Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

PKS Sudah Menuju Post- Islamis

Kamis 19 Mar 2009 05:55 WIB

Red:

JAKARTA -- Peneliti senior politik Indonesia dari Australian National University (ANU) Prof Dr Greg Fealy mengatakan PKS merupakan partai politik berideologi Islam yang merupakan fenomena baru dalam politik Islam di Indonesia.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Rabu (18/3), Greg Fealy mengatakan, dalam pemilu 2009, PKS merupakan partai politik punya mesin politik yang solid, demikian pula dengan pendanaan.

“Media iklan yang dilakukan PKS cukup efektif. Iklan politik PKS dengan berbagai model yang menawarkan melindungi semua kelompok sangat menarik,” ujarnya.

“Pertanyaannya sekarang, sebagai partai politik Islam apakah PKS masih merupakan partai yang islamis atau  post-islamis?” kata peneliti kajian Asia Tenggara ANU.

Menurut Greg, partai Islam yang terlalu keras menampilkan agenda-agenda Islam kerap dijauhi pemilih. “Tetapi partai Islam yang menampilkan nilai-nilai ibadah banyak didekati pemilih.”

Greg Fealy juga menegaskan, partai yang islamis penampilannya lebih ekslusif dan dari segi ideologi tidak mau bekerjasama dengan partai non muslim. “Partai politik Islam yang  post-islamis, partai ini tidak lagi menyebut atau menonjolkan syariat Islam tapi lebih mengangkat nilai-nilai islami dan bukan lagi bicara syariat formal,” katanya.

“Partai politik Islam  post-islamis keanggotaannya lebih terbuka, mereka bisa masuk dan bekerja dalam sistem yang ada,” tambahnya.

Menjawab pertanyaannya sendiri, Greg Fealy menjelaskan, saat ini untuk politik pragmatis PKS sudah masuk ke dalam partai politik Islam yang  post -islamis. “PKS itu bisa bergerak pada rentang partai politik yang islamis dan partai politik Islam post -islamis. Tidak lagi bergulat pada formalisasi syariat Islam.”

 

Greg juga mengatakan, PKS adalah partai kader. Satu-satunya parpol Islam yang memiliki sistem kaderisasi yang baik.

Secara umum Greg juga menyoroti, partai politik Islam yang ada saat ini tengah dilanda krisis kepemimpinan dan krisis kaderisasi. Namun ia percaya masa depan partai politik Islam sangat mungkin bisa bangkit kembali. “Saat ini periode transisi. Pemimpin parpol Islam adalah tokoh tua,” ujarnya seraya memberi contoh pada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Selama Gus Dur ada susah bagi Muhaimin untuk melakukan konsolidasi. Jika Gus Dur tidak ada di PKB ada beberapa skenario yang bisa dilakukan. PKB memang tidak bisa sebesar Partai Golkar,” tambahnya.

Menyangkut pemimpin partai politik Islam saat ini dan ke depan dibutuhkan tokoh Islam yang bisa memadukan ide atau nilai-nilai Islam dengan kesejahteraan atau ekonomi. “Maka partai Islam akan bisa bangkit,” ujarnya. -oed/ahi

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA