Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Pemerintah tak Bisa Paksa WNI yang Bertahan di Libya

Rabu 02 Mar 2011 13:58 WIB

Red: Djibril Muhammad

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene (kiri)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene (kiri)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah tidak bisa memaksa Warga Negara Indonesia (WNI) yang menolak kembali ke tanah air dan lebih memilih bertahan di Tunisia setelah dievakuasi dari Libya. Juru Bicara Kepresidenan Teuku Faizasyah di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu, mengatakan pada akhirnya pemerintah harus mengikuti keyakinan para WNI yang memilih bertahan di Tunisia dan menyediakan akomodasi bagi mereka.

"Pemerintah tidak bisa memaksakan kepada mereka apa yang dianggap ideal oleh pemerintah. Tetapi paling tidak mereka beralih dari wilayah konflik ke wilayah lebih stabil," ujarnya.

Menurut Faizasyah, evakuasi WNI dari Libya ke Tunisia meski tidak sampai ke tanah air sudah merupakan wujud perlindungan kepada warga karena pemerintah tetap menyediakan fasilitas kehidupan sehari-hari bagi mereka. "Bila mereka meyakini cukup selamat tinggal di Tunisia, tentunya itu hasil pertimbangan dan evaluasi," ujarnya.

Menurut dia, evakuasi WNI dari Libya pada intinya memang lebih diarahkan ke Tunisia sebagai salah satu alternatif paling praktis karena pemulangan mereka ke tanah air tidak bisa cepat dilakukan. Kerjasama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan pemerintah Tunisia, kata Faiza, selama ini berjalan cukup baik.

Faizasyah menjelaskan daya tampung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunisia memang tidak terlalu besar namun para staf di sana sudah terlatih mengatasi keadaan darurat berkaitan dengan kondisi politik di Tunisia yang saat ini berada pada tahap transisi. "Saat ini kan masa transisi, semua serba dilakukan secara darurat. KBRI Tunisia kecil juga memang, sedangkan jumlah mahasiswa kita di sana cukup besar. Mereka juga mengalami masa transisi di Tunisia, setidaknya ada pengalaman bagaimana mengatasi kondisi darurat," tuturnya.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene mengatakan memang ada sejumlah mahasiswa Indonesia yang tidak ingin kembali ke tanah air dan lebih memilih menunggu di Tunisia. Evakuasi kloter pertama dari Tunisia, menurut Tene, akan tiba pada Rabu pukul 15.30 WIB di Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan pesawat komersil Emirates yang mengangkut 141 WNI dan pada pukul 21.30 WIB akan tiba lagi 50 WNI.

Sedangkan evakuasi tahap kedua telah diberangkatkan 215 WNI dari Tripoli, Libya, menuju Tunisia pada pukul 09.45 waktu Tripoli atau dini hari waktu Indonesia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA