Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Keluarga Gaddafi Angkat Kaki dari Libya

Senin 21 Feb 2011 11:49 WIB

Red: Djibril Muhammad

Presiden Libya Muammar Gaddafi

Presiden Libya Muammar Gaddafi

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI - Aksi unjuk rasa besar-besaran masih terus berlangsung di Libya. Para pengunjuk rasa terus menentang kepemimpinan Presiden Muammar Gaddafi. Suasana yang kian tidak menguntungkan tersebut memaksa keluarga Gaddafi meninggalkan negaranya alias menggungsi ke luar negeri pada Sabtu (19/2) sore kemarin.

Kendati demikian belum diketahui ke negara mana yang dituju keluarga Gaddafi. Demikian disampaikan berbagai laporan dari Tripoli, ibukota Libya.

Media-media Libya juga mengkonfirmasikan aksi pengunduran diri ramai-ramai para anggota Dewan Kepemimpinan Revolusi Libya pendukung Gaddafi, pada minggu pagi (20/2). Disebutkan pula bahwa pengunduran diri secara massal itu dilakukan sebagai protes terhadap aksi brutal aparat polisi dan militer Libya terhadap para

demonstran dalam beberapa hari terakhir. Kemarin (Sabtu, 20/2) korban serangan aparat terhadap para demonstran di berbagai kota meningkat hingga 46 orang. Di hari yang sama, para demonstran berhasil mengambil-alih kontrol kota El Bayda dari tangan aparat keamanan.

Sementara itu, menurut kelompok HAM yang memantau demonstrasi di Libya yang belum menginjak sepekan, namun korban tewas sudah menembus 100 orang. Total korban jiwa di Libya, menurut mereka, sudah mencapai 104 orang.

Ini mencakup 20 korban tewas terakhir, Sabtu lalu, saat militer Libya menembaki demonstran dengan sejata berat seperti senapan mesin, mortar, senjata berkalber besar, bahkan pelontar misil. Menurut kelompok HAM, estimasi korban ini termasuk yang konservatif. Kemungkinan korban jatuh lebih banyak sangat terbuka.

Ribuan orang berunjuk rasa di negara Kolonel Muammar Gaddafi ini sejak Rabu lalu. Libya sudah dipimpin Gaddafi sejak 42 tahun lalu. Demonstrasi di Libya merebak setelah melihat dampak demonstras di Tunisia dan Mesir. Di kedua negara itu, demonstran berhasil menjatuhkan pemerintahannya yang dipandang korup.

Sayangnya, laporan jumlah korban ini sukar diverifikasi. Pemerintah Libya menutup pintunya terhadap wartawan dari manapun juga. Salah satu kota yang paling sering dilanda demonstrasi adalah Benghazi, kota terbesar kedua di Libya.

sumber : IRIB/MZ
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA