Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Merosotnya Daya Saing Indonesia Jadi Warning untuk Pemerintah

Selasa 04 Okt 2016 10:20 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Dwi Murdaningsih

Kampus harus memiliki daya saing global

Kampus harus memiliki daya saing global

Foto:

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi XI DPR Ecky Awal Mucharam menilai, terus merosotnya Daya Saing Indonesia dalam dua tahun terakhir, menjadi peringatan (warning) serius bagi pemerintah. Peringatan penurunan Daya Saing ini menunjukkan bahwa masih belum optimalnya kinerja Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

"Dengan daya saing yang semakin melemah, saya sangat khawatir, kita akan semakin tersudut dalam persaingan antar bangsa,” kata Ecky di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (3/10).

Diketahui, dalam Laporan Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Report) 2016-2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (WEF), Daya saing Indonesia dari 138 negara, merosot dari peringkat ke-37 di tahun 2015 menjadi peringkat ke-41 tahun 2016. Sementara, peringkat daya saing ekonomi Indonesia dalam Global Competitiveness Report 2015-2016 juga turun dari peringkat ke 34 menjadi peringkat 37 dari 140 negara.

Ecky menyebutkan, dalam dua tahun pemerintahan sekarang, Indonesia turun 7 peringkat, dari peringkat ke 34 menjadi peringkat ke 41. Padahal periode sebelumnya, Daya Saing Indonesia terus membaik dari peringkat ke 54 pada tahun 2009 menjadi peringkat ke-34 tahun 2014.

"Ini menjadi pekerjaan berat dan membutuhkan konsistensi kebijakan dan peningkatan kinerja pemerintah sebagai nahkoda bangsa,” kata dia.

Dalam Laporan WEF secara keseluruhan, skor Indonesia adalah 5,42. Kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar di Indonesia menurun drastis 20 level dibandingkan tahun lalu (2015) menjadi berada di posisi ke-100. Untuk efisiensi pasar tenaga kerja, Indonesia berada di peringkat ke-108.

Sementara, untuk pemanfaatan teknologi, peringkat Indonesia turun enam peringkat menjadi ke-91. Indonesia juga masih tertinggal dari beberapa negara Asia lainnya, seperti Malaysia (25), Korea Selatan (26), Cina (28), Jepang (8), dan Thailand (34).

Ecku mengatakan, hal tersebut harus dilihat bahwa daya saing ini sangat penting dalam percaturan antar bangsa. Kebijakan fiskal dan moneter saja tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, tetap harus dikombinasikan dengan reformasi daya saing agar kompetitif secara global.

Menurutnya, Pemerintah tidak boleh hanya inward looking (melihat ke dalam), tetapi juga harus outward looking (melihat ke luar) . "Daya saing sangat penting untuk dapat meraih pertumbuhan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan bangsa di tengah arus globalisasi ekonomi yang deras dan ketat,” kata dia.

Ecky menambahkan, dari data Studi Bank Dunia (2013), disebutkan bahwa daya saing produk ekspor Indonesia relatif tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lain, khususnya yang berkaitan dengan nilai tambah produk ekspor. Komposisi ekspor Indonesia terbesar masih didominasi komoditas (resource based) dan barang primer (primary product).

“Ini sangat mengkhawatirkan karena, dua dekade pasca reformasi proses industrialisasi dan hilirisasi tidak berjalan. Kita tertinggal jauh dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang sebagian besar ekspornya didominasi oleh produk-produk yang telah disentuh teknologi atau medium and high tech product,'' ucap Ecky.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA