Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Syam dan Pusat Peradaban Islam

Selasa 06 Feb 2018 19:45 WIB

Red: Agung Sasongko

Burung merpati terbang di Alun-Alun Marjeh di Damaskus, Suriah, Sabtu, 27 Februari 2016.

Burung merpati terbang di Alun-Alun Marjeh di Damaskus, Suriah, Sabtu, 27 Februari 2016.

Foto: AP Photo/Hassan Ammar
Pembukaan Islam di Suriah terjadi di sekitar 630-an Masehi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir genap dua tahun perang sipil di negara Suriah berlangsung. Militer dan oposisi terus saja berseteru, berperang, menumpahkan darah korban, termasuk wanita dan anak-anak tak berdosa. Salah satu negeri peradaban Islam tersebut kini dirundung ketakutan atas “reformasi” negara untuk menjatuhkan sang Presiden Bashar Al-Asad.

Jika ditelusuri jejak masa lalu, Suriah menjadi negara penting dalam perkembangan Islam. Suriah merupakan negeri pertama yang dibuka kaum Muslimin. Juga, menjadi  negeri pertama yang menerima Islam di luar Haramain Saudi. Selain itu, Suriah menjadi pusat pemerintahan Islam setelah Madinah. Suriah dikenal pula sebagai sang juru damai.

Pembukaan Islam di Suriah terjadi di sekitar 630-an Masehi. Namun sebenarnya, Rasulullah sudah beberapa kali berkunjung ke Suriah, bahkan sebelum diangkat Allah sebagai seorang Rasul. Suriah merupakan negeri perdagangan yang acap kali dikunjungi para pedagang Arab, termasuk Rasulullah.

Syam atau Bilad As-Syam, demikian nama negeri yang ramai menjadi perdagangan Arab tersebut. Suriah merupakan satu bagian dari Negeri Syam, selain Lebanon, Palestina, dan Yordania.

Nama Syam sendiri disebut-sebut mengacu pada salah satu nama putra Nuh yang selamat dari musibah banjir, Sam. Banyak nabi lahir di negeri ini. Dari Syam pula lahir bangsa Semit yang melahirkan agama Ibrahimiyyah, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tak seperti negeri Arab lain yang dikelilingi gurun pasir, tanah Syam jauh lebih subur dan banyak meninggalkan peradaban manusia.

Kontak pertama nabi dengan Syam terjadi saat Rasulullah masih berusia remaja. Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyyah menyebutkan, saat itu usia Nabi baru sekitar 12 tahun.  Dia turut serta dalam perjalanan dagang pamannya, Abu Thalib.

Pada perjalanan inilah terjadi sebuah pertemuan Nabi dengan rahib Nasrani yang mengenalinya sebagai bakal utusan Allah terakhir. Kisah pertemuan tersebut sangat terkenal, mengingat inilah kali pertama orang lain melihat sisi kenabian Muhammad meski dia baru diutus hampir 30 tahun setelahnya.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA