Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Gurita Cikeas Paling Dicari di Yogyakarta

Senin 28 Dec 2009 04:59 WIB

Red:

JAKARTA—Buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Century ternyata merupakan buku yang saat ini paling dicari di Yogyakarta. Salah satu jaringan toko buku besar di Kota Pelajar, Social Agency, melaporkan banyaknya pengunjung yang mencari buku karya Goerge Junus Aditjondro tersebut.

Ummi Tasriyatun, karyawan bagian administrasi Social Agency Ambarrukmo, mengungkapkan, dari lima cabang Social Agency yang ada di Yogyakarta, baru Social Agency Ambarrukmo yang menerima pasokan buku dari penerbit, PT Galangpress.

Menurut Ummi, Social Agency Ambarrukmo menerima pasokan buku sebanyak 15 buah tiga hari setelah penerbit dan penulis melakukan launching perdana di Kota Gudeg tersebut. “Setelah kita terima kemarin, tadi sudah langsung habis,” ujar Ummi kepada Republika, Ahad (27/12).

Dikatakan, sepanjang Ahad (27/12), banyak pengunjung yang mencari buku Gurita Cikeas dan berani membayar tanpa potongan harga (diskon). Jaringan Toko Buku Social Agency memang dikenal sebagai toko buku pemberi diskon yang cukup tinggi. Untuk buku-buku laris biasanya dibandrol dengan diskon antara 25 persen sampai 40 persen. Rata-rata pengunjung Social Agency adalah para pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen.

“Tapi karena memang sudah tidak ada, kita mana bisa jual,” kata Ummi seraya menambahkan empat toko buku Social Agency lainnya belum mendapatkan pasokan buku Gurita Cikeas. “Saya sudah kontak ke semua cabang, dimana-mana tidak ada,” sambung Ummi.

Komisaris CV Grafindo Litera Media, salah satu penerbit buku-buku popular di Yogyakarta, Elis Siti Julaikha, mengatakan, buku-buku kontroversial seperti Gurita Cikeas biasanya tidak mengandalkan pendistribusian melalui outlet-outlet buku resmi. “Mereka biasanya gunakan jejaring komunitas untuk menyebarkan dan menjual buku-buku seperti itu,” kata Elis.

Menurut Elis, penerbit biasanya memilih strategi penjualan ‘jalur khusus’ daripada memilih jalur konvensional seperti menitipkan di jejaring toko buku yang sudah ada. Setidaknya ada tiga alasan yang membuat penerbit lebih memilih penjualan buku dengan jalur khusus.

Pertama, jejaring toko buku memang menolak turut mendistribusikan lantaran risiko hukum yang akan dihadapinya. “Takut nanti kalau masuk buku terlarang malah kena getahnya.

Kedua, penerbit tak ingin mengalihkan keuntungan daya jual buku kepada jejaring toko buku yang biasanya meminta diskon teramat besar. “Kita sudah tahulah kalau masuk ke Gramedia atau Gunung Agung harus kasih diskon nggak wajar, bisa sampai 60 persen.”

Adapun alasan ketiga adalah strategi internal penerbit yang menunggu momentum terbaik untuk menjual buku tersebut. “Karena semakin kontroversial, orang semakin mencari. Nanti kalau kira-kira peminatnya sudah membludak, baru dilempar ke pasaran agar laku keras dengan harga cukup tinggi,” papar Elis.

Dia mencontohkan, di awal-awal era reformasi silam, banyak situasi serupa seperti yang kini dialami buku Gurita Cikeas. Misalnya saja buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang dilarang peredarannya oleh Kejaksaan Agung.

“Dilarang tapi bukan berarti tidak ada. Buku-buku Pramoedya dijual melalui ‘jalur khusus’ dengan memanfaatkan komunitas-komunitas ilmiah seperti kelompok pelajar-mahasiswa dan kelompok studi,” tandas Elis. eh ismail/pur

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA