Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Penambang Chili Ungkap Kisah Selama 69 Hari Terperangkap

Selasa 19 Oct 2010 05:27 WIB

Red: Budi Raharjo

Kondisi gua tempat penambang Chili terperangkap

Kondisi gua tempat penambang Chili terperangkap

Foto: EPA

REPUBLIKA.CO.ID, CHILI--Usai dikeluarkan dari perut bumi yang telah mengurungnya selama 69 hari, penambang Chili bernama Mario Sepulveda, memberikan oleh-oleh 'kenangan' dari dalam tambang berupa batu kepada tim yang telah menyelamatkan dirinya dan Presiden Chili.  Dia juga berteriak 'Viva Chili' saat mengungkapkan kegembiraannya karena selamat dari ancaman maut di kedalaman 600 meter di perut bumi.

Sehari sebelum meninggalkan rumah sakit yang merawatnya, operator alat berat berusia 40 tahun itu bercerita banyak kepada Daily Mail mengenai pengalamannya selama terperangkap dalam perut tambang, Ahad kemarin. Berkat kepandaiannya melucu, selama 17 hari pertama terperangkap dalam tambang yang runtuh itu, dia mampu menghibur teman-temannya yang merasa tersiksa dan mimpi buruk karena khawatir mati kelaparan.

Tambang di daerah gurun itu runtuh pada 5 Agustus 2010. Kabar bahwa 33 penambang itu ternyata masih selamat di dapat pada 22 Agustus 2010 ketika salah satu mata bor tim penyelamat berhasil mencapai lubang perlindungan. Para penambang menuliskan pesan yang diikatkan pada mata bor bahwa mereka masih hidup. Mario mengungkapkan, catatan itu dibuat saat semuanya sudah menyerah untuk bertahan hidup.

''Pada saat itu, kami tidak yakin apakah akan ada yang datang untuk menyelamatkan kami,'' ujarnya lirih dengan nada suara penuh emosi dan air mata menetes. ''Kami tidak mendengar apa-apa selama 15 hari, hingga akhirnya selama dua hari kami mendengar suara bor dari kejauhan. Tapi suara itu kemudian berhenti.''

Lantaran suara bor itu berhenti, Mario mengatakan, mereka merasa tim penyelamat telah menghentikan pencarian. Namun itu tak berlangsung lama, karena mereka kemudian mendengar lagi suara bor dan batu-batu kecil mulai berjatuhan dari atap gua. Mata bor pun akhirnya menembus dinding tempat penyelamatan. ''Kami mulai menari dalam kegembiraan. Karena selama 17 hari pertama, itu saat-saat seperti di dalam neraka.''

Selama 17 hari pertama itu, mereka hidup dalam kegelapan. Tak pernah mengetahui siang dan malam. Mario menangis ketika menceritakan kembali kisah luar biasa untuk bertahan hidup itu. Lorong di Tambang San Jose yang memproduksi emas dan tembaga ini dibuat zig-zag menurun ke perut bumi dengan puluhan lorong di dalamnya. Dari permukaan, untuk mencapai dasar tambang dibutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Pada saat tambang runtuh, Mario menceritakan,  penambang sedang berkumpul di sebuah gua yang tingginya sekitar 20 kaki untuk menanti kendaraan yang membawa ke atas untuk makan siang. Mungkin itu suatu kebetulan yang akhirnya bisa menyelamatkan mereka karena seandainya mereka terpencar-pencar saat kejadian mungkin mereka telah tewas.

Mario menyatakan, ''Saya masih memakai sumbat telinga karena baru saja mengendarai  truk excavator besar sehingga tidak mendengar suara gemuruh tambang yang runtuh. Tapi saya melihat debu dan puing-puing reruntuhan yang beterbangan. Seorang teman datang menerobos awan debu dan berteriak masuk ke gua, ada debu-debu tebal.''

Insting pertama Mario menghadapi situasi berbahaya itu adalah mencari jalan keluar. Beberapa penambang yang lebih muda berteriak histeris. ''Pikiran yang ada dalam otak saya, saya tidak ingin mati sebelum anak-anak menyelesaikan pendidikannya. Kedengarannya itu seperti pemikiran gila, tapi itu begitu penting bagi saya.''

''Saya tahu Katty (istrinya) akan baik-baik saja. Dia seorang wanita yang cantik sehingga bisa menemukan pria lain. Tapi bagaimana kalau pria itu tidak menyukai anak-anak saya? Saya tidak bisa membiarkan anak-anak merasa sedih.''

Mario lantas mulai berjalan mencari lorong keluar. ''Kondisinya gelap gulita, kecuali lampu pada helm saya. aya terus berjalan mencari jalan keluar. Saya mendapati reruntuhan dan tahu tidak ada jalan keluar yang bisa dilalui. Saya berjalan selama berjam-jam sehingga menemukan poros untuk ventilasi. Itu adalah poros yang seharusnya terdapat tangga di dalamnya, jadi saya mulai mendaki. Dinding poros itu terasa lembut dan batu-batu berjatuhan ke wajahku.''

''Batu-batuan itu menerpa gigi kirinya hingga goyang. Saya mengalami pendarahan dari giginya tapi terus ngotot mendaki untuk mencari jalan keluar.'' Tangga di poros itu terbuat dari kulit dan tali, yang digunakan sebagai pengganti logam karena tidak akan berkarat. Tapi Mario mengatakan, ''Itu mengerikan karena tangga itu belum pernah dicoba atau diperiksa.'' Namun dia tetap memanjat hingga setelah memanjat setinggi 150 kaki, tangga itu habis.

''Tangga itu mestinya tetap terjulur sepanjang poros. Saya coba tetap memanjat tanpa tangga, akibatnya dinding batu berjatuhan. Hingga akhirnya, saya melihat dua batu besar yang menutup poros tersebut. Dia pun merasa putus asa, kembali turun, dan memberitahu kepada yang lain kabar buruk itu.

Banyak ditulis bahwa Luis Irzua, Shift supervisor, yang merupakan penambang terakhir yang keluar dari perut bumi, sebagai sosok yang sangat mempengaruhi kebersamaan para penambang. Mario mengisahkan, ''Kami segera mengorganisir diri ke dalam beberapa kelompok untuk mencari jalan keluar, menjaga kebersihan gua tempat beristirahat, dan patroli untuk mencari tanda-tanda upaya penyelamatan dari luar.

''Luis adalah mandor sehingga ketika bekerja kita merujuk padanya. Tapi setelah waktu kerja berakhir dan kami sebanyak 33 penambang terjebak, kami berlatih demokrasi. Setiap orang memiliki suara dan jika 17 orang memilih satu cara, itu menjadi keputusan. Kami mencoba untuk tetap seperti biasa dan bersama-sama untuk berusaha keluar.''

''Jika seseorang merasa jatuh perasaannya, yang lain bersatu menghiburnya. Setiap hari, emosi penambang bergantian menjadi buruk. Setiap kali itu terjadi, kami bersama-sama mencoba menjaga moral. Kami yang lebih tua merawat penambang yang lebih muda. Kami sadar bila ada anggota yang bermasalah, kita semua akan hancur. Adalah penting untuk tetap menyibukkan diri dan percaya bahwa kita akan diselamatkan.

Udara di dalam gua itu sangat buruk, mata terasa perih sepanjang waktu. Kami semua batuk. Rasanya seperti berada di sauna kotor di mana udara penuh dengan uap kotor. Mereka hanya memiliki sedikit persediaan ikan tuna kaleng dan membatasi diri untuk memakannya hanya sebanyak setengah tutup botol setiap hari. Mereka memiliki persediaan air sebanyak dua drum yang mestinya digunakan untuk mengisi radiator alat berat. Air itu sudah tercemar minyak. ''Itu pertolongan Tuhan karena kami memiliki air. Rasanya busuk tapi tidak meracuni kita. Kami diizinkan untuk meminumnya beberapa teguk setiap hari.''

''Saya seorang humoris. Ketika semangat yang lain sedang jatuh, saya akan mengeluarkan lelucon. Saya tahu sangatlah penting untuk terus bercanda. Kalau saya tidak bergurau, itu sama saja membiarkan mereka patah semangat.''

Namun, Mario tak bisa setiap hari melucu. Terkadang dia kesulitan mencari bahan untuk dijadikan lelucon. Sebagai manusia biasa, dia juga sedih memikirkan hidupnya yang berada di jurang kematian. Tak jarang, dia pun menangis. ''Tapi saya akan turun, mencari tempat di terowongan, sehingga mereka tidak akan melihat saya menangis. Saya harus tetap kuat karena saya sudah dikenal sebagai seorang yang lucu. Saya harus menjaga reputasi itu demi menjaga semangat.''

Kondisi di dalam tambang sangat tidak manusiawi. Tanah selalu basah. Mario memperlihatkan kakinya yang masih berwarna coklat kemerahan. Dia bergurau dengan menyebut kakinya sebagai kaki atlet dari neraka.

Selain tanah yang selalu basah, udara di dalam tambang juga cukup panas sekitar 33 derajat celsius. Para penambang terpaksa melepas pakaiannya. ''Sangat lembab, anda tidak bisa bergerak tanpa berkeringat,'' ujar Mario. ''Udara begitu buruknya. Mata terasa pedih sepanjang waktu. Semua batuk. Kami tidur dengan alas dari kardus.''

Mereka juga menghadapi masalah kelaparan. Mario pernah berdinas di militer sehingga bisa mengabaikan rasa lapar itu. Dia tahu, air yang tersedia setidaknya dapat membantu bertahan hidup selama dua atau tiga pekan. ''Tapi hari terus berlalu, rasa percaya diri itu pun mulai meredup.''

''Kami berada di kegelapan. Panas itu menyiksa. Kita semua merasakan setan ada di sana bersama kami. Kami berdoa dan berdoa. Ini adalah lubang gelap hitam. Kami dikubur hidup-hidup. Kami semua sangat takut. Kami memohon Tuhan untuk membantu. Kami khawatir mati kelaparan atau air akan habis dan kami akan mati mengenaskan karena dehidrasi,'' tutur Mario.

Tak ada siang dan malam. Namun mereka memiliki jam tangan sehingga bisa tetap mengetahui waktu. Mereka tetap menjaga jadwal pembagian tugas dengan baik. Setiap penambang memiliki jadwal tidur.

Selama terjebak, Mario mengatakan, sama sekali mereka tak pernah berbicara tentang seks. ''Kami bercerita tentang istri-istri kami dan membuat beberapa lelucon, tapi kami tak pernah berbicara tentang seks karena akan terlalu menyakitkan.''

Namun Mario menyatakan, ada beberapa penambang yang menjadi begitu tertekan menghadapi situasi yang sangat sulit itu. Mereka menangis seperti bayi, meringkuk di tempat tidur darurat dan menolak untuk bangun.

Sesaat sebelum diselamatkan, para penambang itu rupanya membuat kesepakatan bersama untuk menutup rapat-rapat kisah mereka selama 17 hari pertama terperangkap yang disebut sebagai Pact of Silence (Pakta Diam). ''Saat itu, bayak hal buruk yang terjadi. Bila anda berada di situasi stress seperti itu, anda akan melakukan dan mengatakan hal-hal yang ekstrim. Kami membuat Pakta Diam untuk melindungi beberapa penambang yang lebih muda dan kurang pendidikan. Ini adalah pakta persaudaraan. Sebenarnya kami tidak akan mengungkapkan segala sesuatu yang terjadi selama 17 hari pertama terperangkap.''

Namun melalui wawancara ini, Mario merasa tidak mengkhianati kesepakatan itu. Menurutnya, kisah yang diungkapnya ini untuk menepis berbagai gosip miring mengenai para penambang selama terperangkap. Misalnya, gosip mengenai para penambang yang melakukan hubunga seks sejenis.

Pernahkan para penambang untuk berpikir melakukan kanibalisme untuk bertahan dari rasa lapar? Mario mengaku tak pernah terpikir sekejap pun. Mungkin saja yang lain pernah memikirkannya. Mungkin saya akan berpikir melakukan itu seandainya situasi menjadi sangat buruk. ''Kami semua menulis surat kepada keluarga masing-masing. Kami menulis catatan perpisahan,'' ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES