Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Hasil Studi: Lumpur Lapindo Terus Menyembur Hingga Tahun 2037

Jumat 25 Feb 2011 20:30 WIB

Red: Krisman Purwoko

REPUBLIKA.CO.ID,Berdasarkan studi yang dirilis di Journal Geological Society London, kawasan yang lebih sering disebut LUSI (singkatan dari  “Lumpur” dan “Sidoarjo”) kemungkinan akan menyemburkan lumpur abu sampai tahun 2037, akibat tekanan dari dalam bumi. Volume akan berkurang, tapi gas akan terus meresap selama puluhan tahun dan mungkin abad mendatang.

"Perkiraan kami adalah bahwa hal itu akan memakan waktu 26 tahun hingga letusan melemah ke tingkat yang dapat dikelola dan untuk Lusi untuk berubah menjadi gunung berapi yang bergolak pelan," demikian ketua tim Richard Davies, profesor ilmu bumi di Durham University Inggris.

Letusan Lusi di tahun 2006 menewaskan 13 orang.  Pada puncaknya, gunung berapi menyembur lumpur sebanyak 40 kolam renang ukuran Olimpiade per harinya. Danau lumpur mengepung 12 desa dengan kedalaman hingga 15 meter dan memaksa sekitar 42.000 orang meninggalkan rumah mereka. Menurut studi, orang tidak bisa kembali ke kawasan, ancaman gunung berapi mungkin akan meningkat.

Di tengah danau, atau gunung berapi, muncul bukaan yang lebarnya 50 meter, tetapi ada sejumlah retakan lainnya yang muncul selama 4 tahun terakhir. Bukaan-bukaan ini juga timbul di jalanan, rumah atau pabrik. Sejumlah retakan bahkan bisa membakar. Sudah ada laporan warga cedera akibat api.

Pemerintah Indonesia mengatakan sumber bencana adalah letusan akibat gempa bumi yang melanda beberapa hari sebelumnya, sekitar 280 km dari Lusi.

Namun para ahli asing menuduhperusahaan pengeboran gas Lapindo Brantas yang gagal  menempatkan pelindung di sekitar bagian sumur bor tersebut. Akibatnya, lubang sumur terkena dorongan air bertekanan dan gas yang terletak di bawah lapisan, sehingga mendesak cairan seperti beton ke permukaan.

sumber : RNW/AFP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA