Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Tangisan Muslim Rwanda

Senin 21 May 2018 16:29 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Muslim Rwanda

Muslim Rwanda

Foto: youtube.com
Ketika peristiwa berdarah terjadi, komunitas Muslim juga menjadi incaran.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tahun 1994 adalah masa kelam Rwanda. Kala itu, hampir setengah tahun masyarakat di sana tenggelam dalam tangis dan derita. Mereka mengalami pembantai an massal atau genosida. Korban dari suku Hutu dan Tutsi berjatuhan.

Ketika peristiwa berdarah terjadi, komunitas Muslim juga menjadi incaran. Mereka melindungi masyarakat yang menjadi korban. Aksi sosial dan simpatik umat Islam membuat masyarakat di sana tertarik dan memeluk Islam, seperti yang dijelaskan dalam tulisan sebelumnya.

Lebih dari 800 ribu warga sipil tewas selama peristiwa tersebut. Sebanyak 2 juta warga Rwanda meninggalkan negaranya.Sebagian besar dari mereka berpindah ke Zaire Timur (setelah 1997 disebut Republik Demokratik Kongo). Ada juga yang kemudian kembali ke Rwanda pada akhir 1996 dan awal 1997.

Kelompok etnis utama di Rwanda adalah Hutu dan Tutsi, masing-masing berjumlah lebih dari empat per lima dan sekitar satu per tujuh dari total populasi. Kelompok ketiga, Twa, berjumlah kurang dari satu persen populasi. Keberadaan ketiga kelompok tersebut menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini telah hidup bersama selama berabad-abad.

(Baca: Tangisan Muslim Rwanda)

Daerah yang sekarang menjadi Rwanda awalnya ditempati oleh etnis Twa, yang diikuti oleh Hutu antara abad kelima dan ke-11, dan kemudian oleh Tutsi, kemungkinan dimulai pada abad ke-14. Sebuah proses panjang migrasi Tutsi dari utara memuncak pada abad ke-16 dengan munculnya kera jaan di wilayah tengah.

Perbedaan sosial antara Hutu dan Tutsi secara tradisional cukup terlihat. Tutsi meyakini semangat keagamaan dan mem bangun pengaruh sosial, ekonomi, dan politik di atas Hutu yang sebagian besar adalah petani. Orang-orang Tutsi biasanya berkulit terang dan tinggi. Sedangkan Hutu berkulit gelap dan pendek. Perbedaan antara kedua kelompok ini tidak terlihat jelas karena perkawinan campuran dan bahasa yang sama.

Diskriminasi dan kekerasan

Selama dijajah Jerman dan Belgia, masyarakat di sana dibagi berdasarkan suku dan karakteristik fisik. Perbedaan suku dipertajam dan dipolitisasi untuk memecah perdamaian masyarakat di sana. Pemerintah kolonial Jerman dimulai pada 1898 dan berlanjut hingga 1916.

Mereka membuat kebijakan pemerintahan tidak langsung yang memperkuat hegemoni kelas penguasa Tutsi dan absolutisme monar kinya. Pende katan itu berlanjut di bawah Belgia, yang menguasai koloni setelah Perang Dunia I dan mengaturnya secara tidak langsung, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

photo

Muslim Rwanda

Beberapa Hutu mulai menuntut kesetaraan dan mendapatkan simpati pendeta Katolik Roma dan pemerintah Belgia, yang menyebabkan Revolusi Hutu. Gerakan itu dimulai dengan pemberontakan pada 1 November 1959, ketika desas-desus tentang kematian seorang pemimpin Hutu di tangan oknum Tutsi memimpin kelompok Hutu untuk melancarkan serangan terhadap Tutsi.

Masa-masa kekerasan terjadi. Banyak orang Tutsi terbunuh atau melarikan diri dari negara itu. Pihak Hutu mengudeta pemerintah pada 28 Januari 1961 dengan menggandeng Belgia. Raja Tutsi jatuh. Rwanda berubah menjadi republik. Rezim Hutu muncul. Kemerdekaan diproklamasikan setahun kemudian.

Transisi dari Tutsi ke pemerintahan Hutu tidak dilakukan secara damai. Dari tahun 1959 hingga 1961 sekitar 20 ribu orang Tutsi terbunuh dan banyak lagi yang melarikan diri dari negara itu. Pada awal 1964, setidaknya 150 ribu orang Tutsi ada di negara-negara tetangga.

Ketegangan dan kekerasan etnis terjadi dan menyebabkan pembunuhan massal Tutsi di Rwanda pada 1963, 1967, dan 1973.Ketegangan antara Hutu dan Tutsi terjadi lagi pada 1990, ketika gerilyawan Front Patriotique Rwandais (FGM) pimpinan Tutsi diserang dari Uganda.

photo

Sketsa dua wali kota Rwanda Tito Barahira (kiri) dan Octavien Ngenzi (kanan) saat menghadiri pengadilan mereka di Paris, Prancis. Keduanya dijatuhi penjara seumur hidup karena genosida.

 

Gencatan senjata dinegosiasikan pada awal 1991. Negosiasi antara FPR dan pemerintah presiden lama Juvenal Habyarimana dari Hutu dimulai pada 1992. Kesepakatan antara keduanya ditandatangani pada Agus tus 1993 di Arusha, Tanz, menyerukan terciptanya pemerintahan transisi yang akan mencakup FPR.

Ekstremis Hutu sangat menentang rencana itu. Agenda anti-Tutsi mereka, yang telah banyak disebarkan melalui surat kabar dan stasiun radio selama beberapa tahun meningkat dan kemudian memicu kekerasan etnis.

Genosida terjadi

Pada malam tanggal 6 April 1994, sebuah pesawat membawa politikus Rwan da Juvenal Habyarimana dan Presiden Burundi Cyprien Ntaryamira ditembak jatuh di atas Kigali. Ini bukan yang pertama.Setelah itu masih ada penembakan pesawat penumpang yang mengakibatkan semua penumpangnya tewas.

Meskipun identitas orang atau kelompok yang menembaki pesawat tidak pernah disebutkan secara pasti, ekstremis Hutu awalnya dianggap bertanggung jawab. Kemudian ada dugaan bahwa para pemimpin FPR bertanggung jawab.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Pemerintah Rwanda yang dipimpin FPR pada 2010 menunjukkan bahwa ekstremis Hutu bertanggung jawab atas insiden itu.Perdana Menteri Agathe Uwilingiyimana, seorang Hutu moderat, dibunuh pada hari berikutnya, begitu juga 10 tentara Belgia (bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB yang sudah ada di negara itu) yang mengawal dirinya.

Pembunuhan ini adalah bagian dari kampanye untuk melenyapkan politikus Hutu atau Tutsi yang moderat. Tujuannya untuk menciptakan kekosongan politik. Ada upaya untuk menghadirkan pemerintah sementara yang didominasi ekstremis Hutu bentukan Kolonel Theoneste Bagosora yang berperan mengatur genosida.

Pembicara Dewan Pembangunan Nasional (badan legislatif Rwanda pada saat itu), Theodore Sindikubwabo, menjadi presiden se mentara pada 8 April. Pemerintahan semen tara diresmikan pada 9 April. Beberapa bulan berikutnya terlihat gelombang anarki dan pembunuhan massal.

Tentara dan kelompok milisi Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe dan Impuzamugambi memainkan peran sentral. Siaran radio semakin memicu genosida dengan mendorong warga sipil Hutu membunuh tetangga Tutsi mereka. Diperkirakan sekitar 200 ribu Hutu berpartisipasi dalam genosida.

Upaya perdamaian

Karena ICTR, pengadilan nasional, dan pengadilan gacaca berusaha untuk membawa tersangka genosida ke pengadilan, pemerintah, untuk mengurangi kepadatan penjara, secara berkala memberikan amnesti massal kepada tahanan yang dituduh melakukan kejahatan yang lebih rendah.

Misalnya, pada Maret 2004, 30 ribu tahanan yang dituduh diberikan pengampunan dan dibebaskan setelah mereka mengakuinya, dan meminta maaf karena telah melakukan tindakan genosida. Dan pada Februari 2007, sekitar 8.000 tahanan dituduh melakukan kejahatan perang banyak dari mereka sakit atau orang tua dibebaskan.

Meskipun pemberontak Hutu terus menduduki pemerintah Rwanda, upaya rekonsiliasi terus dilakukan. Pemerintah mengumumkan rencana untuk mengubah beberapa simbol nasional, termasuk bendera dan lagu kebangsaan, yang secara luas dikaitkan dengan nasionalisme Hutu.

Konstitusi baru dibentuk pada 2003 dengan tujuan mencegah perselisihan etnis lebih lanjut di negara itu. Belakangan tahun itu diselenggerakan pemilihan demokratis multipartai pertama sejak kemerdekaan.

Kagame, yang naik ke kursi kepresidenan setelah Bizimungu mengundurkan diri pada 2000. Pada 2006, Pemerintah Rwanda melakukan reformasi pemerintahan untuk pembagian kekuasaan dan mengurangi konflik etnis. Peristiwa genosida kemudian selalu dikenang setiap tahun untuk mengingatkan negeri itu pernah mengalami masa kelam yang sangat menakutkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES