Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Sabtu, 23 Zulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Neraca Dagang Maret Diprediksi Kembali Surplus

Rabu 10 Apr 2019 18:58 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda

Neraca perdagangan Indonesia bulan lalu berada di teritori positif.

Neraca perdagangan Indonesia bulan lalu berada di teritori positif.

Foto: Bea Cukai
Posisi neraca perdagangan Indonesia bulan lalu berada di teritori positif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Seksi pada Direktorat Penerimaan dan Perencanaan Strategis Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Gatot Priyoharto, optimistis neraca perdagangan pada Maret dapat menunjukkan surplus. Sebab, menurut data Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), posisi neraca perdagangan bulan lalu berada di teritori positif.

Baca Juga

Kinerja tersebut melanjutkan tren positif pada Februari, meskipun neraca perdagangan masih berstatus defisit secara year to date (ytd). Menurut Gatot, prediksi surplus ini berdasar pada pola periode-periode sebelumnya. "Di mana, tren ekspor kuartal pertama selalu mencapai puncaknya di bulan Maret," katanya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (10/4).

Tapi, Gatot menambahkan muncul kekhawatiran terhadap kinerja ekspor nasional di tengah prediksi bahagia ini. Sebab, meski polanya masih relatif serupa di kuartal pertama, size ekspor pada Maret 2019 merupakan yang terendah selama tiga tahun terakhir. Apabila dilihat lebih dalam, pelemahan ekspor berasal dari sektor-sektor pendukung utamanya.

Gatot menyebutkan, sektor manufaktur yang merupakan kontributor terbesar sedang mengalami tekanan, sehingga tumbuh negatif. Banyak faktor yang mendasari kondisi ini. Di antaranya, harga komoditas masih lesu hingga kebijakan negara tujuan ekspor yang dianggap tidak adil terhadap Indonesia.

Kondisi tersebut berdampak negatif pada ekspor sektor pertanian, kehutanan dan pertambangan. Gatot menjelaskan, perusahaan tambang di Papua beralih dari tambang terbuka menjadi underground. "Ini menjadi salah satu penyebab sektor ini (tambang) mengalami tekanan terdalam dibanding dua sektor lainnya," ucapnya.

Tidak hanya internal, tantangan juga datang dari situasi ekonomi dunia. Baru-baru ini, IMF ini memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi dunia, dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen saja sepanjang 2019.

Negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia juga diprediksi melemah. Misalnya, Amerika Serikat yang semula memprediksi pertumbuhan ekonomi 2,5 persen menjadi 2,3 persen di tahun ini. Kondisi di pasar ekspor lain seperti Cina dan Jepang juga tidak lebih baik.

Gatot mengatakan, Indonesia juga tidak dapat lagi berharap pada Uni Eropa (UE) mengingat kondisinya yang sedang menghadapi kemungkinan perang dagang dengan AS. Kondisi ini harus dijalankan mereka di tengah pelemahan ekonomi Jerman, sang mesin utama UE.

Dengan kondisi yang ada, Gatot melihat, kinerja ekspor kemungkinan mengalami perlambatan pada April ini apabila dibanding secara month-to-month. Perubahan struktur ekonomi yang signifikan belum terlihat, sedangkan kebutuhan atas barang impor untuk memenuhi industri dan pasar dalam negeri masih tinggi.

"Akibatnya, neraca dagang bulan April diperkirakan akan (kembali) berada di posisi negatif," katanya.

Tapi, masih ada kabar gembira yang terselip. Misalnya, importasi bahan baku dan penolong yang masih mendominasi. Gatot menilai, hal ini cukup mengindikasikan bahwa industri masih menggeliat. Selanjutnya, pertumbuhan ini diharapkan mulai dapat mengisi kebutuhan barang konsumsi dalam negeri yang impornya mengalami tekanan terdalam.

Bahkan, Gatot menambahkan fasilitas importasi dengan tujuan ekspor tumbuh positif di tengah penurunan kinerja importasi. Indikasi ini membuka harapan bahwa ekspor Indonesia masih berpotensi untuk tumbuh, terutama di sektor manufaktur. 

Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa harapan Indonesia saat ini hanya pada kemampuan domestik yang sedang mengalami pergolakan ekonomi dan politik. Menurut Gatot, gelaran pemilihan umum yang tinggal hitungan hari jangan sampai menambah beban ekonomi hanya karena perbedaan pandangan politik.

"Tidak bermaksud memperburuk informasi, namun hanya sekedar mengingatkan bahwa kita masih punya potensi," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA