Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Mengenali Kesesatan Ahmadiyah

Kamis 03 Apr 2014 18:02 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Chairul Akhmad

Demonstrasi pembubaran Ahmadiyah (ilustrasi)

Demonstrasi pembubaran Ahmadiyah (ilustrasi)

Foto: Antara/Jafkhairi

Oleh: KH Athian Ali Dai

Semua ulama di dunia sepakat, Ahmadiyah adalah suatu kelompok di luar Islam. Keputusan ini semakin diperkuat dengan fatwa Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Muslim).

Setidaknya, ada dua hal yang membuat ajaran Ahmadiyah menyimpang dari akidah Islam. Pertama, kelompok ini meyakini adanya nabi setelah Muhammad SAW, yakni Mirza Ghulam Ahmad.

Padahal, Allah telah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir. Ada banyak dalil yang menegaskan hal ini. Salah satunya adalah Alquran surah al-Ahzab ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selanjutnya, Ahmadiyah juga mempunyai kitab suci selain Alquran yang disebut Tadzkirah. Padahal, Allah juga telah menyatakan, Islam adalah agama yang sempurna, sehingga tidak ada lagi kitab suci sesudah Alquran.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah: 3)

Berdasarkan dua catatan di atas, maka Ahmadiyah telah menyalahi hal-hal yang sangat prinsip dalam akidah Islam. Mereka sebenarnya telah memiliki agama baru, yakni agama Ahmadiyah.

Namun, yang membuat umat Muslim keberatan, termasuk di Indonesia, kelompok ini masih saja menggunakan atau membawa-bawa nama Islam dalam berbagai pergerakannya. Ini jelas sesat dan menyesatkan.

Bila ditelusuri dari fakta sejarahnya, kita bisa memahami bahwa agama Ahmadiyah memang sengaja diciptakan oleh imperialis Inggris untuk dijadikan sebagai alat pemecah belah umat Islam di India. Kepentingan kaum penjajah tersebut kala itu sudah jelas, yakni untuk meredam perlawanan pejuang Muslim dan melanggengkan kekuasaan mereka di anak benua Asia tersebut.

Sampai sekarang, kekuatan politik imperialis Inggris terus menjaga kelangsungan Ahmadiyah, sehingga ajaran sesat ini menyebar sampai ke Indonesia.

Beberapa tahun lalu, sempat ada desakan yang luar biasa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga umat Islam di Tanah Air, agar pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah.

Namun, saat itu pemerintah kita sepertinya kesulitan untuk mengambil sikap tegas. Belakangan, terungkap bahwa  ternyata ada kekuatan asing yang menginginkan Ahmadiyah tetap eksis di Indonesia.

Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Agama yang kini menjabat sebagai Wakil Menag mengatakan, ada empat negara yang saat itu sengaja mengintervensi pemerintah RI terkait masalah ini. Mereka tidak ingin Ahmadiyah di Indonesia dibubarkan. Di antara negara-negara itu adalah Inggris, AS, dan Kanada. Sementara, negara yang satunya lagi dia tidak ingat namanya.

Jadi, semakin jelas bahwa berbagai kelompok atau aliran sesat yang sampai hari ini masih eksis di Indonesia, bisa bertahan karena memang ada kekuatan politik yang mendukung mereka. Baik itu kekuatan politik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Apalagi jika penyokong kelompok-kelompok tersebut juga punya pengaruh besar di pentas dunia, maka itu akan semakin mempersulit pemerintah kita untuk mengambil sikap.

Melihat kondisi riil di atas, maka apa yang bisa dilakukan umat Islam agar tidak disesatkan oleh paham Ahmadiyah? Hal pertama tentu kita harus memperdalam ilmu-ilmu Islam untuk mempertebal akidah. Kedua, para ulama dan dai juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada umat tentang prinsip-prinsip ajaran Ahmadiyah yang menyimpang.

Ahmadiyah awalnya memang didirikan di India pada abad ke-19. Namun, keyakinan tersebut kini sudah merambah hingga ke berbagai penjuru dunia. Beberapa kalangan ada yang membagi kelompok menjadi dua aliran, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore.

Apa pun nama mereka, keduanya tetap sama-sama menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa yang turun di akhir zaman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA