR -- Kota Mesir selalu identik dengan keberadaan Sungai Nil. Sungai ini bahkan telah ada sejak ratusan juta tahun silam dan menjadi sumber kehidupan penduduk Mesir. Sungai Nil nyatanya juga memiliki sebuah sejarah menarik.

Sebelum Islam menyinari Kota Mesir, setiap datangnya Bunah (bulan Mesir) penduduk Mesir biasa melakukan tradisi persembahan untuk menghormati Sungai Nil. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara menumbalkan seorang gadis untuk dibuang ke dalam sungai.

Ketika Rasulullah datang dan menyebarkan agama Islam, tradisi itu sempat terhenti dan dilupakan. Namun penduduk Mesir dikhawatirkan dengan keadaan Sungai Nil yang mengering, padahal sebelumnya air di sungai tersebut tidak pernah habis.

Dari cerita Qais bin Al-Hajjaj yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ustaz Abdul Somad Lc, saat Sungai Nil mengering penduduk Mesir berbondong-bondong mendatangi Gubernur Kota Mesir, Amr bin Al-Ash.

"Wahai gubernur, Sungai Nil kami ini memiliki tradisi, dia tidak akan mengalir jika tradisi itu tidak dilaksanakan," ujar salah seorang dari penduduk Mesir.

Amr bin Al-Ash pun bertanya, apakah tradisi itu? Orang itu pun menjawab, "jika telah lewat 13 malam dari hitungan bulan ini (Bunah), kami akan meminta seorang anak perempuan dari orang tuanya, dan kami buat mereka rela menyerahkan putrinya. Kemudian kami akan hiasi anak perawan itu dengan perhiasan dan pakaian terbaik. Kemudian kami akan membuangnya ke Sungai Nil," kata dia.

Amr bin Al Ash pun menolak usulan penduduk Mesir melakukan tradisi mereka dan menjelaskan tradisi tersebut tidak tertera dalam ajaran Islam. Agama Islam telah menghancurkan tradisi-tradisi sejenis itu.

Bunah pun berlalu, hingga datangnya Abib (bulan sebelas menurut hitungan kalender Qubti dan Masra) namun Sungai Nil tak kunjung mengalir. Para penduduk mendesak untuk melaksanakan tradisi mereka, hingga sang gubernur kehabisan akal melarang dan memutuskan mengirim surat kepada sang khalifah, Umar bin Khattab RA.

Dalam suratnya, Amr menjelaskan perihal keadaan kota Mesir dan keringnya Sungai Nil, serta keputusannya melarang warga melakukan persembahan. Umar bin Khattab membalas surat Amr, dan dalam suratnya dia berpesan, apa yang telah engkau lakukan itu benar. "Saya mengirim satu kartu di dalam surat saya ini. Buanglah kartu itu ke dalam Sungai Nil," tulis Umar.

Ketika surat dari Umar tiba, Amr segera mengambil kartu tersebut dan membaca tulisan di atasnya, "Dari hamba Allah, Umar Amiruk Mukminin, untuk Sungai Nil penduduk Mesir. Amma badu jika engkau mengalir karena kehendakmu dan perkaramu, maka janganlah engkau mengalir karena kami tidak membutuhkanmu. Namun jika engkau mengalir karena perintah Allah yang Maha Esa dan Kuasa, Dialah yang telah membuatmu mengalir. Kami memohon kepada Allah agar Dia membuatmu mengalir".

Kemudian Amr melaksanakan pesan Khalifah Umar untuk membuang kartu tersebut ke Sungai Nil. Keesokan harinya, tepatnya pada Sabtu pagi, Allah SWT membuat Sungai Nil kembali mengalir bahkan hingga setinggi 16 hasta dalam waktu satu malam.

Hingga kini Sungai Nil menjadi sungai yang tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Penduduk Mesir juga telah berhenti dan meninggalkan tradisi persembahan mereka hingga saat ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES