Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Fadli Zon Luncurkan Buku Puisi Memeluk Waktu

Rabu 10 Mei 2017 12:55 WIB

Red: Maman Sudiaman

Fadli Zon dan puisinya.

Fadli Zon dan puisinya.

Foto: dok Humas DPR RI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- - Acara peluncuran buku puisi Memeluk Waktu karya Fadli Zon baru-baru ini di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, berjalan khidmat dan meriah. Hadir di acara ini, antara lain, Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI), Dedi Mizwar (Wagub Jabar), Neno Warisman, Rachel Maryam, Elly Kasim, Fryda Lucyana, Ridwan Saidi, dan para seniman, budayawan, serta penikmat puisi.

Memeluk Waktu adalah kumpulan delapan puisi pilihan yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, bahasa Mandarin, bahasa Rusia, bahasa Sunda, dan bahasa Jawa). Delapan puisi Fadli Zon ini dinyanyikan oleh Ari Malibu, seorang musisi yang dikenal sangat andal dalam musikalisasi puisi beberapa penyair.

"Kita berjalan atau berlari di lorong batas waktu yang tersedia, tak lebih dan tak kurang. Tumbuh dan menjadi tua adalah keniscayaan hidup. Kita ingin memeluk waktu agar tak terlalu cepat melaju, agar kita bisa menikmati keindahan, kebahagiaan, rindu, dan cinta," ungkap Fadli Zon dalam sambutannya.

Fadli Zon menyampaikan bahwa delapan puisi pendek yang tersaji dalam buku puisi lagu mininya, hanya sepenggal peristiwa atau bayangan yang berhasil terekam dalam kata-kata. Mendeskripsikan rasa dan jiwa dalam ruang dan dimensi yang berbeda-beda, adalah catatan memeluk waktu.

Dia menuturkan, menulis puisi sebagai usaha memeluk waktu. Ada keindahan yang sempurna, sedih yang menyayat hati atau rindu yang tertinggal. Orang sering berada di tengah-tengah peristiwa, tapi tak sempat memetik makna dari apa yang terjadi. Justru puisi yang membawa saya pada kesadaran menikmati hidup melewati waktu yang cepat berlalu itu.

Puisi, katanya, mencatat peristiwa, kejadian, bahkan yang tak terjadi termasuk mimpi. Tanpa puisi hidup terasa membosankan, sunyi dalam kesibukan. Puisi baginya adalah ruang berbagi sekaligus menepi dari segala peristiwa yang kerap datang dan pergi.

"Saya ingin memeluk waktu sebab kita terus dikejar. Bukankah kita tengah hidup dalam dunia di mana batas tak lagi mengenal tapal, rangkaian peristiwa yang berlalu-lalang dapat seketika mengejar lalu tertinggal. Saya percaya, puisi menjadi mesin pengingat dalam gegap gempita ini," ungkap Fadli Zon.

Peluncuran buku puisi ini juga menampilkan musikalisasi puisi yang dinyanyikan penampilan dari Maghfi, Audy dan Fryda. Fadli Zon menyampaikan bahwa Ari Malibu adalah seniman hebat yang akrab dengan puisi dan selalu berhasil memberi ruh bagi puisi menjadi nyanyian yang lebih enak dikunyah.

Jose Rizal Manua, penyair yang turut hadir dalam acara, turut memberikan komentar bahwa puisi menjadi penting untuk dihadirkan kembali ditengah situasi politik yang menyita banyak energi. "Fadli Zon yang sebagai politisi dan juga mencintai sastra harusnya menginspirasi politisi lainnya juga," ungkap Jose Rizal.

Pada sesi penutupan acara, Fadli Zon membacakan dua puisi berjudul "Memeluk Waktu" dan "Berhenti". Ia juga menyampaikan harapan, semoga buku puisi Memeluk Waktu dan nyanyian Ari Malibu ini bisa membuat kita singgah sebentar ke pinggir untuk sekedar menarik napas panjang untuk perjalanan berikutnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler