Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Pelaksanaan Ekonomi Syariah Dinilai Masih Batil

Ahad 09 May 2010 02:31 WIB

Rep: c13/ Red: irf

JAKARTA--Pelaksanaan ekonomi syariah di Indonesia dinilai masih kurang dari ideal. Ketua Umum Asosiasi Baitulmaal Waa Tanwil se Indonesia (Absindo), Aries Muftie mengatakan, masih terdapat unsur kebatilan dalam pelaksanaan syariah di Indonesia.

Dia mengatakan, indikasi masih adanya kebatilan tersebut dapat dilihat dari adanya tiga hal. Yaitu, masih adanya korupsi, kemiskinan, dan keterbelakangan. "Jika etika syariah, maka ekonomi syariah juga berjalan. Jika itu dijalankan secara benar, korupsi, kemiskinan, dan keterbelakangan tidak akan ada di Indonesia," tuturnya ketika ditemui di Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-5 di Jakarta, Sabtu (8/4).

"Walaupun ekonomi syariah berkembang pesat, tapi jika masih ada korupsi, keterbelakangan, dan kemiskinan, negara itu masih batil," ujarnya. Dia beralasan, jika etika syariah dijalankan, maka untuk penerapan ekonomi syariah, bukanlah langkah yang sulit.

Namun, dia juga berpendapat, hingga saat ini belum ada negara yang bisa dijadikan patokan untuk pemakaian prinsip syariah. "Memang kita tidak ada role model (syariah), tapi di zaman jahiliah, kita yang buat role model. Kalau kita ikut role model, berarti kita ikut (sistem lain)," ujar Aries.

Pada kesempatan yang sama, pengamat ekonomi ECONIT Hendri Saparini mengatakan, tingkat ketimpangan pendapatan penduduk di Indonesia masih tinggi. Pada tahun 2009, BPS merilis di Indonesia terdapat kurang lebih 32,53 juta rakyat miskin. Hal itu, lanjutnya, menunjukkan buruknya kondisi ekonomi di Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA