Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Korban Meninggal Letusan Merapi Menjadi 81 Orang

Sabtu 06 November 2010 23:24 WIB

Red: Djibril Muhammad

Gunung Merapi

Gunung Merapi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Korban meninggal dunia akibat letusan awan panas vulkanik Gunung Merapi hingga Sabtu, pukul 11.55 WIB, yang berada di instalasi Forensik Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta bertambah lima orang, sehingga menjadi 81 orang.

Korban meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta bertambah lagi lima orang dari sebelumnya 76 orang sehingga menjadi 81 orang, sebanyak 11 korban di antaranya berhasil diidentifikasi.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RS Sardjito Yogyakarta Trisno Heru Nugroho mengatakan RS Sardjito Yogyakarta hingga kini merawat sebanyak 104 korban dari sebelumnya 111 korban luka bakar letusan awan panas vulkanik Gunung Merapi karena tujuh orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Menurut dia, kondisi 104 korban luka bakar akibat letusan awan panas Gunung Merapi hingga kini masih dirawat di berbagai ruang dan instalasi gawat darurat. Kekurangan alat bantu pernapasan di RS Sardjito Yogyakarta kini sudah teratasi sehingga bisa membantu kalangan penderita luka bakar tingkat berat dapat ditangani dengan baik.

"Sebanyak 75 persen korban menderita luka bakar, termasuk saluran pernapasan korban juga ikut terbakar. Mereka sulit bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernpasan," katanya.

Tim Dokter Disaster Victim Identification (DVI) memperkirakan jumlah korban akibat letusan Gunung Merapi masih bisa bertambah mengingat ada sebagian lokasi belum dijangkau tim SAR, TNI, Polri, dan relawan akibat lahar yang masih panas.

Korban meninggal dunia dan luka bakar berat merupakan warga Kecamatan Cangkringan yang letaknya 15 kilometer dari Gunung Merapi. Saat terjadi letusan pukul 00.40 WIB mereka masih tertidur nyenyak DVI meminta kalangan masyarakat yang mempunyai keluarga di Cangkringan agar datang ke RS Sardjito Yogyakarta untuk membantu mengidentifikasi korban dengan memberikan data-data sekunder karena jika tanpa ada data-data sekunder, maka tim forensik akan kesulitan mengetahui identitas korban.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA