Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Islam di Rwanda: Derita dan Tangisan

Ahad 13 May 2018 16:12 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Muslim Rwanda

Muslim Rwanda

Foto: youtube.com
Serangan terhadap Muslim kerap terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam merupakan agama minoritas di Rwanda. Jumlah mereka hanya 4,6 persen dari total penduduk menurut sensus 2006. Hampir semua Muslim di Rwanda adalah Sunni. Ada beberapa pendapat mengenai waktu Islam masuk ke Rwanda.

Ada yang mengatakan risalah Ilahiyah itu mulai menyebar di sana pada abad ke- 18. Kesimpulan ini muncul berdasarkan pelacakan jalur perdagangan Muslim yang meliputi Pantai Timur Afrika pada abad ke- 18. Area itu menjadi sasaran pedagang Muslim yang berasal dari sejumlah daerah:Timur Tengah dan India.

Pendapat kedua mengatakan, bahwa Islam masuk ke Rwanda pada abad ke-20. Asso ciated Pressmemberitakan, dibandingkan dengan negara-negara Afrika Timur seperti Tanzania, Kenya, dan Uganda, sejarah Islam di Rwanda tergolong baru. Islam datang melalui pedagang Arab dari Zanzibar yang pertama kali memasuki negara itu pada tahun 1901.

Namun pendapat lain menyebutkan Islam tiba pada masa kolonial ketika juru tulis Muslim, asisten administrasi, dan pedagang dari pantai Tanganyika yang berbahasa Swahili dibawa ke negara itu. Islam juga didukung oleh para pedagang Muslim dari India, yang menikah dengan penduduk Rwanda setempat. Rwanda membangun masjid pertama mereka pada tahun 1913.Masjid ini bernama al-Fatah.

photo

Muslim Rwanda

Banyak upaya dilakukan untuk menghalangi penyebaran Islam di Rwanda. Dasarnya adalah sentimen anti-Arab. Ada juga pihak yang membenci Muslim dan menganggap mereka sebagai orang asing. Misionaris Katolik sering berusaha keras untuk melawan apa yang mereka anggap pengaruh agama saingan, seperti Islam dan Protestan.

Muslim semakin terpinggirkan oleh kenyataan bahwa sebagian besar mereka menetap di daerah perkotaan. Sedangkan 90 persen penduduknya tinggal di pedesaan.Baik pedagang Arab maupun India tidak pernah berusaha mengembangkan Islam.Semangat berkhutbah tak banyak dilakukan umat Islam.

photo

Muslim Rwanda

Tak banyak orang yang memeluk Islam.Sebagian besar di antara mereka adalah penduduk kota yang terpinggirkan. Mereka adalah perempuan yang dinikahi orang asing, anak-anak yang tidak sah, dan yatim piatu.Motivasi memeluk Islam adalah keinginan untuk mendapatkan keamanan sosial dan ekonomi, bukan panggilan hati.

Di bawah pemerintahan Belgia, kaum Muslim Rwanda terpinggirkan. Mereka tidak mendapatkan tempat di Gereja Katolik, yang mempertahankan pengaruh besar atas negara. Umat Islam sering dikucilkan dari pendidikan dan pekerjaan penting di pemerintahan. Pekerjaan Muslim sebagian besar terbatas pada perdagangan kecil dan sopir.

Setelah kemerdekaan

Pada tahun 1960, mantan menteri pemerintah Isidore Sebazungu memerintahkan pembakaran kavling muslim dan masjid di Rwamagana. Setelah peristiwa tersebut, umat Islam ketakutan. Banyak dari mereka melarikan diri ke negara-negara tetangga.Diduga bahwa Gereja Katolik terlibat dalam peristiwa ini, yang memperburuk hubungan antara Muslim dan Kristen.

Sebelum peristiwa Genosida Rwanda tahun 1994, umat Islam dianggap rendah, karena mereka dilihat sebagai pedagang.Sementara profesi yang mulia di sana adalah petani. Populasi Muslim sebelum genosida adalah empat persen lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

photo

Muslim Rwanda

Serangan terhadap Muslim kerap terjadi. Peristiwa yang tak terlupakan terjadi di masjid Nyamirambo, tempat ratusan orang Tutsi berkumpul untuk berlindung.Para pengungsi di masjid melawan milisi Hutu dengan batu, panah, dan melakukan perlawanan keras terhadap tentara dan milisi Interahamwe, organisasi paramiliter Hutu. Mereka memasuki masjid dan membunuh para pengungsi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES