Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Pertemuan COP 15 Gagal

Ahad 20 Dec 2009 17:03 WIB

Red:

KOPENHAGEN--Pertemuan COP 15 gagal menghasilkan konsensus. ''Gagal, 97 persen gagal. Hanya keajaiban yang bisa mengubahnya,'' kata Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal kepada wartawan dalam pesawat kepresidenan, sesaat sebelum tinggal landas dari Kopenhagen, Sabtu (19) siang waktu setempat.

Sidang pleno yang digelar sejak Sabtu pagi gagal mengadopsi draf kesepakatan yang dibawa oleh kelompok 26 negara. Kelompok ini di dalamnya termasuk AS, India, Cina, Afsel, Brasil, serta Indonesia. Penentangan berasal dari beberapa negara seperti Sudan, Venezuela, dan Bolivia.

Sebelumnya, Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam pernyataannya mengatakan, pertemuan iklim PBB terhindar dari gagal total setelah ada penentangan keras dari sejumlah negara terhadap kesepakatan dukungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan lima negara ekonomi berkembang termasuk China.

"Akhirnya kami mensahkan sebuah kesepakatan. Copenhagen Accord (Traktat Kopenhagen) mungkin bukan hal yang diharapkan semua orang, namun keputusan ini adalah sebuah awal yang penting," kata Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon.

Namun keputusan yang dihasilkan dari pembicaraan maraton 193 negara tersebut mesti mencantumkan satu catatan untuk traktat baru berupa kesepakatan untuk memerangi pemanasan global pimpinan Amerika Serikat, China, India, Brazil dan Afrika Selatan itu.

Ke-193 negara segera mencabut dukungan penuhnya terhadap rancangan yang menyebutkan target batas pemanasan global maksimum 2 derajat Celcius dari era praindustri dan mencakupkan prospek bantuan tahunan 100 miliar dolar AS untuk negara berkembang mulai sampai 2020 tersebut.

Rancangan itu tidak menyebutkan secara khusus penurunan gas rumah kaca yang diperlukan untuk mencapai sasaran 2 derajat Celcius yang dipandang sebagai ambang batas bagi perubahan-perubahan membahayakan seperti banjir, kekeringan, longsor, badai gurun dan naiknya permukaan laut.

Kecam Rancangan AS

Dalam satu sesi pembicaraan tegang di larut malam, negosiasi berada di ujung tanduk ketika Sudan, Nicaragua, Kuba, Venezuela dan Bolivia bergiliran mengecam rancangan pimpinan AS itu setelah sekitar 120 pemimpin dunia meninggalkan perhelatan usai pertemuan puncak hari Jumat kemarin.

Pertemuan yang disponsori PBB itu tadinya ingin menyepakati (kesepakatan iklim) secara bulat. Namun, di bawah kompromi untuk menghindarkan kegagalan, kesepakatan itu mesti memuatkan daftar negara yang mendukung kesepakatan dan negara yang menentangnya.

Hasil kesepakatan itu bisa menghasilkan prakarsa penciptaan kebijakan iklim dunia terhadap Amerika Serikat dan China yang merupakan dua penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dunia, dan menggarisbawahi kekurangan-kekurangan dalam proses negosiasi kacau balau yang disponsori PBB itu.

Satu rapat pleno semalaman yang diketuai Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen, sempat menabrak titik terjal manakala delegasi Sudan menyebut rancangan kesepakatan iklim itu akan membuat Afrika mengalami holocaust (pembasmian etnis).

Tercela

"Dokumen ini adalah solusi yang didasarkan pada norma-norma yang sama, dalam pandangan kami, kesepakatan itu mengantarkan enam juta orang di Eropa ke dalam tungku api," kata ketua delegasi Sudan, Lumumba Stanislaus Di-aping.

"Rujukan kepada holocaust adalah, dalam konteks ini, benar-benar tercela," balas Anders Turesson, kepala juru runding Swedia.

Negara-negara lainnya termasuk Uni Eropa, Jepang, perwakilan Uni Afrika dan Aliansi Negara-negara Kepulauan Kecil (AOSIS) mendesak semua delegasi untuk mengadopsi rancangan kesepakatan itu sebagai cetak biru PBB untuk aksi memerangi perubahan iklim.

"Kita menghadapi bahaya nyata bahwa pembicaran (iklim yang disponsori PBB) akan bernasib sama dengan pembicaraan (perdagangan bebas) WTO dan perundingan-perundingan multilateral lainnya," kata Presiden Mohamed Nasheed, yang mendesak para delegasi untuk mendukung rancangan kesepakatan untuk mencegah proses itu terbengkalai.

Banyak negara menyebut kesepakatan yang dicapai jauh lebih rendah dibandingkan ambisi PBB di pertemuan Kopenhagen itu, yang ingin kesepakatan itu menjadi titik balik untuk memaksa ekonomi dunia memalingkan perhatian pada sumber-sumber energi terbarukan seperti hidro (air), panas matahari, angin, dan menjauhkan diri dari energi fosil.

Sebelum meninggalkan arena pembicaraan, Obama menyatakan kesepakatan iklim itu adalah titik awal.

"Kemajuan ini tidak tercipta dengan mudah dan kita tahu program ini sendiri tidaklah cukup. Kita telah mencapai banyak kemajuan tetapi kita mesti melangkah lebih jauh lagi," kata Obama usai berunding dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao dan para pemimpin India, Afrika Selatan dan Brazil.

"Pertemuan telah menciptakan hasil yang positif, semua orang seharusnya senang," kata Xie Zhenhua, Kepala Delegasi Iklim China.

China selama ini menentang pengawasan internasional atas upaya menurunkan emisinya, namun naskah final kesepakatan mempertimbangkan kekhawatiran China itu dengan menyebutkan pentingnya melindungi kedaulatan nasional.

Sementara itu, negara-negara Eropa hangat-hangat kuku dalam menyikapi kesepakatan yang menanggalkan sejumlah sasaran yang sebelumnya dicantumkan dalam naskah rancangan, seperti target penurunan emisi gas rumah kaca sampai 2050.

Kebanyakan negara Eropa menginginkan Obama menawarkan penurunan emisi gas rumah kaca AS sampai 2020 yang lebih dalam. Namun Obama tidak mampu melakukan itu, sebagian karena legislasi kebijakan pengurangan emisi karbon terhambat oleh Senat AS. arp/ant/reuters/ahi

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA